Iklans

17 Jan
Tips dan Trik
4 views
0 Comments

Cara Menghindari Overpromise dalam Copywriting Iklan

#Iklans – Cara Menghindari #Overpromise dalam #Copywriting Iklan – Dalam dunia #pemasaran modern, #iklan bukan sekadar alat untuk menjual produk, tetapi juga sarana membangun kepercayaan. Setiap kata yang ditulis dalam sebuah iklan akan membentuk persepsi calon pelanggan terhadap #brand. Sayangnya, masih banyak pebisnis dan marketer yang terjebak pada satu kesalahan klasik: overpromise atau janji yang terlalu berlebihan.

Overpromise sering dianggap sebagai jalan pintas untuk meningkatkan penjualan. Judul yang bombastis, klaim hasil instan, dan janji yang terdengar “terlalu indah untuk jadi kenyataan” memang bisa menarik perhatian dengan cepat. Namun, di balik itu semua, ada risiko besar yang mengintai: kekecewaan pelanggan, rusaknya reputasi bisnis, dan hilangnya kepercayaan dalam jangka panjang.

Baca Juga: Tips Membuat Iklan yang Tetap Dipercaya di Era Banyak Penipuan Online

Artikel ini akan membahas secara mendalam apa itu overpromise dalam copywriting, mengapa hal ini berbahaya, serta bagaimana cara menghindarinya agar iklan tetap menjual tanpa harus mengorbankan kredibilitas.

Cara Menghindari Overpromise dalam Copywriting Iklan

Apa Itu Overpromise dalam Copywriting?

Overpromise adalah kondisi ketika sebuah iklan menjanjikan sesuatu yang melebihi kemampuan produk atau layanan yang sebenarnya. Bentuknya bisa berupa klaim hasil yang terlalu cepat, terlalu mudah, atau terlalu sempurna tanpa risiko.

Contoh overpromise yang sering kita temui antara lain:

  • “Pasti sukses dalam 7 hari!”

  • “100% berhasil tanpa usaha!”

  • “Turun 10 kg dalam seminggu tanpa diet!”

  • “Auto profit setiap hari tanpa perlu belajar!”

Masalah utama dari klaim semacam ini adalah: tidak realistis dan tidak bisa dijamin untuk semua orang. Setiap konsumen memiliki kondisi, kemampuan, dan situasi yang berbeda. Ketika realita tidak sesuai dengan janji iklan, kekecewaan pun tak terhindarkan.


Mengapa Overpromise Sangat Berbahaya?

1. Merusak Kepercayaan Konsumen

Kepercayaan adalah fondasi utama dalam bisnis. Sekali pelanggan merasa dibohongi, mereka bukan hanya tidak akan membeli lagi, tetapi juga bisa menyebarkan pengalaman buruknya kepada orang lain. Dalam era media sosial, satu kekecewaan bisa menyebar dengan sangat cepat.

2. Meningkatkan Komplain dan Refund

Iklan yang terlalu menjanjikan biasanya menarik orang-orang dengan ekspektasi yang terlalu tinggi. Ketika hasil tidak sesuai, yang muncul adalah:

  • Komplain

  • Review negatif

  • Permintaan refund
    Ini bukan hanya melelahkan secara operasional, tapi juga menggerus citra brand.

3. Merusak Brand dalam Jangka Panjang

Brand yang dikenal suka “jualan mimpi” akan sulit bertahan lama. Mungkin penjualan bisa naik di awal, tetapi dalam jangka panjang, kepercayaan publik akan menurun dan bisnis akan sulit berkembang secara berkelanjutan.

4. Berisiko Kena Masalah Platform dan Hukum

Banyak platform iklan seperti Google Ads, Meta Ads, dan marketplace memiliki aturan ketat soal klaim berlebihan. Overpromise bisa menyebabkan:

  • Iklan ditolak

  • Akun iklan dibatasi atau diblokir

  • Bahkan bisa berujung masalah hukum jika dianggap menyesatkan konsumen


Mengapa Banyak Pebisnis Terjebak Overpromise?

Ada beberapa alasan umum:

  • Takut kalah saing dengan kompetitor

  • Ingin iklannya terlihat paling menarik dan mencolok

  • Terlalu fokus ke penjualan jangka pendek

  • Salah kaprah tentang arti copywriting yang “menjual”

Padahal, copywriting yang baik bukan soal siapa yang paling heboh, tapi siapa yang paling meyakinkan dan bisa dipercaya.

Baca Juga: Teknik Menyusun Urutan Cerita dalam Video Iklan

Cara Menghindari Overpromise dalam Copywriting Iklan

1. Fokus pada Proses, Bukan Hanya Hasil

Daripada hanya menjanjikan hasil akhir, lebih baik jelaskan bagaimana prosesnya.

❌ “Pasti profit besar dalam 3 hari!”
✅ “Dengan metode ini, kamu akan belajar membangun sistem yang lebih terstruktur dan terkontrol.”

Dengan menonjolkan proses, kamu:

  • Menurunkan ekspektasi yang tidak realistis

  • Menarik audiens yang lebih serius

  • Membangun persepsi yang lebih profesional


2. Gunakan Bahasa yang Realistis dan Bertanggung Jawab

Hindari kata-kata seperti:

  • Pasti

  • Dijamin

  • Tanpa usaha

  • 100% berhasil

  • Tanpa risiko

Gantilah dengan:

  • Bisa membantu

  • Berpotensi

  • Dirancang untuk

  • Membantu meningkatkan peluang

  • Dengan catatan dan syarat tertentu

Perubahan kecil dalam pilihan kata bisa sangat besar dampaknya terhadap persepsi iklan.


3. Jelaskan Siapa yang Cocok dan Siapa yang Tidak

Iklan yang jujur justru terlihat lebih meyakinkan.

Contoh:

“Program ini cocok untuk kamu yang mau belajar dan konsisten, bukan untuk yang mencari hasil instan tanpa usaha.”

Dengan cara ini:

  • Kamu menyaring audiens sejak awal

  • Mengurangi potensi komplain

  • Meningkatkan kualitas pelanggan


4. Gunakan Bukti Nyata, Bukan Klaim Kosong

Daripada menulis:

“Sudah ribuan orang sukses!”

Lebih baik:

“Lebih dari 1.200 peserta sudah mengikuti program ini, dan sebagian dari mereka berhasil meningkatkan performa bisnisnya secara bertahap.”

Kalau memungkinkan, sertakan:

  • Testimoni asli

  • Studi kasus

  • Data yang masuk akal

Namun ingat: jangan dilebih-lebihkan atau dimanipulasi.


5. Tampilkan Risiko dan Tantangan Secara Jujur

Tidak ada produk atau metode yang benar-benar tanpa risiko. Menyebutkan tantangan justru membuat iklan terlihat lebih dewasa dan profesional.

Contoh:

“Hasil setiap orang bisa berbeda, tergantung konsistensi, kemampuan, dan cara menerapkannya.”

Aneh tapi nyata: iklan yang jujur tentang keterbatasan sering kali lebih dipercaya.


6. Bangun Mindset: Jual Solusi, Bukan Mimpi Kosong

Tujuan copywriting bukan menipu orang agar beli, tetapi:

  • Membantu mereka mengambil keputusan yang tepat

  • Menjelaskan nilai produk secara masuk akal

  • Menawarkan solusi yang realistis

Lebih baik menjanjikan:

  • Perbaikan bertahap

  • Sistem yang lebih rapi

  • Proses yang lebih terarah

Daripada menjanjikan hidup berubah dalam semalam.


7. Uji Copywriting dengan Pertanyaan Kritis

Sebelum iklan dipublikasikan, tanyakan:

  • Apakah ini masuk akal jika saya yang jadi pembeli?

  • Apakah klaim ini bisa dibuktikan?

  • Apakah semua orang bisa mendapatkan hasil seperti ini?

  • Apakah saya siap bertanggung jawab atas janji ini?

Kalau ada satu saja yang membuat ragu, turunkan klaimnya.


Contoh Overpromise vs Versi yang Lebih Sehat

❌ Overpromise:

“Pakai strategi ini, auto profit tiap hari tanpa mikir!”

✅ Lebih realistis:

“Strategi ini membantu kamu membangun sistem trading yang lebih disiplin dan mengurangi keputusan emosional.”

Baca Juga: Cara Mengemas Fitur Produk Menjadi Manfaat Emosional dalam Iklan

Kesimpulan

Overpromise mungkin bisa meningkatkan penjualan dalam jangka pendek, tetapi hampir selalu menghancurkan kepercayaan dalam jangka panjang. Bisnis yang sehat dibangun bukan dari janji besar, melainkan dari ekspektasi yang realistis dan pengalaman pelanggan yang sesuai dengan iklan.

Dalam copywriting, ingatlah prinsip sederhana ini:

Lebih baik menjanjikan lebih sedikit tapi ditepati, daripada menjanjikan terlalu banyak tapi mengecewakan.

Dengan menghindari overpromise, kamu bukan hanya membuat iklan yang lebih etis, tetapi juga membangun fondasi brand yang kuat, dipercaya, dan tahan lama.

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan