Mengapa Arus Kas Bisa Lebih Penting daripada Laba?
Iklans – Mengapa #Arus Kas Bisa Lebih Penting daripada #Laba? – Dalam dunia #bisnis, laba sering menjadi tolok ukur utama untuk menilai keberhasilan sebuah usaha. Semakin besar laba yang diperoleh, semakin baik pula kondisi bisnis tersebut di mata banyak orang.
Namun, laba bukan satu-satunya indikator yang perlu diperhatikan.
Baca Juga: Gross Margin vs Net Margin: Apa Perbedaannya bagi Pemilik Bisnis?
Sebuah bisnis bisa saja mencatat laba yang cukup besar, tetapi tetap kesulitan membayar gaji karyawan, membeli stok, membayar pemasok, atau menjalankan iklan. Kondisi seperti ini biasanya berkaitan dengan arus kas atau cash flow.
Arus kas menunjukkan bagaimana uang benar-benar masuk dan keluar dari bisnis. Karena berhubungan langsung dengan kemampuan perusahaan membayar berbagai kebutuhan operasional, dalam kondisi tertentu arus kas bahkan bisa lebih penting daripada laba.
Lantas, mengapa demikian?

Apa Itu Arus Kas?
Arus kas (cash flow) adalah pergerakan uang masuk dan keluar dari suatu bisnis dalam periode tertentu.
Uang masuk atau cash inflow dapat berasal dari:
- Penjualan produk atau jasa
- Pembayaran piutang pelanggan
- Pendapatan investasi
- Tambahan modal
- Pinjaman usaha
- Sumber pemasukan bisnis lainnya
Sedangkan uang keluar atau cash outflow dapat digunakan untuk:
- Membeli bahan baku
- Membayar gaji karyawan
- Membayar sewa tempat
- Membayar pemasok
- Membayar tagihan operasional
- Membeli persediaan
- Membayar cicilan
- Membiayai iklan dan pemasaran
Ketika uang yang masuk lebih besar daripada uang yang keluar, bisnis memiliki arus kas positif.
Sebaliknya, apabila pengeluaran lebih besar dibandingkan pemasukan kas pada periode tersebut, bisnis mengalami arus kas negatif.
Apa Perbedaan Arus Kas dan Laba?
Meskipun sering dianggap sama, arus kas dan laba merupakan dua hal yang berbeda.
Laba menunjukkan selisih antara pendapatan dan beban perusahaan berdasarkan pencatatan akuntansi dalam periode tertentu.
Sementara itu, arus kas menunjukkan uang yang benar-benar diterima atau dikeluarkan oleh perusahaan.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan berhasil menjual produk senilai Rp100 juta kepada pelanggan dengan sistem pembayaran 60 hari.
Penjualan tersebut dapat dicatat sebagai pendapatan sesuai prinsip akuntansi yang berlaku. Namun, perusahaan belum tentu langsung menerima uang Rp100 juta pada hari transaksi dilakukan.
Sementara menunggu pembayaran, perusahaan tetap harus mengeluarkan uang untuk membayar gaji, membeli bahan baku, membayar pemasok, hingga menjalankan iklan.
Jika kas yang tersedia tidak mencukupi, perusahaan dapat mengalami masalah likuiditas meskipun secara akuntansi terlihat menghasilkan laba.
Mengapa Arus Kas Bisa Lebih Penting daripada Laba?
Ada beberapa alasan mengapa arus kas perlu mendapatkan perhatian serius dalam menjalankan bisnis.
1. Operasional Membutuhkan Uang Tunai
Berbagai kewajiban bisnis membutuhkan uang yang benar-benar tersedia.
Mulai dari membayar gaji karyawan, listrik, internet, sewa tempat, pemasok, hingga biaya pemasaran.
Laba yang tercatat dalam laporan keuangan tidak otomatis berarti seluruh uang tersebut sudah berada di rekening perusahaan.
Karena itulah, bisnis membutuhkan arus kas yang sehat agar kegiatan operasional dapat terus berjalan.
2. Arus Kas Menjaga Kelancaran Bisnis
Bayangkan sebuah toko online mengalami peningkatan pesanan secara signifikan.
Untuk memenuhi permintaan tersebut, pemilik harus membeli stok tambahan. Masalahnya, sebagian pembayaran dari penjualan sebelumnya mungkin masih dalam proses pencairan.
Apabila kas yang tersedia terlalu sedikit, bisnis dapat kesulitan membeli stok meskipun jumlah penjualannya sedang meningkat.
Akibatnya, perusahaan justru berisiko kehilangan peluang penjualan.
3. Pertumbuhan Bisnis Membutuhkan Modal
Semakin berkembang sebuah bisnis, semakin besar pula kebutuhan modalnya.
Perusahaan mungkin harus:
- Menambah persediaan
- Merekrut karyawan
- Membeli peralatan
- Memperbesar kapasitas produksi
- Menyewa gudang
- Membuka cabang
- Meningkatkan anggaran iklan
Sebagian pengeluaran tersebut harus dilakukan sebelum perusahaan memperoleh tambahan pendapatan.
Oleh karena itu, pertumbuhan yang terlalu cepat tanpa pengelolaan arus kas yang baik juga dapat menimbulkan tekanan keuangan.
4. Arus Kas Membantu Menghadapi Pengeluaran Tidak Terduga
Dalam menjalankan bisnis, tidak semua pengeluaran dapat diprediksi.
Peralatan dapat mengalami kerusakan, harga bahan baku meningkat, penjualan menurun, atau terdapat kebutuhan operasional mendadak.
Bisnis yang memiliki kondisi kas sehat mempunyai ruang lebih besar untuk menghadapi situasi seperti ini tanpa langsung mengganggu kegiatan operasional.
5. Arus Kas Memberikan Fleksibilitas dalam Mengambil Keputusan
Ketersediaan kas juga memberikan perusahaan lebih banyak pilihan.
Ketika muncul peluang yang menarik, perusahaan dapat bertindak lebih cepat. Misalnya membeli stok dengan harga diskon, meningkatkan kapasitas produksi, atau menjalankan kampanye pemasaran tambahan.
Sebaliknya, perusahaan dengan kas yang sangat terbatas mungkin harus melewatkan peluang tersebut meskipun bisnisnya mencatat laba.
Hubungan Arus Kas dengan Iklan
Arus kas juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan kegiatan periklanan.
Bisnis yang menggunakan iklan berbayar biasanya harus mengeluarkan biaya terlebih dahulu untuk mendapatkan pelanggan.
Misalnya:
Biaya iklan: Rp10 juta
Penjualan dari iklan: Rp30 juta
Sekilas, hasil kampanye tersebut terlihat menarik.
Namun, angka penjualan saja belum cukup.
Perusahaan juga harus mengetahui kapan uang dari pelanggan benar-benar diterima.
Jika biaya iklan Rp10 juta harus dibayar sekarang, sedangkan sebagian besar pendapatan baru diterima beberapa minggu kemudian, terdapat jeda antara pengeluaran uang dan penerimaan uang.
Semakin besar skala iklan, semakin besar pula modal yang mungkin diperlukan untuk menutup jeda tersebut.
Baca Juga: Cara Meningkatkan Customer Lifetime Value (CLV) untuk Memaksimalkan Nilai Pelanggan
Iklan Menguntungkan Belum Tentu Aman untuk Arus Kas
Misalnya sebuah perusahaan memiliki data kampanye berikut:
Biaya iklan: Rp20 juta
Pendapatan dari kampanye: Rp50 juta
Estimasi laba setelah berbagai biaya: Rp10 juta
Secara sederhana, kampanye tersebut terlihat menguntungkan.
Namun, bagaimana jika Rp20 juta harus dibayarkan kepada platform iklan minggu ini, sedangkan sebagian besar pembayaran pelanggan baru diterima 30–60 hari kemudian?
Perusahaan tetap membutuhkan uang untuk menjalankan kampanye berikutnya.
Jika kas yang tersedia tidak cukup, bisnis mungkin harus mengurangi atau bahkan menghentikan kampanye meskipun iklan tersebut sebenarnya menghasilkan keuntungan.
Inilah sebabnya perusahaan tidak seharusnya hanya melihat ROI (Return on Investment) atau ROAS (Return on Ad Spend).
Perusahaan juga perlu mengetahui seberapa cepat biaya yang dikeluarkan dapat kembali menjadi kas.
Mengapa Bisnis dengan Laba Tinggi Bisa Kekurangan Uang?
Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan bisnis terlihat menguntungkan tetapi tetap kekurangan kas.
Banyak Penjualan Secara Kredit
Semakin banyak penjualan yang belum dibayar pelanggan, semakin besar jumlah uang yang tertahan dalam piutang.
Persediaan Terlalu Besar
Membeli stok dalam jumlah besar membuat sebagian kas perusahaan berubah menjadi persediaan.
Jika barang tersebut membutuhkan waktu lama untuk terjual, uang perusahaan juga akan tertahan lebih lama.
Ekspansi Terlalu Cepat
Pembukaan cabang, perekrutan karyawan, pembelian peralatan, atau peningkatan kapasitas produksi membutuhkan uang dalam jumlah besar.
Anggaran Iklan Terlalu Agresif
Meningkatkan anggaran iklan dengan cepat dapat memberikan pertumbuhan penjualan. Namun, jika uang hasil penjualan tidak kembali dengan cepat, kebutuhan modal kerja juga akan meningkat.
Pembayaran Pelanggan Terlambat
Semakin lama pelanggan membayar tagihan, semakin lama pula perusahaan harus menanggung biaya operasional menggunakan kas yang dimilikinya.
Apakah Artinya Laba Tidak Penting?
Tentu tidak.
Laba tetap menjadi salah satu indikator penting untuk mengetahui apakah model bisnis mampu menghasilkan keuntungan.
Bisnis yang terus mengalami kerugian dalam jangka panjang tentu sulit dipertahankan hanya dengan mengandalkan kas yang tersedia.
Karena itu, laba dan arus kas sebenarnya saling melengkapi.
Laba membantu menjawab pertanyaan:
“Apakah bisnis ini menghasilkan keuntungan?”
Sedangkan arus kas membantu menjawab:
“Apakah bisnis memiliki cukup uang untuk menjalankan kewajibannya?”
Bisnis yang sehat idealnya mampu menghasilkan laba sekaligus mempertahankan arus kas yang baik.
Cara Menjaga Arus Kas Bisnis Tetap Sehat
Pengelolaan arus kas tidak harus menunggu bisnis mengalami masalah keuangan. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan sejak awal.
1. Buat Proyeksi Arus Kas
Perkirakan jumlah uang yang akan masuk dan keluar dalam beberapa minggu atau bulan mendatang.
Dengan cara ini, perusahaan dapat memperkirakan kapan kemungkinan terjadi kekurangan kas.
2. Percepat Penerimaan Pembayaran
Usahakan agar pembayaran pelanggan dapat diterima secepat mungkin.
Untuk bisnis yang menggunakan sistem invoice, pastikan proses penagihan dilakukan secara teratur.
3. Pantau Piutang Pelanggan
Jangan hanya mencatat jumlah penjualan.
Perhatikan pula berapa banyak penjualan yang belum dibayar dan kapan pembayaran tersebut diperkirakan masuk.
4. Kelola Persediaan dengan Efisien
Hindari membeli stok secara berlebihan jika tingkat permintaannya belum jelas.
Persediaan yang terlalu besar dapat membuat banyak uang perusahaan tertahan dalam bentuk barang.
5. Atur Pembayaran kepada Pemasok
Jika memungkinkan, negosiasikan jadwal pembayaran yang sesuai dengan siklus penerimaan kas perusahaan.
Namun, pembayaran tetap harus dilakukan sesuai kesepakatan agar hubungan dengan pemasok tetap terjaga.
6. Siapkan Cadangan Kas
Memiliki cadangan kas dapat membantu bisnis menghadapi penurunan pendapatan atau pengeluaran tidak terduga.
Besarnya cadangan sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing bisnis.
7. Tingkatkan Anggaran Iklan Secara Bertahap
Ketika menemukan kampanye yang menghasilkan performa bagus, jangan terburu-buru meningkatkan anggaran secara ekstrem.
Perhatikan apakah bisnis mempunyai kas yang cukup untuk membiayai peningkatan kampanye sekaligus memenuhi kebutuhan operasional lainnya.
Jangan Hanya Terpaku pada Omzet
Omzet besar memang menarik, tetapi tidak selalu menunjukkan kondisi bisnis yang sehat.
Misalnya terdapat dua bisnis:
Bisnis A
Omzet Rp500 juta per bulan, tetapi memiliki margin kecil, biaya iklan tinggi, banyak piutang, dan persediaan besar.
Bisnis B
Omzet Rp200 juta per bulan, tetapi mempunyai margin lebih baik, pembayaran pelanggan lebih cepat, dan pengeluaran lebih terkendali.
Tidak bisa langsung disimpulkan bahwa Bisnis A lebih sehat hanya karena memiliki omzet lebih besar.
Pemilik usaha perlu melihat bagaimana pendapatan tersebut berubah menjadi laba dan kas yang benar-benar tersedia.
Arus Kas dan Laba Harus Berjalan Bersama
Mempertentangkan laba dan arus kas sebenarnya kurang tepat karena keduanya dibutuhkan untuk membangun bisnis yang sehat.
Dalam jangka panjang, perusahaan membutuhkan laba agar bisnis mempunyai model ekonomi yang berkelanjutan.
Namun, dalam kegiatan sehari-hari, perusahaan membutuhkan kas untuk terus beroperasi.
Sederhananya:
Laba menunjukkan kemampuan bisnis menghasilkan keuntungan.
Arus kas menunjukkan kemampuan bisnis mempertahankan perputaran uang untuk menjalankan aktivitasnya.
Ketika keduanya dikelola dengan baik, bisnis memiliki fondasi keuangan yang jauh lebih kuat.
Baca Juga: Mengenal Contribution Margin dalam Pengambilan Keputusan Bisnis
Kesimpulan
Arus kas bisa lebih penting daripada laba dalam situasi tertentu karena bisnis membutuhkan uang yang benar-benar tersedia untuk menjalankan kegiatan operasional.
Perusahaan dapat mencatat laba tetapi tetap mengalami kesulitan keuangan apabila uang dari pelanggan belum diterima, terlalu banyak dana tertahan dalam persediaan, atau pengeluaran harus dilakukan lebih cepat daripada penerimaan kas.
Hal yang sama berlaku dalam periklanan. Kampanye dengan ROI dan ROAS yang tinggi belum tentu sehat dari sisi arus kas apabila biaya iklan harus dikeluarkan jauh sebelum pendapatan diterima.
Karena itu, pemilik bisnis sebaiknya tidak hanya bertanya:
“Berapa omzet dan laba yang berhasil diperoleh?”
Tetapi juga:
“Berapa banyak uang yang benar-benar tersedia untuk menjalankan bisnis?”
Dengan memahami laba dan arus kas secara bersamaan, pemilik usaha dapat mengambil keputusan yang lebih baik dalam mengelola operasional, menentukan anggaran iklan, melakukan ekspansi, dan merencanakan pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.
