Iklans

16 Agu
Digital Marketing, Periklanan
10 views
0 Comments

Cara Menentukan Tone of Voice Sebuah Brand agar Komunikasi Lebih Konsisten

#Iklans – Cara Menentukan #Tone of Voice Sebuah #Brand agar Komunikasi Lebih Konsisten – Dalam dunia #pemasaran dan #periklanan, membangun brand yang kuat tidak hanya bergantung pada logo, warna, desain, atau slogan. Cara sebuah brand berbicara kepada #audiens juga memiliki peran penting dalam membentuk identitas dan citra perusahaan.

Gaya komunikasi tersebut dikenal sebagai tone of voice. Tone of voice membantu menentukan bagaimana sebuah brand menyampaikan pesan kepada konsumen, baik melalui iklan, media sosial, website, email marketing, maupun berbagai saluran komunikasi lainnya.

Baca Juga: Strategi Rebranding Tanpa Kehilangan Pelanggan Lama

Pemilihan tone of voice yang tepat dapat membuat sebuah brand lebih mudah dikenali, terasa lebih dekat dengan audiens, serta memiliki karakter yang konsisten. Sebaliknya, komunikasi yang tidak memiliki arah dapat membuat identitas brand terlihat tidak jelas.

Lalu, bagaimana cara menentukan tone of voice sebuah brand? Berikut pembahasannya.

Cara Menentukan Tone of Voice Sebuah Brand agar Komunikasi Lebih Konsisten

Apa Itu Tone of Voice Brand?

Tone of voice adalah gaya atau karakter komunikasi yang digunakan sebuah brand ketika menyampaikan pesan kepada audiens. Sederhananya, tone of voice dapat diibaratkan sebagai cara sebuah brand berbicara.

Jika sebuah brand dianggap sebagai seseorang, maka tone of voice menggambarkan bagaimana orang tersebut berbicara, memilih kata, menyampaikan pendapat, dan berinteraksi dengan orang lain.

Sebagai contoh, sebuah brand dapat memiliki karakter komunikasi yang:

  • Profesional dan formal
  • Ramah dan bersahabat
  • Santai dan kasual
  • Kreatif dan berani
  • Edukatif dan informatif
  • Elegan dan eksklusif
  • Energik dan optimistis
  • Humoris dan menghibur

Setiap karakter tersebut dapat menghasilkan gaya iklan yang berbeda. Karena itu, pemilihan tone of voice harus disesuaikan dengan identitas brand dan target audiens yang ingin dijangkau.

Mengapa Tone of Voice Penting dalam Periklanan?

Tone of voice menjadi bagian penting dari strategi branding karena komunikasi merupakan salah satu cara utama brand berinteraksi dengan konsumen.

Berikut beberapa alasan mengapa tone of voice penting dalam kegiatan periklanan.

1. Membantu Membangun Identitas Brand

Brand yang memiliki gaya komunikasi konsisten akan lebih mudah dikenali oleh audiens. Bahkan, dalam beberapa kasus, konsumen dapat mengenali sebuah brand hanya dari gaya bahasa yang digunakan dalam iklan.

Hal ini membuat tone of voice menjadi salah satu elemen penting dalam membangun identitas brand.

2. Membuat Brand Lebih Mudah Diingat

Pesan iklan yang memiliki karakter tertentu cenderung lebih mudah meninggalkan kesan. Brand yang menggunakan gaya komunikasi unik dan konsisten memiliki peluang lebih besar untuk diingat oleh audiens.

3. Membangun Kedekatan dengan Audiens

Penggunaan bahasa yang sesuai dengan target konsumen dapat membuat komunikasi terasa lebih natural. Audiens akan merasa bahwa brand memahami kebutuhan dan karakter mereka.

4. Menjaga Konsistensi Komunikasi

Sebuah brand biasanya menggunakan berbagai media, mulai dari website, Instagram, TikTok, YouTube, email, hingga iklan digital.

Tanpa pedoman komunikasi yang jelas, setiap kanal dapat menggunakan gaya bahasa yang berbeda. Tone of voice membantu menjaga agar seluruh komunikasi tetap memiliki karakter brand yang sama.

5. Membantu Meningkatkan Efektivitas Iklan

Iklan tidak hanya harus menarik perhatian, tetapi juga harus mampu menyampaikan pesan dengan cara yang sesuai dengan audiens.

Tone of voice yang tepat dapat membuat pesan lebih relevan, mudah dipahami, dan lebih sesuai dengan tujuan kampanye iklan.

Cara Menentukan Tone of Voice Sebuah Brand

Menentukan tone of voice tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa sebuah brand ingin terdengar “santai” atau “profesional”. Dibutuhkan proses yang lebih terarah agar gaya komunikasi benar-benar sesuai dengan identitas bisnis.

1. Pahami Identitas dan Nilai Brand

Langkah pertama adalah memahami siapa brand tersebut dan apa yang ingin ditampilkan kepada publik.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Visi dan misi perusahaan
  • Nilai yang ingin dibangun
  • Produk atau layanan yang ditawarkan
  • Positioning brand
  • Keunggulan dibandingkan kompetitor
  • Citra yang ingin dibangun

Misalnya, sebuah perusahaan ingin dikenal sebagai brand yang modern, sederhana, dan inovatif. Maka gaya komunikasinya sebaiknya tidak terlalu kaku dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

2. Kenali Target Audiens

Tone of voice harus disesuaikan dengan siapa yang menjadi target komunikasi.

Brand perlu memahami karakter audiens, seperti:

  • Usia
  • Pekerjaan
  • Tingkat pendidikan
  • Kebutuhan
  • Kebiasaan
  • Permasalahan yang dihadapi
  • Gaya komunikasi
  • Platform yang sering digunakan

Misalnya, iklan yang ditujukan kepada generasi muda dapat menggunakan bahasa yang lebih ringan dan komunikatif. Sementara itu, brand yang menawarkan layanan profesional kepada perusahaan mungkin membutuhkan gaya bahasa yang lebih formal dan meyakinkan.

3. Tentukan Kepribadian Brand

Bayangkan brand sebagai seorang manusia. Jika brand tersebut berbicara kepada konsumen, seperti apa kepribadiannya?

Misalnya:

Brand A: profesional, terpercaya, dan serius.

Brand B: ramah, santai, dan bersahabat.

Brand C: kreatif, berani, dan energik.

Brand D: elegan, eksklusif, dan berkelas.

Menentukan tiga sampai lima karakter utama dapat membantu tim pemasaran memahami arah komunikasi brand.

4. Tentukan Tingkat Formalitas Bahasa

Selanjutnya, tentukan apakah brand akan menggunakan bahasa formal, semi-formal, atau informal.

Bahasa formal cocok digunakan oleh brand yang ingin menonjolkan kesan profesional dan terpercaya. Sementara itu, bahasa informal dapat digunakan oleh brand yang ingin menciptakan suasana lebih santai dan dekat dengan audiens.

Namun, penggunaan bahasa informal bukan berarti mengabaikan kualitas komunikasi. Bahasa tetap harus jelas, mudah dipahami, dan sesuai dengan konteks.

5. Tentukan Gaya dan Pilihan Kata

Tone of voice juga dapat ditentukan melalui pemilihan kata.

Buat pedoman sederhana mengenai kata-kata yang sebaiknya digunakan dan dihindari.

Contohnya, brand dengan karakter ramah dapat menggunakan kata seperti “kamu”, “teman”, atau “yuk” jika memang sesuai dengan target audiens.

Sebaliknya, brand profesional mungkin lebih tepat menggunakan kata “Anda”, “pelanggan”, atau “konsumen”.

Pemilihan kata yang konsisten akan membantu membentuk karakter komunikasi dalam jangka panjang.

Baca Juga: Kesalahan Branding yang Sering Dilakukan UMKM

6. Tentukan Penggunaan Humor

Humor dapat menjadi elemen menarik dalam iklan, tetapi tidak semua brand cocok menggunakannya.

Brand yang menyasar anak muda mungkin dapat menggunakan humor ringan untuk membuat iklan lebih menarik. Namun, perusahaan yang bergerak di bidang hukum, keuangan, atau layanan profesional perlu mempertimbangkan penggunaan humor secara lebih hati-hati.

Pertanyaannya bukan sekadar apakah humor menarik, tetapi apakah humor tersebut sesuai dengan identitas brand dan situasi komunikasi.

7. Analisis Cara Kompetitor Berkomunikasi

Melihat kompetitor dapat membantu brand menemukan posisi komunikasi yang berbeda.

Perhatikan bagaimana kompetitor:

  • Membuat slogan
  • Menulis caption
  • Membuat headline iklan
  • Menggunakan humor
  • Menyampaikan promosi
  • Menjawab pertanyaan pelanggan

Tujuannya bukan meniru gaya mereka, tetapi menemukan peluang untuk membuat karakter komunikasi yang lebih berbeda dan mudah dikenali.

8. Sesuaikan dengan Platform

Tone of voice perlu konsisten, tetapi cara penerapannya dapat disesuaikan dengan platform.

Misalnya, sebuah brand menggunakan karakter komunikasi yang ramah dan profesional.

Pada website, brand dapat menggunakan bahasa yang lebih informatif dan terstruktur. Sementara itu, pada media sosial, bahasa dapat dibuat lebih ringan dan interaktif.

Karakter utamanya tetap sama, tetapi cara penyampaiannya menyesuaikan konteks.

9. Buat Panduan Tone of Voice

Setelah menentukan karakter komunikasi, buat tone of voice guidelines sebagai pedoman bagi tim.

Panduan tersebut dapat mencakup:

  • Karakter utama brand
  • Gaya bahasa
  • Tingkat formalitas
  • Pilihan kata
  • Kata yang harus dihindari
  • Penggunaan humor
  • Cara membuat headline
  • Cara membuat caption
  • Cara merespons pelanggan
  • Contoh komunikasi yang benar dan salah

Panduan ini sangat berguna ketika sebuah brand memiliki banyak orang yang bertanggung jawab membuat konten dan iklan.

Contoh Tone of Voice dalam Iklan

Untuk memahami penerapannya, misalnya terdapat sebuah brand minuman yang menyasar anak muda.

Brand tersebut memiliki karakter santai, energik, dan bersahabat.

Contoh pesan iklan:

“Hari panjang? Bikin lebih segar dan lanjutkan aktivitasmu!”

Gaya tersebut berbeda dengan perusahaan jasa keuangan yang ingin membangun karakter profesional, terpercaya, dan edukatif.

Contoh pesan iklan:

“Rencanakan keuangan Anda dengan lebih terarah untuk mempersiapkan kebutuhan di masa depan.”

Kedua iklan tersebut memiliki tujuan pemasaran yang sama, tetapi menggunakan gaya komunikasi berbeda karena karakter brand dan target audiensnya berbeda.

Tone of Voice Tidak Harus Selalu Sama

Salah satu hal yang perlu dipahami adalah tone of voice tidak berarti brand harus berbicara dengan gaya yang sama dalam setiap situasi.

Sebuah brand dapat memiliki brand voice yang konsisten, tetapi tone dapat menyesuaikan kondisi.

Sebagai contoh, brand memiliki karakter utama yang ramah dan profesional. Ketika membuat iklan promosi, tone dapat dibuat lebih bersemangat. Ketika memberikan informasi penting kepada pelanggan, tone dapat dibuat lebih serius dan informatif.

Dengan demikian, komunikasi tetap fleksibel tanpa kehilangan identitas utama brand.

Kesalahan yang Perlu Dihindari

Dalam menentukan tone of voice, terdapat beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.

Mengikuti Tren Secara Berlebihan

Bahasa yang sedang viral belum tentu cocok dengan semua brand. Jangan menggunakan istilah tertentu hanya karena sedang populer jika tidak sesuai dengan karakter perusahaan.

Terlalu Banyak Gaya dalam Satu Brand

Jika hari ini brand terdengar formal, kemudian besok sangat santai, dan pada kesempatan lain menggunakan bahasa yang terlalu humoris, audiens dapat kesulitan memahami karakter brand.

Mengutamakan Kreativitas daripada Kejelasan

Iklan memang membutuhkan kreativitas, tetapi pesan tetap harus mudah dipahami. Jangan sampai penggunaan kata-kata unik justru membuat konsumen tidak memahami produk atau penawaran yang disampaikan.

Tidak Memahami Target Audiens

Gaya komunikasi yang menarik bagi satu kelompok belum tentu menarik bagi kelompok lainnya. Karena itu, tone of voice harus selalu dikaitkan dengan karakter target pasar.

Baca Juga: Cara Membuat Brand Guideline Sederhana untuk Bisnis agar Identitas Brand Lebih Konsisten

Kesimpulan

Tone of voice merupakan bagian penting dalam membangun identitas sebuah brand. Melalui gaya komunikasi yang tepat dan konsisten, sebuah brand dapat menjadi lebih mudah dikenali, membangun kedekatan dengan audiens, serta menyampaikan pesan iklan secara lebih efektif.

Untuk menentukan tone of voice, brand perlu memahami identitas perusahaan, mengenali target audiens, menentukan kepribadian brand, memilih tingkat formalitas, menentukan gaya bahasa, menganalisis kompetitor, serta menyesuaikan komunikasi dengan platform yang digunakan.

Pada akhirnya, tone of voice bukan sekadar tentang memilih kata-kata yang terdengar menarik. Lebih dari itu, tone of voice merupakan cara sebuah brand menunjukkan siapa dirinya, bagaimana ingin dipersepsikan, dan bagaimana ingin berkomunikasi dengan audiensnya.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan