Recurring Revenue vs Subscription Revenue: Apa Perbedaannya?
Iklans – #Recurring Revenue vs #Subscription Revenue: #Apa Perbedaannya? – Dalam menjalankan #bisnis, mendapatkan pendapatan secara konsisten merupakan salah satu hal yang penting. Bisnis tidak hanya perlu meningkatkan penjualan, tetapi juga perlu membangun sumber pendapatan yang dapat terus diperoleh dalam periode tertentu.
Dua istilah yang sering digunakan dalam pembahasan model pendapatan adalah recurring revenue dan subscription revenue. Keduanya sama-sama berkaitan dengan pendapatan yang diperoleh secara berulang, tetapi memiliki cakupan dan karakteristik yang berbeda.
Baca Juga: Apa Itu Subscription Revenue dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Memahami perbedaan keduanya dapat membantu pemilik bisnis menentukan model pendapatan yang sesuai sekaligus memahami bagaimana pendapatan perusahaan terbentuk.

Apa Itu Recurring Revenue?
Recurring revenue adalah pendapatan yang diperoleh bisnis secara berulang dari pelanggan dalam periode tertentu. Pendapatan ini biasanya dapat diperkirakan karena pelanggan melakukan pembayaran secara berkala berdasarkan perjanjian atau penggunaan layanan.
Recurring revenue tidak terbatas pada satu jenis model bisnis. Pendapatan berulang dapat berasal dari berbagai sumber, seperti:
- Layanan berlangganan
- Kontrak pemeliharaan
- Biaya dukungan teknis
- Lisensi
- Membership
- Layanan hosting
- Kontrak layanan jangka panjang
Sebagai contoh, sebuah perusahaan menawarkan layanan pemeliharaan website dengan biaya Rp500.000 per bulan. Selama pelanggan masih menggunakan layanan tersebut, perusahaan memperoleh pendapatan secara rutin.
Pendapatan tersebut termasuk recurring revenue.
Apa Itu Subscription Revenue?
Subscription revenue adalah pendapatan yang diperoleh bisnis melalui model berlangganan. Pelanggan membayar biaya tertentu secara berkala untuk mendapatkan akses terhadap produk atau layanan.
Pembayaran dapat dilakukan setiap bulan, setiap tahun, atau berdasarkan periode lainnya.
Contohnya adalah platform streaming yang mengenakan biaya Rp50.000 per bulan kepada pengguna. Selama pengguna tetap berlangganan, perusahaan memperoleh pendapatan dari pelanggan tersebut setiap bulan.
Model seperti ini disebut subscription revenue.
Recurring Revenue vs Subscription Revenue
Meskipun sering digunakan secara bergantian, recurring revenue dan subscription revenue sebenarnya memiliki perbedaan.
Recurring revenue merupakan istilah yang lebih luas. Pendapatan berulang dapat berasal dari berbagai bentuk kontrak atau layanan yang menghasilkan pembayaran secara berkala.
Sementara itu, subscription revenue secara khusus berasal dari model berlangganan, di mana pelanggan membayar secara berkala untuk mempertahankan akses terhadap produk atau layanan.
Sederhananya:
Subscription revenue merupakan salah satu bentuk recurring revenue.
Jadi, semua subscription revenue dapat dikategorikan sebagai recurring revenue, tetapi tidak semua recurring revenue berasal dari subscription.
Contoh Recurring Revenue dan Subscription Revenue
Perbedaan tersebut akan lebih mudah dipahami melalui beberapa contoh.
1. Software Berlangganan
Sebuah perusahaan menyediakan software dengan biaya Rp100.000 per bulan.
Pelanggan harus membayar setiap bulan untuk terus menggunakan software tersebut.
Pendapatan ini termasuk subscription revenue sekaligus recurring revenue.
2. Layanan Pemeliharaan Website
Sebuah perusahaan menawarkan jasa pemeliharaan website dengan kontrak selama satu tahun. Klien membayar biaya layanan setiap bulan.
Pendapatan tersebut termasuk recurring revenue karena perusahaan memperoleh pembayaran secara berulang.
Namun, model tersebut tidak harus disebut subscription revenue karena bentuk transaksinya adalah kontrak layanan pemeliharaan.
3. Membership
Sebuah komunitas bisnis mengenakan biaya keanggotaan sebesar Rp75.000 per bulan.
Selama anggota mempertahankan keanggotaannya, bisnis memperoleh pembayaran secara rutin.
Model ini dapat dikategorikan sebagai subscription revenue dan juga recurring revenue.
Baca Juga: Mengapa Unit Economics Penting Sebelum Bisnis Melakukan Ekspansi?
Mengapa Recurring Revenue Penting bagi Bisnis?
Pendapatan berulang memiliki sejumlah manfaat bagi bisnis, terutama karena dapat membuat pemasukan lebih mudah diperkirakan.
1. Membantu Perencanaan Keuangan
Bisnis dapat menggunakan perkiraan recurring revenue untuk menyusun anggaran dan merencanakan pengeluaran.
Misalnya, perusahaan dapat memperkirakan berapa dana yang tersedia untuk operasional, pemasaran, pengembangan produk, dan kebutuhan lainnya.
2. Meningkatkan Prediktabilitas Pendapatan
Pendapatan berulang memberikan gambaran mengenai potensi pemasukan pada periode berikutnya.
Hal ini berbeda dengan bisnis yang hanya mengandalkan transaksi satu kali karena jumlah penjualan pada bulan berikutnya belum tentu sama.
3. Meningkatkan Nilai Pelanggan
Pelanggan yang terus menggunakan layanan dapat memberikan pendapatan berkali-kali selama hubungan bisnis berlangsung.
Karena itu, bisnis dengan model recurring revenue perlu memperhatikan customer lifetime value (CLV) atau nilai total yang dapat diberikan pelanggan selama menggunakan produk atau layanan.
4. Mendorong Pertumbuhan Bisnis
Pendapatan yang diperoleh secara rutin dapat memberikan sumber dana yang lebih konsisten untuk mengembangkan bisnis.
Perusahaan dapat menggunakan pendapatan tersebut untuk meningkatkan produk, memperluas pemasaran, meningkatkan layanan pelanggan, atau memasuki pasar baru.
Keuntungan Subscription Revenue
Model subscription juga menawarkan beberapa keuntungan yang menarik bagi bisnis.
Hubungan dengan Pelanggan Lebih Panjang
Model subscription mendorong pelanggan untuk tetap berhubungan dengan bisnis selama mereka masih membutuhkan produk atau layanan.
Hal ini menciptakan peluang bagi perusahaan untuk membangun hubungan pelanggan dalam jangka panjang.
Pendapatan Lebih Mudah Diproyeksikan
Jika jumlah pelanggan dan harga langganan relatif stabil, perusahaan dapat memperkirakan pendapatan yang akan diterima pada periode berikutnya.
Misalnya, sebuah layanan memiliki 1.000 pelanggan dengan biaya langganan Rp100.000 per bulan.
Secara sederhana, potensi pendapatan berulang bulanannya adalah:
1.000 × Rp100.000 = Rp100.000.000
Angka tersebut belum memperhitungkan pelanggan yang berhenti berlangganan, perubahan paket, diskon, dan faktor lainnya. Namun, data tersebut dapat menjadi dasar untuk membuat proyeksi pendapatan.
Mendorong Retensi Pelanggan
Subscription membuat perusahaan tidak hanya fokus mendapatkan pelanggan baru, tetapi juga mempertahankan pelanggan yang sudah ada.
Hal ini membuat customer retention menjadi bagian penting dalam strategi bisnis.
Tantangan Recurring Revenue dan Subscription Revenue
Meskipun memiliki banyak keuntungan, pendapatan berulang juga memiliki tantangan.
Salah satu yang paling penting adalah churn rate.
Churn terjadi ketika pelanggan berhenti menggunakan layanan atau membatalkan langganan. Jika jumlah pelanggan yang berhenti terlalu tinggi, recurring revenue perusahaan dapat mengalami penurunan.
Misalnya, perusahaan memiliki 10.000 pelanggan. Jika banyak pelanggan berhenti setiap bulan, perusahaan harus terus mendapatkan pelanggan baru hanya untuk mempertahankan tingkat pendapatan sebelumnya.
Karena itu, bisnis perlu memperhatikan beberapa hal, seperti:
- Kualitas produk atau layanan
- Harga yang sesuai dengan nilai yang diberikan
- Pengalaman pelanggan
- Layanan pelanggan
- Tingkat kepuasan pelanggan
- Churn rate
- Customer retention
- Customer acquisition cost
Pendapatan berulang tidak akan memberikan hasil maksimal jika pelanggan tidak memiliki alasan untuk terus menggunakan layanan.
Metrik yang Perlu Diperhatikan
Bisnis dengan recurring revenue atau subscription revenue biasanya perlu memantau beberapa metrik penting.
Monthly Recurring Revenue (MRR)
MRR menunjukkan perkiraan pendapatan berulang yang diperoleh bisnis dalam satu bulan.
Metrik ini berguna untuk melihat perkembangan pendapatan berulang dari waktu ke waktu.
Annual Recurring Revenue (ARR)
ARR merupakan gambaran pendapatan berulang dalam periode satu tahun.
ARR dapat membantu perusahaan melihat potensi pendapatan tahunan berdasarkan basis pelanggan yang dimiliki.
Churn Rate
Churn rate menunjukkan persentase pelanggan yang berhenti menggunakan layanan dalam periode tertentu.
Semakin tinggi churn, semakin besar tantangan perusahaan dalam mempertahankan recurring revenue.
Customer Lifetime Value (CLV)
CLV digunakan untuk memperkirakan nilai yang dapat diberikan seorang pelanggan selama hubungan mereka dengan bisnis.
Metrik ini penting karena pelanggan yang bertahan lebih lama berpotensi memberikan nilai yang lebih besar.
Mana yang Lebih Baik?
Tidak ada satu model yang selalu lebih baik untuk semua bisnis.
Subscription revenue cocok untuk produk atau layanan yang memang dapat digunakan secara terus-menerus dan memiliki alasan kuat bagi pelanggan untuk membayar secara berkala.
Contohnya adalah software, layanan streaming, platform edukasi, aplikasi digital, dan membership.
Sementara itu, recurring revenue memiliki cakupan lebih luas sehingga dapat diterapkan pada berbagai model bisnis yang menghasilkan pendapatan secara rutin.
Hal yang paling penting adalah memastikan pelanggan mendapatkan nilai yang sebanding atau lebih besar dari biaya yang mereka keluarkan.
Baca Juga: Transactional vs Recurring Revenue: Mana yang Lebih Stabil?
Kesimpulan
Recurring revenue dan subscription revenue sama-sama berkaitan dengan pendapatan berulang, tetapi keduanya tidak memiliki arti yang sama.
Recurring revenue merupakan istilah yang lebih luas untuk menggambarkan pendapatan yang diperoleh secara rutin. Sementara itu, subscription revenue merupakan pendapatan yang berasal dari model berlangganan.
Dengan demikian, subscription revenue merupakan salah satu bentuk recurring revenue.
Model pendapatan berulang dapat memberikan bisnis pendapatan yang lebih mudah diproyeksikan, membantu perencanaan keuangan, dan menciptakan hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Namun, bisnis tetap perlu memperhatikan churn rate, customer retention, customer lifetime value, serta biaya mendapatkan pelanggan baru.
Pada akhirnya, keberhasilan model recurring revenue maupun subscription revenue tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering pelanggan membayar, tetapi juga oleh kemampuan bisnis dalam memberikan nilai sehingga pelanggan memiliki alasan untuk terus bertahan.
