Iklans

13 Sep
Digital Marketing
6 views
0 Comments

Cara Menggunakan Marketing Funnel untuk Menentukan Jenis Konten

#Iklans – Cara Menggunakan #Marketing Funnel untuk Menentukan Jenis Konten – Membuat konten secara rutin merupakan bagian penting dalam strategi #digital marketing. Namun, banyaknya konten yang dipublikasikan tidak selalu berarti #strategi pemasaran sudah berjalan efektif. Salah satu penyebabnya adalah konten dibuat tanpa mempertimbangkan posisi #audiens dalam proses pengambilan keputusan.

Calon pelanggan yang baru mengenal sebuah merek tentu memiliki kebutuhan informasi yang berbeda dengan orang yang sudah tertarik dan sedang mempertimbangkan pembelian. Karena itu, bisnis perlu menyesuaikan jenis konten dengan tahapan perjalanan calon pelanggan. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menerapkan marketing funnel.

Baca Juga: Mengenal Framework STP dalam Strategi Digital Marketing

Marketing funnel membantu bisnis memahami perjalanan audiens, mulai dari mengenal sebuah merek hingga melakukan pembelian dan kemudian menjadi pelanggan. Dengan memahami setiap tahap tersebut, bisnis dapat menentukan konten dan pesan iklan yang lebih sesuai dengan kebutuhan audiens.

Cara Menggunakan Marketing Funnel untuk Menentukan Jenis Konten

Apa Itu Marketing Funnel?

Marketing funnel atau corong pemasaran merupakan sebuah kerangka yang menggambarkan tahapan perjalanan calon pelanggan sebelum melakukan pembelian. Konsep ini membantu pemasar memahami bahwa tidak semua orang yang melihat iklan berada pada tingkat ketertarikan yang sama.

Secara umum, marketing funnel dapat dibagi menjadi empat tahap utama, yaitu:

  1. Awareness – audiens mulai mengenal merek atau menyadari suatu masalah.
  2. Consideration – audiens mulai mencari informasi dan mempertimbangkan solusi.
  3. Conversion – audiens mengambil tindakan, seperti membeli atau mendaftar.
  4. Retention – pelanggan dipertahankan agar tetap menggunakan produk dan melakukan pembelian kembali.

Masing-masing tahap membutuhkan pendekatan konten yang berbeda. Karena itu, marketing funnel dapat dijadikan dasar untuk menentukan konten yang harus dibuat maupun jenis iklan yang perlu dijalankan.

1. Awareness: Fokus pada Pengenalan dan Edukasi

Tahap awareness merupakan bagian paling awal dalam marketing funnel. Pada tahap ini, audiens mungkin belum mengenal bisnis, produk, maupun merek yang ditawarkan.

Tujuan utama pada tahap ini bukan langsung mendapatkan penjualan, melainkan menarik perhatian dan memperkenalkan bisnis kepada target audiens.

Jenis konten yang sesuai antara lain:

  • Artikel edukasi
  • Video pendek
  • Infografis
  • Tips dan panduan
  • Konten media sosial
  • Konten yang membahas masalah atau kebutuhan audiens

Sebagai contoh, bisnis yang menjual produk perawatan kulit dapat membuat konten seperti “Penyebab Kulit Terlihat Kusam” atau “Cara Menentukan Produk Skincare Sesuai Jenis Kulit”.

Konten seperti ini tidak harus langsung menawarkan produk. Fokusnya adalah memberikan informasi yang bermanfaat sekaligus membuat audiens mulai mengenal bisnis.

Dalam konteks periklanan, tahap awareness dapat digunakan untuk membangun jangkauan dan memperkenalkan brand kepada target pasar yang lebih luas.

2. Consideration: Bangun Kepercayaan dan Bantu Audiens Memilih

Setelah mengenal suatu merek atau menyadari kebutuhan tertentu, audiens dapat masuk ke tahap consideration. Pada tahap ini, mereka mulai mencari informasi lebih lengkap sebelum menentukan pilihan.

Calon pelanggan biasanya mulai membandingkan beberapa produk atau merek. Mereka ingin mengetahui manfaat, fitur, harga, kelebihan, kekurangan, serta pengalaman pengguna lain.

Konten yang dapat digunakan pada tahap ini antara lain:

  • Review produk
  • Perbandingan produk
  • Studi kasus
  • Tutorial
  • Demonstrasi produk
  • FAQ
  • Testimoni pelanggan
  • Artikel yang membahas kelebihan dan kekurangan suatu produk

Sebagai contoh, bisnis laptop dapat membuat konten “Perbedaan Laptop Gaming dan Laptop untuk Produktivitas” atau “Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Membeli Laptop”.

Konten pada tahap consideration sebaiknya membantu audiens menjawab pertanyaan penting sebelum membeli. Semakin jelas informasi yang diberikan, semakin mudah bagi calon pelanggan untuk menentukan apakah produk tersebut sesuai dengan kebutuhannya.

Pada tahap ini, iklan juga dapat diarahkan kepada orang yang sebelumnya sudah berinteraksi dengan konten, mengunjungi website, atau menunjukkan ketertarikan terhadap produk.

Baca Juga: Peak-End Rule dan Pengaruhnya terhadap Pengalaman Pelanggan

3. Conversion: Dorong Audiens untuk Mengambil Tindakan

Tahap conversion merupakan fase ketika calon pelanggan sudah memiliki pemahaman yang cukup mengenai produk dan mulai mendekati keputusan pembelian.

Karena audiens pada tahap ini sudah lebih siap, konten dapat dibuat lebih berorientasi pada tindakan. Informasi mengenai produk perlu disertai alasan yang jelas mengapa audiens perlu mengambil keputusan sekarang.

Jenis konten yang dapat digunakan meliputi:

  • Penawaran khusus
  • Promo atau diskon
  • Testimoni pelanggan
  • Demo produk
  • Halaman produk
  • Voucher
  • Trial atau uji coba
  • Call to action yang jelas

Contohnya, sebuah toko online dapat menjalankan iklan dengan pesan seperti “Dapatkan Diskon 20% untuk Pembelian Hari Ini” dengan tombol ajakan seperti “Beli Sekarang”.

Namun, conversion tidak hanya bergantung pada diskon. Informasi seperti metode pembayaran, pilihan pengiriman, garansi, keamanan transaksi, dan kebijakan pengembalian juga dapat membantu mengurangi keraguan calon pelanggan.

Karena itu, konten conversion harus memberikan alasan yang cukup bagi audiens untuk merasa yakin sebelum melakukan transaksi.

4. Retention: Pertahankan Hubungan dengan Pelanggan

Marketing funnel tidak berhenti setelah seseorang melakukan pembelian. Setelah menjadi pelanggan, mereka tetap perlu mendapatkan perhatian agar hubungan dengan bisnis dapat dipertahankan.

Tahap retention bertujuan menjaga pelanggan agar tetap menggunakan produk, melakukan pembelian kembali, dan pada akhirnya memiliki hubungan yang lebih kuat dengan merek.

Jenis konten yang dapat digunakan antara lain:

  • Panduan penggunaan produk
  • Tips perawatan
  • Tutorial lanjutan
  • Newsletter
  • Penawaran khusus pelanggan lama
  • Program loyalitas
  • Informasi produk baru
  • Konten edukasi setelah pembelian

Sebagai contoh, bisnis yang menjual software dapat memberikan tutorial lanjutan kepada pelanggan setelah mereka berlangganan. Sementara bisnis retail dapat memberikan promo khusus kepada pelanggan yang sebelumnya sudah pernah berbelanja.

Strategi tersebut dapat membantu meningkatkan loyalitas dan mengurangi ketergantungan bisnis terhadap pelanggan baru.

Cara Menentukan Konten Berdasarkan Marketing Funnel

Penerapan marketing funnel dalam strategi konten sebenarnya cukup sederhana. Bisnis hanya perlu menyesuaikan tujuan konten dengan posisi audiens.

Tahap FunnelTujuanJenis Konten
AwarenessMengenalkan merek dan masalahArtikel edukasi, video, infografis, tips
ConsiderationMembangun kepercayaanReview, perbandingan, studi kasus, FAQ
ConversionMendorong tindakanPromo, testimoni, demo, voucher
RetentionMempertahankan pelangganTutorial, newsletter, loyalty program

Dari tabel tersebut dapat terlihat bahwa satu produk tidak harus memiliki satu jenis konten saja. Produk yang sama dapat dipromosikan melalui berbagai format sesuai dengan tahap audiens.

Misalnya, sebuah bisnis makanan sehat dapat membuat artikel tentang manfaat pola makan sehat untuk tahap awareness. Setelah itu, bisnis dapat membuat konten perbandingan produknya dengan produk lain pada tahap consideration. Selanjutnya, promo pembelian dapat digunakan pada tahap conversion, sedangkan resep atau panduan konsumsi dapat diberikan kepada pelanggan pada tahap retention.

Marketing Funnel Membantu Menghindari Konten yang Tidak Tepat Sasaran

Salah satu masalah yang sering terjadi dalam pemasaran digital adalah bisnis membuat konten hanya berdasarkan apa yang sedang populer tanpa mempertimbangkan tujuan akhirnya.

Konten yang mendapatkan banyak tayangan memang dapat meningkatkan awareness, tetapi belum tentu menghasilkan penjualan. Sebaliknya, konten promosi yang terlalu sering diberikan kepada audiens yang belum mengenal produk dapat membuat mereka merasa terus-menerus ditawarkan sesuatu.

Dengan marketing funnel, setiap konten memiliki fungsi yang lebih jelas. Bisnis dapat mengetahui apakah suatu konten dibuat untuk menarik perhatian, membangun kepercayaan, menghasilkan transaksi, atau mempertahankan pelanggan.

Pendekatan ini juga dapat membantu menentukan penggunaan anggaran iklan. Tidak semua audiens harus diberikan iklan dengan pesan yang sama. Audiens baru dapat diberikan konten pengenalan, sedangkan orang yang sudah menunjukkan ketertarikan dapat diberikan konten yang lebih dekat dengan keputusan pembelian.

Kesalahan yang Perlu Dihindari

Ada beberapa kesalahan yang perlu diperhatikan ketika menggunakan marketing funnel untuk menentukan konten.

Pertama, menggunakan satu jenis konten untuk semua audiens. Setiap tahap memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga pesan yang digunakan juga sebaiknya disesuaikan.

Kedua, terlalu fokus pada penjualan. Tidak semua audiens siap membeli. Sebagian masih membutuhkan informasi dan alasan untuk mempercayai sebuah merek.

Ketiga, tidak memiliki tujuan yang jelas. Setiap konten sebaiknya memiliki fungsi, apakah untuk meningkatkan awareness, mendapatkan leads, mendorong conversion, atau mempertahankan pelanggan.

Keempat, tidak melakukan evaluasi. Performa konten perlu dipantau untuk mengetahui jenis konten mana yang berhasil menarik perhatian, menghasilkan interaksi, dan mendorong tindakan.

Baca Juga: Framing Effect dalam Strategi Komunikasi Produk

Kesimpulan

Marketing funnel dapat digunakan sebagai panduan untuk menentukan jenis konten yang sesuai dengan perjalanan calon pelanggan. Tahap awareness membutuhkan konten yang informatif dan mampu menarik perhatian. Tahap consideration membutuhkan konten yang membangun kepercayaan dan membantu audiens membandingkan pilihan. Tahap conversion lebih berfokus pada dorongan untuk melakukan tindakan, sedangkan tahap retention bertujuan mempertahankan hubungan dengan pelanggan.

Pada akhirnya, strategi konten yang baik bukan sekadar tentang seberapa sering sebuah bisnis mempublikasikan konten. Hal yang lebih penting adalah memastikan konten tersebut diberikan kepada audiens yang tepat, pada tahap yang tepat, dengan pesan yang sesuai.

Dengan memanfaatkan marketing funnel, strategi iklan dan content marketing dapat menjadi lebih terarah, sehingga setiap konten memiliki tujuan yang jelas dan dapat mendukung perjalanan audiens dari sekadar mengenal sebuah merek hingga menjadi pelanggan.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan