Iklans - #Panduan Membuat #Marketing Report Bulanan yang Efektif - Dalam menjalankan #strategi pemasaran, bisnis tidak cukup hanya membuat konten, memasang #iklan, atau menjalankan #promosi. Setiap aktivitas tersebut perlu dievaluasi untuk mengetahui apakah hasil yang diperoleh sudah sesuai dengan target.
Salah satu cara untuk melakukan evaluasi adalah dengan membuat marketing report bulanan. Laporan ini dapat digunakan untuk melihat perkembangan performa pemasaran, membandingkan hasil dengan periode sebelumnya, mengevaluasi penggunaan anggaran, serta menentukan strategi untuk bulan berikutnya.
Baca Juga: Panduan Menentukan Marketing KPI Berdasarkan Tujuan Bisnis
Marketing report yang baik bukan sekadar kumpulan angka dari berbagai platform. Laporan tersebut harus mampu menjawab tiga pertanyaan utama: Apa yang terjadi? Mengapa hal tersebut terjadi? Apa yang harus dilakukan selanjutnya?

Marketing report bulanan adalah laporan yang merangkum hasil dan performa aktivitas pemasaran selama satu bulan.
Data di dalamnya dapat berasal dari berbagai channel, seperti:
Isi laporan dapat berbeda antara satu bisnis dengan bisnis lainnya. Hal ini karena setiap perusahaan memiliki tujuan pemasaran dan Key Performance Indicator (KPI) yang berbeda.
Bisnis e-commerce, misalnya, mungkin lebih memperhatikan jumlah transaksi, conversion rate, Cost per Acquisition (CPA), dan Return on Ad Spend (ROAS). Sementara bisnis yang berfokus mendapatkan calon pelanggan dapat lebih memprioritaskan jumlah leads dan Cost per Lead (CPL).
Oleh karena itu, marketing report sebaiknya dibuat berdasarkan tujuan bisnis, bukan sekadar berdasarkan data yang tersedia.
Marketing report membantu bisnis memahami apakah strategi pemasaran yang dijalankan memberikan hasil sesuai harapan.
Tanpa laporan yang terstruktur, perusahaan mungkin memiliki banyak data tetapi kesulitan menentukan informasi mana yang benar-benar penting.
Misalnya, sebuah kampanye mendapatkan ribuan klik. Sekilas, angka tersebut terlihat bagus. Namun, setelah dianalisis lebih jauh, ternyata hanya sedikit pengunjung yang melakukan pembelian.
Dalam kondisi tersebut, jumlah klik yang tinggi belum tentu menunjukkan kampanye yang efektif.
Marketing report memungkinkan bisnis melihat performa secara lebih menyeluruh, mulai dari jangkauan hingga hasil akhir seperti leads atau penjualan.
Laporan bulanan juga dapat membantu bisnis:
Marketing report sebaiknya dibuat secara sistematis agar informasi di dalamnya mudah dipahami. Berikut beberapa tahapan yang dapat dilakukan.
Sebelum mengumpulkan data, tentukan terlebih dahulu tujuan pemasaran yang ingin dievaluasi.
Tujuan tersebut dapat berupa:
Tujuan marketing akan menentukan data apa yang perlu dimasukkan ke dalam laporan.
Jika tujuan utama perusahaan adalah meningkatkan penjualan, misalnya, laporan sebaiknya tidak hanya berfokus pada impressions dan clicks. Data mengenai conversion rate, jumlah transaksi, CPA, pendapatan, dan ROAS akan lebih relevan.
Setelah tujuan ditentukan, pilih Key Performance Indicator (KPI) yang dapat digunakan untuk mengukur pencapaiannya.
Hindari memasukkan terlalu banyak metrik karena dapat membuat laporan sulit dipahami.
Beberapa KPI yang umum digunakan dalam marketing report antara lain:
Menunjukkan berapa kali iklan atau konten ditampilkan kepada pengguna.
Menunjukkan jumlah klik yang diperoleh dari sebuah iklan, konten, atau kampanye.
CTR menunjukkan persentase pengguna yang mengklik dibandingkan jumlah tayangan.
Rumusnya:
CTR = (Jumlah Klik ÷ Jumlah Impression) × 100%
CPC menunjukkan rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan satu klik.
Conversion rate menunjukkan persentase pengguna yang melakukan tindakan yang diinginkan, seperti melakukan pembelian, mendaftar akun, atau mengirim formulir.
CPL digunakan untuk mengetahui biaya rata-rata yang diperlukan untuk mendapatkan satu lead.
CPA digunakan untuk mengetahui biaya rata-rata yang diperlukan untuk mendapatkan satu konversi atau pelanggan, tergantung definisi acquisition yang digunakan.
ROAS membandingkan pendapatan yang diatribusikan kepada iklan dengan biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan iklan tersebut.
Pemilihan KPI harus disesuaikan dengan tujuan kampanye dan model bisnis.
Setelah KPI ditentukan, kumpulkan data dari semua channel marketing yang digunakan.
Data dapat berasal dari platform analitik website, dashboard iklan, media sosial, email marketing, marketplace, CRM, hingga sistem penjualan perusahaan.
Gunakan periode pengukuran yang konsisten.
Jika membuat laporan untuk Oktober, misalnya, data yang digunakan sebaiknya mencakup periode 1–31 Oktober.
Selain periode, pastikan definisi setiap metrik juga konsisten. Sebagai contoh, jangan mencampurkan data konversi pembelian dengan pendaftaran akun apabila keduanya memiliki tujuan yang berbeda.
Baca Juga: Panduan Membaca Marketing Dashboard untuk Pemula
Bagian awal laporan sebaiknya memberikan gambaran singkat mengenai performa marketing secara keseluruhan.
Informasi yang dapat ditampilkan antara lain:
Total Traffic: 50.000 pengunjung
Total Leads: 1.200
Total Conversion: 350
Advertising Cost: Rp10.000.000
Revenue dari Kampanye: Rp40.000.000
ROAS: 4x
Angka tersebut hanyalah contoh. Metrik yang ditampilkan harus menyesuaikan kebutuhan masing-masing bisnis.
Ringkasan seperti ini membantu pembaca memahami kondisi marketing sebelum melihat analisis yang lebih mendalam.
Angka akan lebih mudah dipahami apabila memiliki pembanding.
Misalnya, traffic website bulan Oktober mencapai 50.000 pengunjung.
Angka tersebut belum memberikan banyak informasi jika dilihat secara terpisah.
Namun, apabila traffic September hanya 40.000 pengunjung, dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan sebesar:
((50.000 - 40.000) ÷ 40.000) × 100% = 25%
Dengan demikian, laporan dapat menjelaskan bahwa traffic meningkat sekitar 25% dibandingkan bulan sebelumnya.
Perbandingan dapat dilakukan terhadap:
Perbandingan membantu menunjukkan apakah performa mengalami peningkatan, penurunan, atau relatif stabil.
Jangan hanya menampilkan performa marketing secara keseluruhan. Pisahkan analisis berdasarkan channel agar kontribusi setiap strategi dapat terlihat.
Analisis traffic yang berasal dari mesin pencari, halaman dengan performa terbaik, keyword yang relevan, serta konversi dari traffic organik.
Perhatikan beberapa metrik seperti:
Dengan data tersebut, bisnis dapat mengetahui kampanye mana yang memberikan hasil paling efisien.
Evaluasi performa media sosial melalui reach, impressions, engagement, pertumbuhan audiens, traffic menuju website, leads, atau konversi sesuai tujuan.
Beberapa indikator yang dapat dianalisis antara lain delivery rate, click rate, unsubscribe rate, dan conversion rate.
Open rate juga dapat digunakan sebagai indikator tambahan, tetapi perlu diinterpretasikan secara hati-hati karena teknologi privasi tertentu dapat memengaruhi data pembukaan email.
Bagian penting lainnya adalah mengevaluasi penggunaan anggaran.
Misalnya:
Total biaya iklan: Rp10.000.000
Jumlah konversi: 200
Pendapatan dari kampanye: Rp40.000.000
Dari data tersebut, CPA dapat dihitung:
CPA = Rp10.000.000 ÷ 200
CPA = Rp50.000
Sedangkan ROAS:
ROAS = Rp40.000.000 ÷ Rp10.000.000
ROAS = 4x
Artinya, berdasarkan atribusi yang digunakan, setiap Rp1 yang dikeluarkan untuk iklan menghasilkan Rp4 pendapatan.
Namun, perlu diperhatikan bahwa ROAS bukan keuntungan bersih.
Bisnis masih perlu memperhitungkan berbagai biaya lain seperti harga pokok produk, operasional, pengiriman, diskon, retur, dan biaya lainnya untuk mengetahui profitabilitas sebenarnya.
Marketing report juga sebaiknya menunjukkan kampanye yang memberikan performa terbaik.
Beberapa hal yang dapat dianalisis meliputi:
Jangan berhenti pada kesimpulan bahwa suatu kampanye memiliki performa bagus. Cari tahu faktor yang kemungkinan berkontribusi terhadap hasil tersebut.
Temuan tersebut nantinya dapat digunakan untuk mengembangkan kampanye berikutnya.
Selain melihat kampanye terbaik, evaluasi juga aktivitas marketing yang berada di bawah target.
Misalnya, sebuah kampanye menghasilkan banyak klik tetapi sedikit konversi.
Beberapa kemungkinan yang perlu diperiksa antara lain:
Dengan mengetahui masalahnya, bisnis dapat menentukan apakah kampanye perlu diperbaiki, diuji ulang, dikurangi anggarannya, atau dihentikan.
Marketing report yang hanya berisi angka sebenarnya belum selesai.
Setiap perubahan penting sebaiknya disertai analisis.
Contohnya:
Data:
CTR meningkat dari 2,5% menjadi 3,2%.
Insight:
CTR meningkat setelah penggunaan creative baru. Namun, conversion rate tidak mengalami peningkatan yang sebanding sehingga kualitas traffic dan landing page masih perlu dievaluasi.
Dengan pendekatan tersebut, laporan tidak hanya menjelaskan apa yang terjadi, tetapi juga memberikan dasar untuk menentukan apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Terlalu banyak angka dapat membuat laporan sulit dibaca.
Gunakan grafik untuk membantu menjelaskan tren dan perbandingan.
Contohnya:
Grafik garis dapat digunakan untuk menunjukkan perkembangan traffic website selama beberapa bulan.
Grafik batang dapat digunakan untuk membandingkan jumlah konversi dari beberapa channel.
Tabel dapat digunakan untuk membandingkan target dan pencapaian KPI.
Visualisasi sebaiknya sederhana dan langsung mendukung informasi yang ingin disampaikan. Hindari memasukkan grafik hanya sebagai elemen dekoratif.
Executive summary biasanya ditempatkan di bagian awal laporan dan berisi ringkasan mengenai hasil marketing bulan tersebut.
Bagian ini dapat mencakup:
Executive summary sangat berguna ketika laporan dibaca oleh manajemen atau pemilik bisnis yang membutuhkan gambaran cepat sebelum melihat data secara lebih rinci.
Tahap terakhir adalah menentukan tindakan berdasarkan hasil analisis.
Misalnya, laporan menunjukkan bahwa iklan tertentu memiliki CPA rendah dan menghasilkan pelanggan berkualitas. Bisnis dapat mempertimbangkan peningkatan anggaran secara bertahap sambil tetap memantau performanya.
Sebaliknya, kampanye yang terus menghasilkan biaya tinggi tanpa konversi memadai dapat dikurangi atau dievaluasi kembali.
Action plan dapat mencakup:
Dengan demikian, marketing report menjadi dasar untuk menjalankan strategi pemasaran pada periode berikutnya.
Untuk mempermudah penyusunan laporan, berikut struktur sederhana yang dapat digunakan:
Berisi ringkasan performa marketing selama satu bulan.
Menjelaskan tujuan pemasaran yang ingin dicapai.
Menampilkan target, realisasi, dan perkembangan KPI.
Berisi data traffic, sumber traffic, engagement, halaman populer, dan conversion.
Menampilkan advertising spend, impressions, clicks, CTR, CPC, conversion, CPA, dan ROAS.
Berisi reach, impressions, engagement, pertumbuhan audiens, traffic, dan conversion jika relevan.
Menampilkan perkembangan organic traffic, halaman yang menghasilkan traffic, keyword, serta conversion dari pencarian organik.
Membandingkan anggaran yang direncanakan dengan realisasi serta hasil yang diperoleh.
Menjelaskan temuan penting dari data selama satu bulan.
Berisi strategi dan prioritas yang akan dilakukan pada bulan berikutnya.
Marketing report yang terlihat lengkap belum tentu memberikan informasi yang berguna.
Salah satu kesalahan paling umum adalah memasukkan terlalu banyak metrik. Tidak semua data perlu masuk ke laporan utama. Prioritaskan metrik yang berkaitan langsung dengan tujuan bisnis.
Kesalahan lainnya adalah terlalu fokus pada vanity metrics.
Jumlah followers, impressions, atau likes memang dapat memberikan informasi mengenai jangkauan dan engagement. Namun, apabila tujuan utama kampanye adalah penjualan, metrik tersebut tidak cukup digunakan untuk menentukan keberhasilan.
Selain itu, hindari langsung menganggap korelasi sebagai hubungan sebab-akibat.
Sebagai contoh, penjualan meningkat setelah kampanye baru diluncurkan. Kondisi tersebut belum tentu berarti seluruh peningkatan penjualan berasal dari kampanye tersebut. Faktor seperti diskon, tren musiman, perubahan permintaan, atau aktivitas pemasaran lain juga dapat memberikan pengaruh.
Karena itu, marketing report perlu menggunakan data secara hati-hati dan memberikan konteks ketika menarik kesimpulan.
Baca Juga: Panduan Menghitung Break-Even Point untuk Kampanye Marketing
Marketing report bulanan merupakan bagian penting dalam mengevaluasi efektivitas strategi pemasaran. Melalui laporan yang terstruktur, bisnis dapat mengetahui perkembangan KPI, efektivitas channel marketing, penggunaan anggaran, hingga kampanye yang memberikan hasil terbaik.
Laporan yang baik juga tidak berhenti pada penyajian angka.
Setiap data perlu diterjemahkan menjadi insight yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan. Ketika ditemukan strategi yang bekerja dengan baik, bisnis dapat mempertimbangkan untuk mengembangkannya. Sebaliknya, ketika terdapat kampanye dengan performa rendah, data dapat digunakan untuk mencari penyebab dan menentukan langkah perbaikan.
Pada akhirnya, marketing report bulanan sebaiknya membentuk proses yang berkelanjutan:
Data → Analisis → Insight → Keputusan → Optimasi
Dengan proses tersebut, aktivitas pemasaran dapat dievaluasi secara lebih objektif dan strategi untuk periode berikutnya dapat dibuat berdasarkan data, bukan hanya asumsi.