Iklans

31 Okt
Panduan
8 views
0 Comments

Panduan Menentukan Archetype Brand untuk Bisnis

Iklans – #Panduan Menentukan #Archetype Brand untuk #Bisnis – Membangun #brand tidak cukup hanya dengan memiliki nama bisnis, logo yang menarik, atau kombinasi warna yang mudah dikenali. Sebuah brand juga membutuhkan karakter yang jelas agar konsumen dapat memahami bagaimana bisnis tersebut ingin dikenal.

Ada brand yang tampil serius dan penuh pengetahuan. Ada yang berani dan kompetitif. Ada pula yang santai, menyenangkan, kreatif, atau menonjolkan kepedulian kepada pelanggan.

Salah satu konsep yang dapat digunakan untuk menentukan karakter tersebut adalah brand archetype.

Baca Juga: Panduan Membuat Sistem Pelacakan Leads dari Berbagai Channel

Brand archetype dapat membantu bisnis membangun kepribadian yang lebih konsisten. Karakter tersebut kemudian dapat diterapkan pada iklan, konten media sosial, desain visual, copywriting, website, kemasan, hingga cara bisnis berkomunikasi dengan pelanggan.

Lantas, apa itu brand archetype dan bagaimana cara menentukan archetype yang tepat untuk sebuah bisnis?

Panduan Menentukan Archetype Brand untuk Bisnis

Apa Itu Brand Archetype?

Brand archetype adalah kerangka karakter yang digunakan untuk menggambarkan kepribadian sebuah brand.

Konsep archetype berkaitan dengan gagasan psikologi Carl Jung mengenai pola karakter universal yang dapat dikenali manusia. Dalam perkembangannya, konsep tersebut banyak diterapkan dalam branding untuk membantu menciptakan karakter yang lebih jelas dan mudah dipahami oleh konsumen.

Sederhananya, bayangkan sebuah brand sebagai manusia.

Apakah brand tersebut ingin dikenal sebagai sosok yang berani? Cerdas? Kreatif? Ramah? Penuh perhatian? Bebas? Atau justru eksklusif dan berwibawa?

Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat menjadi dasar dalam menentukan archetype.

Setelah karakter utama ditemukan, bisnis dapat menggunakannya sebagai pedoman dalam menentukan gaya komunikasi, visual, pesan pemasaran, hingga pengalaman yang diberikan kepada pelanggan.

Mengapa Brand Archetype Penting?

Konsumen tidak selalu memilih produk hanya berdasarkan harga atau spesifikasi. Persepsi terhadap sebuah brand juga dapat memengaruhi bagaimana konsumen melihat produk tersebut.

Dua perusahaan bahkan dapat menawarkan produk dengan fungsi yang hampir sama tetapi membangun citra yang sangat berbeda.

Perusahaan pertama mungkin tampil profesional, serius, dan berbasis data. Sementara itu, perusahaan kedua menggunakan bahasa sederhana, humor, dan pendekatan yang lebih santai.

Perbedaan tersebut dapat membuat keduanya menarik kelompok konsumen yang berbeda.

Brand archetype membantu bisnis membangun karakter tersebut secara lebih terarah. Beberapa manfaatnya antara lain:

  • memperjelas identitas brand;
  • menjaga konsistensi komunikasi;
  • membantu menentukan gaya bahasa;
  • mempermudah pembuatan konsep iklan;
  • membantu membangun hubungan emosional dengan audiens;
  • membedakan brand dari kompetitor;
  • menjadi panduan dalam pembuatan konten dan desain visual.

Dengan identitas yang jelas, tim pemasaran juga tidak perlu menentukan karakter komunikasi dari awal setiap kali membuat kampanye baru.

12 Jenis Brand Archetype

Terdapat 12 archetype utama yang umum digunakan dalam strategi branding. Setiap archetype memiliki karakter, motivasi, dan gaya komunikasi yang berbeda.

1. The Innocent

Karakter utama: sederhana, optimistis, jujur, positif.

The Innocent menggambarkan brand yang ingin memberikan kesan sederhana, aman, dan dapat dipercaya.

Gaya komunikasinya biasanya positif dan tidak terlalu agresif. Pesan pemasaran dapat menonjolkan kesederhanaan, kebahagiaan, kenyamanan, atau kemurnian.

Archetype ini dapat digunakan untuk bisnis yang ingin membangun citra ramah dan positif.

2. The Explorer

Karakter utama: bebas, mandiri, berani menjelajah.

Explorer cocok untuk brand yang mengangkat tema kebebasan, perjalanan, pengalaman baru, dan keberanian keluar dari rutinitas.

Komunikasi brand biasanya mendorong audiens untuk menemukan sesuatu yang baru.

Archetype ini sering relevan untuk bisnis perjalanan, kendaraan, perlengkapan outdoor, olahraga alam, dan berbagai produk yang berkaitan dengan kebebasan.

3. The Sage

Karakter utama: cerdas, rasional, berpengetahuan.

Sage berorientasi pada pengetahuan dan pencarian kebenaran.

Brand dengan archetype Sage biasanya berusaha menjadi sumber informasi yang dapat dipercaya. Kontennya dapat banyak menggunakan edukasi, data, penelitian, analisis, atau penjelasan mendalam.

Archetype ini cocok untuk lembaga pendidikan, media informasi, perusahaan teknologi, konsultan, maupun bisnis yang menjadikan keahlian sebagai nilai utama.

4. The Hero

Karakter utama: berani, kuat, kompetitif, berorientasi pada pencapaian.

Hero menggambarkan karakter yang ingin menghadapi tantangan dan membuktikan kemampuan.

Komunikasi Hero sering mendorong konsumen untuk berkembang, bekerja lebih keras, mengatasi hambatan, dan mencapai hasil terbaik.

Karakter seperti ini banyak ditemukan pada industri olahraga, kebugaran, performa, kompetisi, dan pengembangan kemampuan.

5. The Outlaw

Karakter utama: pemberontak, berani, berbeda.

The Outlaw atau Rebel menantang kebiasaan dan status quo.

Brand dengan karakter ini biasanya berusaha tampil berbeda dari standar industri. Bahasa yang digunakan dapat lebih berani, provokatif, atau tidak konvensional.

Namun, menjadi Outlaw bukan berarti bisnis harus selalu menciptakan kontroversi. Perbedaan tetap harus relevan dengan produk dan nilai brand.

6. The Magician

Karakter utama: visioner, inspiratif, transformatif.

Magician berhubungan dengan perubahan dan transformasi.

Brand Magician biasanya menawarkan gagasan bahwa produk atau layanannya dapat mengubah kondisi pelanggan menjadi sesuatu yang lebih baik.

Archetype ini dapat digunakan dalam industri teknologi, kecantikan, hiburan, kreativitas, maupun bisnis yang menawarkan transformasi sebagai bagian utama dari produknya.

7. The Everyman

Karakter utama: sederhana, ramah, membumi.

Everyman ingin menciptakan kesan bahwa brand dekat dengan kehidupan konsumennya.

Gaya komunikasi biasanya sederhana dan tidak terlalu eksklusif. Brand ingin terlihat sebagai bagian dari kelompok konsumennya.

Archetype ini cocok untuk produk yang menyasar pasar luas dan ingin membangun kedekatan dengan pelanggan.

8. The Lover

Karakter utama: emosional, menarik, elegan, penuh kedekatan.

Lover berfokus pada hubungan, keindahan, pengalaman, dan kedekatan emosional.

Karakter ini sering ditemukan dalam industri fashion, kecantikan, parfum, perhiasan, makanan, hospitality, hingga produk premium tertentu.

Visual dan pengalaman pelanggan biasanya menjadi bagian penting dalam komunikasi brand Lover.

9. The Jester

Karakter utama: menyenangkan, humoris, spontan.

Jester ingin membuat konsumen merasa terhibur.

Brand dengan archetype ini dapat menggunakan humor, permainan kata, tren, dan situasi sehari-hari untuk menciptakan komunikasi yang lebih ringan.

Archetype Jester dapat digunakan oleh bisnis hiburan, makanan ringan, media, aplikasi, maupun produk yang menyasar konsumen dengan gaya komunikasi santai.

10. The Caregiver

Karakter utama: peduli, melindungi, membantu.

Caregiver berusaha menunjukkan bahwa kebutuhan dan keamanan konsumen menjadi prioritas.

Pesan pemasaran biasanya menonjolkan perhatian, perlindungan, kenyamanan, keluarga, atau kepedulian.

Archetype ini sering digunakan dalam bidang kesehatan, pendidikan, perawatan, produk keluarga, dan bisnis yang berorientasi pada pelayanan.

11. The Creator

Karakter utama: kreatif, inovatif, ekspresif.

Creator ingin menghasilkan sesuatu yang baru sekaligus membantu konsumen mengekspresikan kreativitas.

Archetype ini cocok untuk bisnis yang bergerak dalam desain, seni, teknologi kreatif, fotografi, kerajinan, perangkat lunak, dan produk kreatif lainnya.

Komunikasinya biasanya menonjolkan kreativitas, kebebasan menciptakan sesuatu, dan orisinalitas.

12. The Ruler

Karakter utama: berwibawa, eksklusif, terkontrol, berstandar tinggi.

Ruler menggambarkan kepemimpinan, stabilitas, prestise, dan kontrol.

Brand Ruler biasanya ingin menunjukkan kualitas tinggi, profesionalisme, eksklusivitas, atau posisi sebagai pemimpin dalam kategorinya.

Archetype ini banyak digunakan untuk produk premium maupun perusahaan yang ingin membangun citra otoritatif.

Baca Juga: Panduan Membaca Data Campaign Sebelum Mengambil Keputusan

Cara Menentukan Archetype Brand untuk Bisnis

Menentukan brand archetype tidak seharusnya dilakukan hanya karena sebuah karakter terlihat menarik.

Archetype harus sesuai dengan identitas bisnis, target pasar, produk, dan positioning yang ingin dibangun.

Berikut langkah-langkah yang dapat digunakan.

1. Tentukan Tujuan Utama Brand

Mulailah dengan menjawab pertanyaan:

Apa yang ingin diberikan brand kepada konsumennya?

Jangan hanya menjawab “menjual produk” atau “mendapatkan keuntungan”.

Carilah tujuan yang berhubungan dengan nilai yang diberikan kepada pelanggan.

Sebagai contoh:

  • ingin memberikan pengetahuan → Sage;
  • ingin mendorong pelanggan mencapai tujuan → Hero;
  • ingin memberikan rasa aman → Caregiver;
  • ingin memberikan kebebasan → Explorer;
  • ingin mendorong kreativitas → Creator;
  • ingin menciptakan kegembiraan → Jester.

Tujuan tersebut dapat menjadi petunjuk awal untuk mempersempit pilihan archetype.

2. Kenali Target Konsumen

Selanjutnya, pahami siapa yang ingin dijangkau oleh bisnis.

Jangan hanya melihat umur atau jenis kelamin. Perhatikan juga karakter psikologis dan kebutuhan mereka.

Beberapa aspek yang dapat dianalisis meliputi:

  • masalah yang sedang dihadapi;
  • kebutuhan;
  • keinginan;
  • aspirasi;
  • gaya hidup;
  • motivasi membeli;
  • nilai yang dianggap penting;
  • serta cara mereka berkomunikasi.

Semakin baik bisnis memahami konsumennya, semakin mudah menentukan karakter brand yang dapat membangun hubungan dengan mereka.

3. Tentukan Emosi yang Ingin Dibangun

Pertimbangkan apa yang seharusnya dirasakan pelanggan ketika melihat atau menggunakan brand.

Apakah mereka seharusnya merasa:

  • aman;
  • percaya diri;
  • bebas;
  • terhibur;
  • termotivasi;
  • eksklusif;
  • diperhatikan;
  • atau terinspirasi?

Sebagai contoh, rasa aman dapat mengarah pada Caregiver atau Innocent. Keinginan untuk mencapai sesuatu dapat mengarah pada Hero. Sementara kebebasan dapat lebih dekat dengan Explorer.

4. Pelajari Karakter Kompetitor

Perhatikan bagaimana kompetitor membangun identitas mereka.

Analisis beberapa aspek seperti:

  • gaya bahasa;
  • desain visual;
  • slogan;
  • iklan;
  • konten media sosial;
  • positioning;
  • dan pesan utama yang digunakan.

Tujuannya bukan untuk meniru.

Analisis kompetitor justru digunakan untuk menemukan ruang diferensiasi.

Jika hampir seluruh pesaing menggunakan komunikasi serius dan formal, mungkin terdapat peluang menggunakan karakter yang lebih ramah atau sederhana.

Namun, perbedaan tetap harus relevan dengan produk dan target konsumen.

5. Bayangkan Brand sebagai Seorang Manusia

Salah satu cara sederhana untuk menemukan brand archetype adalah membayangkan brand sebagai seseorang.

Kemudian jawab beberapa pertanyaan berikut:

Bagaimana cara orang tersebut berbicara?

Bagaimana cara berpakaian?

Apa yang dipercayainya?

Bagaimana ia memperlakukan orang lain?

Bagaimana reaksinya ketika menghadapi masalah?

Apa yang tidak akan pernah dilakukannya?

Jawaban tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kepribadian yang sebenarnya ingin dibangun.

6. Pilih Satu Archetype Utama

Hindari mencoba menggunakan seluruh archetype sekaligus.

Terlalu banyak karakter justru dapat membuat identitas brand membingungkan.

Sebaiknya pilih satu archetype utama sebagai fondasi.

Bisnis tetap dapat memiliki karakter pendukung dari archetype lainnya.

Sebagai contoh:

Creator + Explorer

Creator menjadi karakter utama yang menekankan kreativitas. Sementara Explorer menjadi karakter pendukung yang membawa unsur kebebasan dan eksplorasi.

Kombinasi seperti ini masih memungkinkan selama karakter utama tetap terlihat jelas.

Menerapkan Brand Archetype pada Strategi Iklan

Setelah menentukan archetype, tahap berikutnya adalah menerapkannya pada strategi pemasaran.

Misalnya sebuah brand memilih Hero.

Iklan dapat menampilkan perjuangan, tantangan, perkembangan, dan pencapaian. Copywriting dapat menggunakan pesan yang mendorong audiens untuk meningkatkan kemampuan atau mencapai tujuan tertentu.

Jika menggunakan Caregiver, iklan dapat lebih banyak membicarakan perhatian, keamanan, kenyamanan, atau bagaimana produk membantu pelanggan.

Sedangkan brand Jester dapat menggunakan humor dan situasi ringan untuk membangun kedekatan dengan audiens.

Brand archetype dapat digunakan sebagai pedoman dalam menentukan:

  • konsep kampanye iklan;
  • headline dan copywriting;
  • desain visual;
  • storytelling;
  • konten media sosial;
  • video promosi;
  • pemilihan influencer;
  • desain website;
  • kemasan produk;
  • hingga gaya customer service.

Dengan demikian, archetype tidak berhenti sebagai teori branding, tetapi benar-benar diterapkan dalam komunikasi bisnis.

Kesalahan dalam Menentukan Brand Archetype

Meskipun terlihat sederhana, ada beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.

Memilih Archetype karena Mengikuti Brand Terkenal

Jangan memilih archetype hanya karena perusahaan besar berhasil menggunakannya.

Karakter yang efektif untuk satu perusahaan belum tentu cocok untuk bisnis lainnya.

Archetype harus ditentukan berdasarkan identitas, produk, target konsumen, dan positioning bisnis sendiri.

Menggunakan Terlalu Banyak Archetype

Menggabungkan terlalu banyak karakter dapat membuat komunikasi brand kehilangan fokus.

Konsumen akhirnya kesulitan memahami sebenarnya brand tersebut ingin dikenal sebagai apa.

Karena itu, prioritaskan satu karakter utama.

Tidak Konsisten dalam Berkomunikasi

Hari ini sebuah brand tampil profesional dan serius. Besok sangat humoris. Minggu berikutnya tiba-tiba menggunakan karakter pemberontak.

Perubahan ekstrem seperti ini dapat membuat identitas brand sulit dikenali.

Konsistensi penting agar karakter dapat terbentuk dalam pikiran konsumen.

Archetype Tidak Sesuai dengan Pengalaman Pelanggan

Karakter yang disampaikan melalui iklan juga harus sesuai dengan kenyataan.

Brand yang mengusung Caregiver tetapi memberikan pelayanan pelanggan yang buruk akan menciptakan kontradiksi.

Demikian pula brand Creator yang mengaku inovatif tetapi tidak pernah menghadirkan sesuatu yang baru.

Apa yang dijanjikan melalui branding harus didukung oleh pengalaman pelanggan.

Apakah Bisnis Kecil Perlu Menggunakan Brand Archetype?

Brand archetype tidak hanya digunakan oleh perusahaan besar.

Bisnis kecil justru dapat memanfaatkannya untuk membangun identitas sejak awal.

Sebagai contoh, bisnis kerajinan tangan dapat memilih Creator. Toko perlengkapan outdoor dapat menggunakan Explorer. Website edukasi dapat menggunakan Sage. Sedangkan bisnis yang menawarkan produk premium dapat mempertimbangkan Ruler.

Archetype tersebut kemudian dapat dijadikan pedoman ketika menentukan:

  • logo dan identitas visual;
  • warna brand;
  • desain website;
  • kemasan;
  • gaya penulisan konten;
  • iklan digital;
  • konten media sosial;
  • serta cara berkomunikasi dengan pelanggan.

Dengan memiliki pedoman sejak awal, bisnis dapat membangun identitas yang lebih konsisten meskipun kegiatan pemasarannya masih dalam skala kecil.

Baca Juga: Panduan Membandingkan Performa Marketing dari Bulan ke Bulan

Kesimpulan

Brand archetype merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menentukan karakter dan kepribadian sebuah brand.

Secara umum terdapat 12 archetype yang banyak digunakan dalam branding, yaitu Innocent, Explorer, Sage, Hero, Outlaw, Magician, Everyman, Lover, Jester, Caregiver, Creator, dan Ruler.

Tidak ada satu archetype yang selalu lebih baik dibandingkan yang lain.

Archetype yang tepat adalah karakter yang sesuai dengan tujuan bisnis, produk, target konsumen, positioning, serta pengalaman yang ingin diberikan kepada pelanggan.

Untuk menentukannya, bisnis dapat mulai dengan memahami tujuan brand, mengenali target konsumen, menentukan emosi yang ingin dibangun, menganalisis kompetitor, dan membayangkan brand sebagai seorang manusia.

Setelah archetype ditemukan, gunakan karakter tersebut secara konsisten dalam iklan, copywriting, desain visual, konten media sosial, storytelling, website, hingga pelayanan pelanggan.

Dengan penerapan yang konsisten, brand archetype dapat menjadi fondasi untuk membangun identitas bisnis yang lebih jelas, berbeda, dan lebih mudah dikenali oleh konsumen.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan