Iklans

10 Agu
Panduan
8 views
0 Comments

Panduan Audit Sederhana terhadap Aktivitas Marketing

#Iklans – #Panduan Audit Sederhana terhadap #Aktivitas Marketing – Dalam menjalankan #bisnis, aktivitas marketing memainkan peran utama untuk mendapatkan pelanggan dan meningkatkan penjualan. Berbagai kegiatan seperti membuat konten, menjalankan #iklan, menggunakan #media sosial, mengelola website, hingga melakukan promosi membutuhkan waktu dan biaya.

Namun, menjalankan marketing saja tidak cukup. Bisnis juga perlu mengetahui apakah aktivitas yang mereka lakukan benar-benar memberi hasil yang sesuai dengan tujuan. Di sinilah kita membutuhkan audit marketing.

Baca Juga: Cara Menentukan Indikator Keberhasilan Kampanye Marketing

Tim pemasaran tidak selalu perlu melakukan audit dengan metode yang rumit. Bisnis kecil maupun pemula berkala melakukan audit untuk mengidentifikasi aktivitas pemasaran yang efektif, bagian yang perlu diperbaiki, dan mengoptimalkan anggaran.

Panduan Audit Sederhana terhadap Aktivitas Marketing

Apa Itu Audit Marketing?

Audit marketing mengevaluasi beragam aktivitas pemasaran yang perusahaan jalankan. Kami mengevaluasi seberapa efektif penggunaan strategi, media, konten, iklan, dan anggaran marketing.

Audit menunjukkan bagaimana bisnis mengaitkan aktivitas dengan hasil yang dicapai. Dalam contoh ini, kami menilai apakah iklan mendatangkan calon pelanggan, konten meningkatkan interaksi, dan biaya promosi sebanding dengan penjualan yang dihasilkan.

Audit marketing juga membantu bisnis menghindari keputusan yang hanya berdasarkan asumsi. Pemilik bisnis memanfaatkan data yang tersedia untuk menentukan aktivitas mana yang perlu dilanjutkan, memperbaikinya, menguranginya, atau menghentikannya.

Mengapa tim pemasaran perlu diaudit?

Setiap aktivitas marketing membutuhkan sumber daya. Bahkan strategi yang terlihat sederhana tetap membutuhkan waktu untuk membuat konten, mengelola media sosial, menjawab calon pelanggan, dan memantau hasil kampanye.

Tanpa evaluasi, bisnis dapat terus mengeluarkan biaya untuk aktivitas yang sebenarnya tidak memberikan hasil yang sepadan.

Audit pemasaran mengungkap beberapa masalah, antara lain:

  • Anggaran iklan terlalu besar tetapi konversinya rendah.
  • Target audiens tidak sesuai dengan produk.
  • Konten mendapatkan banyak views tetapi tidak menghasilkan pelanggan.
  • Media pemasaran tertentu tidak memberikan kontribusi yang signifikan.
  • Biaya mendapatkan pelanggan semakin tinggi.
  • Strategi marketing tidak memiliki tujuan yang jelas.

Dengan mengetahui masalah tersebut, bisnis dapat melakukan perbaikan sebelum biaya dan sumber daya yang terbuang menjadi semakin besar.

Langkah-Langkah Melakukan Audit Marketing Sederhana

1. Tentukan Tujuan Marketing

Sebelum mengevaluasi hasil marketing, Anda tentukan terlebih dahulu tujuan aktivitas yang dilakukan.

Setiap kampanye sebaiknya memiliki tujuan yang jelas. Tujuan tersebut dapat berupa meningkatkan brand awareness, mendapatkan leads, meningkatkan traffic website, memperoleh pelanggan baru, atau meningkatkan penjualan.

Sebagai contoh, jika sebuah bisnis menjalankan iklan dengan anggaran Rp2 juta dan tujuannya adalah memperoleh pelanggan baru, maka bisnis perlu memperhatikan tidak hanya jumlah orang yang melihat iklan, tetapi juga berapa banyak pelanggan baru yang berhasil diperoleh.

Tujuan yang jelas akan membuat proses evaluasi menjadi lebih mudah.

2. Evaluasi Target Audiens

Langkah berikutnya adalah memeriksa apakah aktivitas marketing sudah menyasar orang yang tepat.

Kami dapat menentukan target audiens berdasarkan usia, lokasi, pekerjaan, kebutuhan, minat, perilaku, maupun kemampuan membeli.

Kesalahan dalam menentukan target dapat menyebabkan iklan atau konten menjangkau banyak orang, tetapi hanya sedikit yang memiliki ketertarikan terhadap produk.

Misalnya, sebuah bisnis yang menargetkan mahasiswa menggunakan sebagian anggaran iklannya untuk menjangkau kelompok usia yang tidak sesuai target pasar. Kondisi tersebut dapat menyebabkan biaya marketing menjadi kurang efisien.

3. Periksa Seluruh Kanal Marketing

Buat daftar semua media yang memasarkan produk.

Kanal tersebut dapat berupa:

  • Website.
  • Media sosial.
  • Marketplace.
  • Mesin pencari.
  • Email marketing.
  • Iklan digital.
  • WhatsApp atau aplikasi komunikasi lainnya.
  • Promosi offline.

Setelah itu, lihat kontribusi masing-masing kanal terhadap tujuan marketing.

Contohnya, sebuah bisnis dapat membandingkan jumlah traffic, leads, pelanggan, dan penjualan yang berasal dari setiap kanal.

KanalBiayaLeadsPenjualanEvaluasi
Media sosialRp500.0008010Cukup efektif
Iklan digitalRp1.500.00012015Perlu optimasi
Email marketingRp200.0004012Efektif
Promosi offlineRp800.000305Perlu dievaluasi

Data tersebut dapat membantu bisnis mengetahui kanal mana yang memberikan kontribusi paling besar.

Namun, kanal dengan penjualan rendah tidak selalu berarti tidak berguna. Sebuah kanal mungkin memiliki fungsi dalam meningkatkan awareness atau membantu calon pelanggan sebelum melakukan pembelian.

Baca Juga: Panduan Menentukan Strategi Promosi Berdasarkan Siklus Produk

4. Audit Konten Marketing

Konten merupakan bagian penting dari aktivitas marketing, terutama bagi bisnis yang menggunakan media digital.

Tinjau kembali konten yang telah Anda buat selama periode tertentu. Kemudian, bandingkan performanya.

Berikut beberapa metrik yang bisa kita perhatikan.

  • Views.
  • Reach.
  • Engagement.
  • Komentar.
  • Share.
  • Klik.
  • Leads.
  • Konversi.
  • Penjualan.

Jangan hanya berfokus pada jumlah likes atau views. Konten dengan jumlah views tinggi belum tentu memberikan dampak langsung terhadap penjualan.

Sebaliknya, konten yang memiliki jumlah views lebih kecil dapat menjadi lebih bernilai jika mampu menghasilkan leads atau pelanggan.

5. Evaluasi Performa Iklan

Jika bisnis menggunakan iklan berbayar, kami akan memeriksa aktivitas tersebut secara khusus.

Anda dapat menggunakan beberapa metrik, antara lain CTR, CPC, CPM, jumlah konversi, biaya per konversi, dan ROAS.

Misalnya, sebuah iklan mendapatkan banyak klik tetapi hanya menghasilkan sedikit pembelian. Kondisi tersebut tidak selalu berarti iklannya buruk.

Masalah bisa saja berada pada halaman produk, landing page, harga, penawaran, atau proses checkout.

Oleh karena itu, audit iklan perlu melihat perjalanan calon pelanggan secara keseluruhan, bukan hanya performa iklan di platform.

6. Hitung Biaya Mendapatkan Pelanggan

Mengetahui berapa biaya yang diperlukan untuk mendapatkan pelanggan baru adalah hal penting dalam audit marketing.

Kita dapat menggunakan Customer Acquisition Cost (CAC) sebagai salah satu indikator.

Rumus sederhananya:

CAC = Total Biaya Marketing dan Penjualan ÷ Jumlah Pelanggan Baru

Sebagai contoh, sebuah bisnis mengeluarkan Rp5 juta untuk aktivitas marketing dan berhasil mendapatkan 100 pelanggan baru.

Maka:

Rp5.000.000 ÷ 100 = Rp50.000

Artinya, biaya rata-rata untuk mendapatkan satu pelanggan adalah Rp50.000.

Bisnis kemudian dapat membandingkan angka tersebut dengan keuntungan atau nilai rata-rata yang diberikan pelanggan kepada bisnis.

7. Periksa Marketing Funnel

Audit marketing juga perlu melihat perjalanan calon pelanggan dari pertama kali mengenal bisnis hingga melakukan pembelian.

Secara sederhana, kita menggambarkan proses tersebut sebagai:

Awareness → Interest → Consideration → Conversion → Retention

Jika banyak orang melihat iklan tetapi hanya sedikit yang mengunjungi website, kemungkinan terdapat masalah pada pesan, visual, atau penawaran iklan.

Jika banyak orang mengunjungi website tetapi hanya sedikit yang melakukan pembelian, masalahnya mungkin terdapat pada harga, halaman produk, tingkat kepercayaan pelanggan, atau proses checkout.

Dengan melihat marketing funnel, bisnis dapat mengetahui bagian mana yang menyebabkan banyak calon pelanggan berhenti.

8. Bandingkan dengan Periode Sebelumnya

Hasil audit akan menjadi lebih mudah dipahami jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Misalnya:

  • Biaya marketing bulan sebelumnya: Rp3 juta.
  • Biaya marketing bulan ini: Rp3,5 juta.
  • Pelanggan bulan sebelumnya: 80.
  • Pelanggan bulan ini: 120.

Meskipun biaya marketing meningkat, jumlah pelanggan juga mengalami peningkatan. Dari data tersebut, bisnis dapat melakukan analisis lebih lanjut apakah peningkatan biaya tersebut memberikan hasil yang sepadan.

Perbandingan juga dapat dilakukan terhadap jumlah leads, conversion rate, traffic website, engagement, dan pendapatan.

Cara Menentukan Aktivitas Marketing yang Perlu Diperbaiki

Setelah seluruh data dikumpulkan, kelompokkan aktivitas marketing berdasarkan performanya.

Aktivitas yang memberikan hasil baik dapat dipertahankan atau dikembangkan. Aktivitas dengan hasil sedang dapat dioptimalkan, sedangkan aktivitas yang terus menghabiskan biaya tanpa memberikan kontribusi berarti perlu dievaluasi lebih lanjut.

Namun, jangan langsung menghentikan sebuah kanal hanya berdasarkan satu metrik.

Misalnya, sebuah media sosial mungkin tidak menghasilkan banyak transaksi secara langsung, tetapi dapat berperan dalam meningkatkan brand awareness dan membantu calon pelanggan mengenal bisnis.

Karena itu, keputusan sebaiknya dibuat dengan melihat tujuan awal dari setiap aktivitas.

Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Melakukan Audit

Ada beberapa kesalahan yang sering terjadi ketika bisnis melakukan evaluasi marketing.

Pertama, terlalu fokus pada metrik yang terlihat bagus seperti jumlah followers, likes, dan views. Metrik tersebut memang penting, tetapi tidak selalu menggambarkan keberhasilan bisnis.

Kedua, hanya melihat penjualan sebagai satu-satunya indikator. Beberapa aktivitas marketing membutuhkan waktu sebelum menghasilkan konversi.

Ketiga, membandingkan dua kampanye tanpa memperhatikan perbedaan target audiens, anggaran, durasi, dan tujuan.

Keempat, tidak mencatat data secara konsisten. Tanpa pencatatan yang baik, bisnis akan kesulitan mengetahui apakah strategi marketing mengalami perkembangan.

Seberapa Sering Audit Marketing Dilakukan?

Audit marketing sederhana dapat dilakukan setiap bulan, terutama jika bisnis menjalankan aktivitas pemasaran secara aktif.

Evaluasi bulanan berguna untuk melihat perubahan performa dengan lebih cepat. Sementara itu, audit yang lebih menyeluruh dapat dilakukan setiap tiga atau enam bulan untuk mengevaluasi strategi marketing secara keseluruhan.

Untuk kampanye dengan anggaran besar, evaluasi dapat dilakukan lebih sering agar masalah dapat diketahui dan diperbaiki sebelum menyebabkan kerugian yang lebih besar.

Buat Rencana Setelah Audit

Audit marketing tidak akan memberikan manfaat maksimal jika hanya berhenti pada pengumpulan data.

Hasil audit harus diterjemahkan menjadi tindakan.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan setelah audit antara lain:

  1. Mengurangi anggaran pada kampanye yang tidak efektif.
  2. Meningkatkan anggaran pada kampanye dengan performa baik.
  3. Menguji variasi materi iklan.
  4. Memperbaiki landing page.
  5. Menyesuaikan target audiens.
  6. Mengembangkan konten yang terbukti menghasilkan engagement atau leads.
  7. Memperbaiki proses konversi.
  8. Mencatat hasil marketing secara rutin.

Dengan cara tersebut, setiap audit dapat menjadi dasar untuk membuat strategi marketing yang lebih baik pada periode berikutnya.

Baca Juga: Cara Menyusun Roadmap Marketing Selama 12 Bulan agar Bisnis Tumbuh Konsisten

Kesimpulan

Melakukan audit terhadap aktivitas marketing tidak harus selalu rumit. Bisnis dapat memulainya dengan mengevaluasi tujuan, target audiens, kanal pemasaran, konten, iklan, biaya, hingga hasil yang diperoleh.

Hal yang paling penting adalah menggunakan hasil audit sebagai dasar untuk mengambil keputusan. Aktivitas yang efektif dapat dikembangkan, sedangkan aktivitas yang kurang efektif dapat diperbaiki atau dikurangi.

Marketing yang baik bukan hanya tentang mengeluarkan anggaran sebanyak mungkin, tetapi tentang bagaimana menggunakan anggaran tersebut secara efektif untuk mencapai tujuan bisnis.

Dengan melakukan audit secara rutin, bisnis dapat memahami strategi yang benar-benar memberikan hasil, mengurangi pemborosan anggaran, dan membangun aktivitas marketing yang lebih terarah.

Tags: , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan