Iklans - #Pillar Page dan #Supporting Content: Cara Membangun #Struktur Konten - Dalam strategi #content marketing dan #pemasaran digital, membuat banyak artikel saja belum cukup untuk membangun visibilitas #website. Konten perlu disusun dalam struktur yang jelas agar mesin pencari maupun pengunjung dapat memahami hubungan antara satu topik dengan topik lainnya.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah struktur Pillar Page dan Supporting Content. Konsep ini membantu website membangun pembahasan yang lebih mendalam mengenai suatu topik sekaligus menghubungkan berbagai konten yang masih memiliki keterkaitan.
Baca Juga: Cara Membuat Topic Cluster untuk Membangun Otoritas Website
Bagi website yang membahas iklan, digital marketing, dan pemasaran, struktur tersebut dapat diterapkan untuk menyusun konten secara lebih sistematis. Dengan struktur yang baik, satu topik utama dapat dikembangkan menjadi beberapa artikel pendukung yang saling terhubung.

Pillar Page adalah halaman atau artikel utama yang membahas sebuah topik secara luas dan menjadi pusat dari kumpulan konten yang berkaitan dengan topik tersebut.
Pillar Page biasanya memiliki pembahasan yang lebih lengkap dibandingkan artikel biasa. Namun, bukan berarti seluruh informasi harus dijelaskan secara sangat detail dalam satu artikel. Pembahasan tertentu dapat diarahkan ke artikel lain yang secara khusus membahas subtopik tersebut.
Sebagai contoh, sebuah website memiliki topik utama digital advertising. Pillar Page dapat dibuat dengan judul:
“Panduan Lengkap Digital Advertising untuk Pemula”
Artikel tersebut dapat membahas pengertian digital advertising, jenis-jenis iklan, cara menentukan target audiens, anggaran, pemilihan platform, pembuatan iklan, hingga evaluasi kampanye.
Dari topik utama tersebut, berbagai pembahasan yang lebih spesifik dapat dibuat sebagai Supporting Content.
Supporting Content merupakan konten pendukung yang membahas subtopik tertentu secara lebih spesifik dan masih berhubungan dengan Pillar Page.
Jika Pillar Page memberikan gambaran besar, Supporting Content memberikan informasi yang lebih mendalam mengenai bagian-bagian tertentu.
Misalnya dari topik digital advertising, Supporting Content dapat berupa:
Artikel-artikel tersebut kemudian saling dihubungkan dengan Pillar Page maupun konten pendukung lainnya.
Struktur konten yang saling berhubungan membantu website mengembangkan sebuah topik secara lebih mendalam. Pengunjung juga dapat lebih mudah berpindah dari pembahasan umum menuju informasi yang lebih spesifik.
Dari sisi pengelolaan website, struktur ini membuat perencanaan konten menjadi lebih terarah. Pemilik website tidak perlu terus mencari topik secara acak karena satu topik utama dapat dikembangkan menjadi banyak subtopik.
Selain itu, internal linking yang dibangun antara Pillar Page dan Supporting Content dapat membantu mesin pencari memahami hubungan kontekstual antarhalaman.
Namun, struktur ini bukan berarti otomatis membuat sebuah halaman mendapatkan posisi tinggi di hasil pencarian. Kualitas konten, relevansi terhadap kebutuhan pengguna, pengalaman halaman, otoritas website, serta berbagai faktor lainnya tetap berpengaruh.
Baca Juga: Zero-Click Content: Bagaimana Website Tetap Mendapatkan Manfaat dari Pencarian Tanpa Klik
Langkah pertama adalah menentukan topik utama yang cukup luas tetapi tetap relevan dengan fokus website.
Untuk website tentang iklan, misalnya, topik utama dapat berupa:
“Panduan Lengkap Strategi Periklanan Digital”
Setelah menentukan topik, buat pembahasan utama yang mencakup aspek-aspek penting. Artikel dapat dimulai dari pengenalan konsep dasar kemudian berlanjut ke strategi, implementasi, pengukuran, dan optimasi.
Pillar Page sebaiknya memberikan informasi yang cukup untuk membantu pembaca memahami keseluruhan topik. Pada bagian yang membutuhkan pembahasan lebih dalam, tautkan ke Supporting Content yang relevan.
Dengan demikian, Pillar Page berfungsi sebagai pusat informasi, bukan sekadar artikel panjang yang memuat semua kata kunci sekaligus.
Setelah topik utama ditentukan, pecah topik tersebut menjadi beberapa subtopik.
Misalnya Pillar Page membahas strategi periklanan digital, maka subtopiknya dapat mencakup:
Pembahasan dapat dikembangkan menjadi artikel tentang buyer persona, segmentasi audiens, customer journey, dan cara menentukan audiens berdasarkan tujuan kampanye.
Subtopik ini dapat dikembangkan menjadi artikel tentang cara menentukan budget, pembagian anggaran, cost per click, cost per acquisition, dan evaluasi biaya iklan.
Supporting Content dapat membahas copywriting, headline iklan, visual advertising, call to action, hingga pengujian beberapa variasi materi.
Topik ini dapat diarahkan ke pembahasan mengenai CTR, conversion rate, ROAS, engagement, biaya per konversi, serta cara membaca laporan iklan.
Setiap Supporting Content sebaiknya memiliki tujuan yang jelas dan membahas satu permasalahan utama secara lebih mendalam.
Setelah Pillar Page dan Supporting Content tersedia, tahap berikutnya adalah membangun internal linking.
Pillar Page dapat memberikan tautan menuju artikel pendukung yang relevan. Sebaliknya, Supporting Content juga dapat memberikan tautan kembali menuju Pillar Page.
Contohnya, dalam artikel tentang cara menentukan budget iklan, terdapat pembahasan singkat mengenai strategi periklanan digital. Pada bagian tersebut, artikel dapat memberikan tautan menuju Pillar Page yang membahas strategi secara keseluruhan.
Internal linking juga dapat dilakukan antar-Supporting Content selama hubungan topiknya memang relevan.
Yang perlu diperhatikan adalah jangan menambahkan tautan hanya untuk memenuhi jumlah internal link. Tautan harus membantu pembaca menemukan informasi lanjutan yang memang berkaitan dengan pembahasan.
Struktur sederhana dapat dibuat seperti berikut:
Pillar Page:
Panduan Lengkap Digital Advertising
Supporting Content:
Dalam struktur tersebut, seluruh artikel tidak berdiri sendiri. Konten memiliki hubungan berdasarkan topik yang dibahas.
Pillar Page sering dibuat dalam bentuk panduan lengkap, tetapi formatnya tidak terbatas pada artikel “panduan”.
Pillar Page juga dapat berupa halaman yang membahas suatu kategori atau tema besar, selama halaman tersebut mampu menjadi pusat bagi konten yang lebih spesifik.
Misalnya:
Pillar Page:
“Strategi Google Ads untuk Bisnis”
Kemudian Supporting Content dapat membahas:
Dengan pendekatan tersebut, struktur website dapat disesuaikan dengan niche dan kebutuhan pembaca.
Salah satu kesalahan umum adalah membuat terlalu banyak artikel yang sebenarnya membahas topik yang hampir sama. Kondisi ini dapat membuat konten menjadi tumpang tindih dan menyulitkan pengunjung memilih informasi yang paling relevan.
Kesalahan lainnya adalah membuat Pillar Page yang terlalu umum sehingga tidak memberikan manfaat yang cukup bagi pembaca. Pillar Page tetap harus memiliki pembahasan yang konkret dan terstruktur.
Internal linking juga sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan. Gunakan tautan ketika ada hubungan yang logis dan memberikan konteks tambahan kepada pembaca.
Selain itu, Supporting Content sebaiknya tidak dibuat hanya karena ingin mengejar jumlah artikel. Setiap artikel perlu memiliki sudut pembahasan dan tujuan yang jelas.
Baca Juga: Cara Membuat Konten Berdasarkan Informational, Navigational, dan Transactional Intent
Pillar Page dan Supporting Content merupakan salah satu cara untuk membangun struktur konten yang lebih terorganisasi. Pillar Page berfungsi sebagai pusat pembahasan sebuah topik, sedangkan Supporting Content membahas subtopik secara lebih spesifik.
Untuk website yang bergerak di bidang iklan, struktur ini dapat digunakan untuk mengembangkan topik seperti digital advertising, Google Ads, social media advertising, copywriting, target audiens, anggaran iklan, hingga evaluasi kampanye.
Kunci utamanya bukan sekadar membuat banyak artikel, tetapi membangun hubungan yang jelas antara konten utama dan konten pendukung. Dengan perencanaan topik dan internal linking yang tepat, website dapat memiliki struktur informasi yang lebih mudah dipahami oleh pengunjung sekaligus lebih terorganisasi untuk pengelolaan konten jangka panjang.