Iklans

29 Agu
Tips dan Trik
views
0 Comments

Teknik Membuat Copy Iklan dengan Konsep Before–After–Bridge

#Iklans – Teknik Membuat #Copy Iklan dengan Konsep #Before–After–Bridge – Dalam dunia #periklanan, membuat #iklan yang menarik perhatian tidak cukup hanya dengan menggunakan visual yang bagus. Pesan yang disampaikan melalui kata-kata juga memiliki peran penting dalam menentukan apakah calon pelanggan akan tertarik untuk membaca, mempertimbangkan, hingga melakukan tindakan.

Salah satu formula copywriting yang dapat digunakan untuk membuat pesan iklan lebih terstruktur adalah Before–After–Bridge (BAB). Formula ini membantu pengiklan menyusun copy berdasarkan tiga tahapan, yaitu menggambarkan kondisi sebelum menggunakan solusi, menunjukkan kondisi yang diinginkan setelah masalah teratasi, dan menjelaskan produk atau layanan sebagai jembatan menuju kondisi tersebut.

Baca Juga: Cara Menggunakan Benefit Ladder untuk Menulis Copy yang Lebih Menjual

Teknik ini cukup fleksibel dan dapat digunakan untuk berbagai jenis iklan, seperti produk fisik, jasa, kursus, aplikasi, layanan profesional, hingga kampanye pemasaran digital.

Teknik Membuat Copy Iklan dengan Konsep Before–After–Bridge

Mengenal Konsep Before–After–Bridge

Before–After–Bridge merupakan formula copywriting yang membagi pesan iklan menjadi tiga bagian utama.

  • Before: menggambarkan masalah atau kondisi yang sedang dialami target audiens.
  • After: menggambarkan kondisi atau hasil yang diinginkan setelah masalah tersebut teratasi.
  • Bridge: menjelaskan solusi yang dapat membantu audiens berpindah dari kondisi Before menuju kondisi After.

Secara sederhana, formula ini dapat dirangkum menjadi:

Masalah → Hasil yang Diinginkan → Solusi

Contohnya:

“Masih kesulitan mengatur stok barang karena pencatatan dilakukan secara manual? Bayangkan jika jumlah stok dapat dipantau dengan lebih mudah tanpa harus memeriksa catatan satu per satu. Gunakan aplikasi manajemen stok untuk membantu mencatat dan memantau persediaan dalam satu sistem.”

Pada contoh tersebut, masalah ditampilkan pada bagian Before, kondisi yang diinginkan terdapat pada bagian After, sedangkan aplikasi menjadi Bridge atau solusi.

1. Before: Tunjukkan Masalah yang Dialami Audiens

Tahap pertama adalah Before, yaitu menggambarkan kondisi target audiens sebelum menggunakan produk atau layanan.

Tujuan bagian ini adalah membuat calon pelanggan merasa bahwa iklan tersebut memahami masalah yang mereka hadapi.

Misalnya, sebuah bisnis menawarkan aplikasi kasir. Daripada langsung mengatakan:

“Aplikasi kasir dengan berbagai fitur lengkap.”

Copy dapat dimulai dengan:

“Masih mencatat transaksi toko secara manual dan kesulitan mengetahui omzet setiap hari?”

Kalimat tersebut lebih berfokus pada masalah pelanggan. Orang yang mengalami kondisi tersebut akan lebih mudah merasa bahwa iklan tersebut relevan dengan kebutuhannya.

Untuk membuat bagian Before yang kuat, cari tahu:

  • Masalah apa yang sering dialami target pelanggan?
  • Apa yang membuat mereka kesulitan?
  • Apa yang menghabiskan waktu mereka?
  • Apa yang membuat mereka tidak mendapatkan hasil yang diharapkan?
  • Solusi apa yang sudah pernah mereka coba?
  • Apa kekhawatiran utama mereka?

Semakin relevan masalah yang diangkat, semakin besar kemungkinan audiens memperhatikan iklan.

Hindari Masalah yang Terlalu Umum

Before sebaiknya tidak menggunakan masalah yang terlalu luas.

Contohnya:

“Bisnis Anda sedang mengalami masalah?”

Kalimat tersebut tidak memberikan gambaran yang jelas.

Bandingkan dengan:

“Sudah menjalankan iklan tetapi banyak orang hanya melihat tanpa menghubungi bisnis Anda?”

Kalimat kedua lebih spesifik dan langsung mengarah pada permasalahan tertentu.

2. After: Tunjukkan Kondisi yang Diinginkan

Setelah menunjukkan masalah, tahap berikutnya adalah menggambarkan kondisi yang ingin dicapai oleh audiens.

Inilah bagian After.

Pada bagian ini, jangan hanya menjelaskan fitur produk. Fokuslah pada perubahan atau manfaat yang dapat dirasakan pelanggan.

Contohnya, daripada mengatakan:

“Aplikasi memiliki fitur laporan penjualan.”

Lebih menarik jika ditulis:

“Pantau omzet dan produk terlaris tanpa harus menghitung laporan secara manual.”

Kalimat kedua tidak hanya menjelaskan fitur, tetapi menunjukkan manfaat yang lebih mudah dipahami oleh calon pengguna.

Untuk menemukan ide bagian After, gunakan pertanyaan:

“Jika masalah pelanggan berhasil diatasi, kondisi seperti apa yang mereka inginkan?”

Contohnya:

  • Dari pencatatan manual menjadi lebih terorganisir.
  • Dari kesulitan mengelola stok menjadi lebih mudah memantau persediaan.
  • Dari bingung membuat konten menjadi memiliki rencana konten yang jelas.
  • Dari kesulitan mendapatkan pelanggan menjadi memiliki lebih banyak calon pelanggan.
  • Dari proses pekerjaan yang panjang menjadi lebih sederhana dan efisien.

Gambaran After harus tetap realistis. Jangan membuat janji yang tidak dapat dibuktikan hanya untuk membuat iklan terlihat menarik.

Baca Juga: Apa yang Bisa Dipelajari UMKM dari Strategi Brand Global?

3. Bridge: Tawarkan Solusi yang Relevan

Tahap ketiga adalah Bridge, yaitu jembatan yang menghubungkan kondisi Before dengan After.

Pada tahap ini, produk atau layanan diperkenalkan sebagai solusi yang dapat membantu pelanggan mengatasi masalahnya.

Contohnya:

Before:

“Kesulitan membuat konten promosi secara rutin?”

After:

“Bayangkan jika Anda memiliki jadwal dan ide konten yang lebih teratur sehingga tidak perlu bingung setiap hari.”

Bridge:

“Gunakan content planner yang membantu menyusun ide, jadwal, dan target konten dalam satu tempat.”

Bridge menjadi bagian penting karena menjelaskan hubungan antara masalah dan solusi.

Jangan hanya menulis:

“Gunakan produk kami sekarang.”

Berikan alasan mengapa produk tersebut dapat membantu.

Misalnya:

“Dengan fitur kalender konten dan template siap pakai, Anda dapat menyusun rencana konten secara lebih teratur.”

Dengan demikian, audiens memahami bagaimana produk dapat membantu mereka mencapai kondisi After.

4. Gunakan Bahasa yang Sesuai dengan Target Audiens

Copy iklan tidak harus menggunakan bahasa yang rumit atau terlalu formal. Justru, bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sering kali lebih efektif.

Gunakan istilah yang memang biasa digunakan oleh target pelanggan.

Misalnya, jika target audiens adalah pemilik toko online, daripada menulis:

“Mengalami kendala dalam mengoptimalkan administrasi pesanan?”

Anda dapat menggunakan:

“Pesanan toko online mulai banyak tetapi masih kewalahan mencatatnya satu per satu?”

Kalimat kedua terasa lebih natural dan menggambarkan kondisi yang lebih nyata.

Salah satu cara menemukan bahasa yang tepat adalah dengan memperhatikan cara pelanggan berbicara. Pertanyaan pelanggan, ulasan produk, komentar media sosial, dan percakapan dengan calon pelanggan dapat menjadi sumber ide untuk membuat copy.

5. Fokus pada Manfaat, Bukan Hanya Fitur

Fitur tetap penting dalam iklan, tetapi jangan menjadikan daftar fitur sebagai inti dari seluruh copy.

Calon pelanggan biasanya lebih tertarik mengetahui apa manfaat produk bagi mereka daripada sekadar mengetahui daftar fitur.

Contohnya:

Fitur:

“Aplikasi memiliki fitur otomatisasi laporan.”

Manfaat:

“Buat laporan penjualan dengan lebih cepat tanpa menghitung data secara manual.”

Keduanya membahas hal yang sama, tetapi pendekatan kedua lebih mudah dikaitkan dengan kebutuhan pelanggan.

Gunakan fitur sebagai pendukung untuk memperkuat manfaat yang ditawarkan.

6. Tambahkan Call to Action

Setelah Before, After, dan Bridge tersusun, tambahkan Call to Action (CTA).

CTA berfungsi mengarahkan audiens untuk melakukan tindakan yang diinginkan.

Contoh CTA yang dapat digunakan:

  • Coba Gratis Sekarang
  • Pelajari Selengkapnya
  • Konsultasi Sekarang
  • Daftar Hari Ini
  • Lihat Produknya
  • Pesan Sekarang
  • Dapatkan Penawaran

Pilih CTA berdasarkan tujuan iklan.

Jika ingin mendapatkan calon pelanggan, CTA dapat diarahkan ke konsultasi atau formulir. Jika ingin menjual produk secara langsung, CTA dapat mengarahkan pengguna ke halaman produk atau proses pembelian.

Contoh Copy Iklan dengan Formula Before–After–Bridge

Contoh 1: Kursus Digital Marketing

Before:

“Sudah belajar digital marketing tetapi masih bingung bagaimana menjalankan iklan yang efektif?”

After:

“Bayangkan jika Anda mampu memahami cara menentukan target audiens, menyusun kampanye, dan mengevaluasi performa iklan dengan lebih terarah.”

Bridge:

“Pelajari digital marketing melalui kursus online yang membahas strategi periklanan dari dasar hingga praktik.”

CTA:

“Mulai Belajar Sekarang.”

Contoh 2: Jasa Pembuatan Website

Before:

“Bisnis sudah berjalan, tetapi pelanggan masih kesulitan menemukan informasi tentang produk dan layanan Anda?”

After:

“Bayangkan bisnis Anda memiliki website profesional yang dapat memberikan informasi kepada pelanggan kapan saja.”

Bridge:

“Kami membantu bisnis membuat website responsif dan informatif yang disesuaikan dengan kebutuhan usaha.”

CTA:

“Konsultasikan Website Anda.”

Contoh 3: Produk Manajemen Keuangan

Before:

“Masih mencatat pemasukan dan pengeluaran bisnis secara manual?”

After:

“Bayangkan Anda dapat mengetahui kondisi keuangan bisnis dengan lebih mudah tanpa harus memeriksa catatan satu per satu.”

Bridge:

“Gunakan aplikasi manajemen keuangan untuk mencatat transaksi dan memantau kondisi keuangan dalam satu sistem.”

CTA:

“Coba Sekarang.”

Kesalahan yang Harus Dihindari

Penerapan formula Before–After–Bridge memang sederhana, tetapi ada beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.

Terlalu Banyak Membahas Produk

Jangan langsung memenuhi iklan dengan nama produk, fitur, spesifikasi, dan keunggulan.

Berikan konteks terlebih dahulu mengenai masalah yang dialami audiens.

Membuat Masalah yang Tidak Relevan

Jangan menciptakan masalah hanya untuk membuat iklan terlihat dramatis.

Masalah yang digunakan harus benar-benar berkaitan dengan kebutuhan target pasar.

Membuat Janji Berlebihan

Hindari klaim yang tidak realistis seperti “pasti sukses”, “dijamin kaya”, atau “hasil instan” apabila tidak memiliki dasar yang kuat.

Iklan yang terlalu berlebihan justru dapat mengurangi kepercayaan calon pelanggan.

After Tidak Berhubungan dengan Before

Kondisi After harus menjadi solusi dari masalah yang ditampilkan pada Before.

Jika Before membahas kesulitan mengelola stok, maka After seharusnya menggambarkan pengelolaan stok yang lebih mudah, bukan manfaat yang tidak berhubungan.

Bridge Tidak Menjelaskan Solusi

Jangan berhenti setelah menggambarkan masalah dan hasil yang diinginkan.

Audiens perlu mengetahui bagaimana produk atau layanan dapat membantu mereka mencapai kondisi tersebut.

CTA Tidak Jelas

Hindari CTA yang membuat audiens bingung mengenai tindakan selanjutnya.

Gunakan instruksi yang sederhana, spesifik, dan sesuai dengan tujuan iklan.

Template Copywriting Before–After–Bridge

Untuk mempermudah proses pembuatan iklan, Anda dapat menggunakan template berikut:

Before:

“Masih [masalah utama yang dialami target audiens]?”

After:

“Bayangkan jika Anda bisa [hasil atau kondisi yang diinginkan].”

Bridge:

“[Nama produk/layanan] membantu Anda [cara produk menyelesaikan masalah] melalui [fitur atau keunggulan utama].”

CTA:

“[Tindakan yang ingin dilakukan audiens].”

Contoh penerapannya:

“Masih kesulitan mendapatkan ide konten setiap hari? Bayangkan jika Anda memiliki daftar ide yang dapat digunakan untuk membuat konten secara lebih teratur. Content planner ini membantu Anda menyusun ide dan jadwal konten dalam satu tempat. Mulai susun konten Anda sekarang.”

Template tersebut dapat dikembangkan sesuai dengan karakteristik produk, target audiens, platform iklan, dan tujuan kampanye.

Baca Juga: Analisis Strategi Promosi pada Industri Retail

Kesimpulan

Before–After–Bridge merupakan formula copywriting yang dapat membantu membuat pesan iklan lebih terstruktur dan persuasif.

Formula ini dimulai dengan menunjukkan masalah atau kondisi Before, kemudian menggambarkan kondisi After yang diinginkan, dan akhirnya menawarkan Bridge berupa produk atau layanan yang menjadi solusi.

Kunci utamanya adalah memahami masalah target audiens sebelum mulai menulis copy. Jangan hanya menjelaskan apa yang dijual, tetapi tunjukkan bagaimana produk tersebut dapat membantu pelanggan berpindah dari kondisi yang tidak diinginkan menuju kondisi yang lebih baik.

Namun, penggunaan formula BAB bukan jaminan bahwa sebuah iklan akan langsung menghasilkan konversi tinggi. Performa iklan juga dipengaruhi oleh kualitas produk, penawaran, target audiens, visual, harga, landing page, kredibilitas bisnis, dan strategi kampanye secara keseluruhan.

Karena itu, gunakan Before–After–Bridge sebagai kerangka dasar, kemudian lakukan pengujian terhadap berbagai headline, angle, manfaat, penawaran, dan CTA untuk menemukan kombinasi copy yang paling sesuai dengan target audiens.

Tags: , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan