Tips Menghindari Bahasa Iklan yang Terlalu Kaku
#Iklans – #Tips Menghindari Bahasa #Iklan yang Terlalu Kaku – #Bahasa iklan memegang peranan yang sangat penting dalam keberhasilan sebuah #kampanye #pemasaran. Sebagus apa pun produk atau jasa yang ditawarkan, pesan iklan yang disampaikan dengan bahasa kaku, terlalu formal, dan tidak komunikatif berpotensi membuat audiens kehilangan minat. Di tengah banjir informasi dan iklan di berbagai platform, audiens cenderung lebih tertarik pada pesan yang terasa dekat, relevan, dan “manusiawi”.
Baca Juga: Teknik Menulis Iklan untuk Produk yang Sulit Dijelaskan
Bahasa iklan yang terlalu kaku sering kali muncul karena keinginan pengiklan untuk terdengar profesional. Namun, profesionalitas tidak selalu identik dengan bahasa formal dan berjarak. Justru, iklan yang efektif adalah iklan yang mampu menyampaikan pesan dengan jelas, ringan, dan sesuai dengan cara berpikir target audiens. Oleh karena itu, memahami cara menghindari bahasa iklan yang kaku menjadi keterampilan penting bagi siapa pun yang berkecimpung di dunia pemasaran dan periklanan.

Tips Menghindari Bahasa Iklan yang Terlalu Kaku
Memahami Ciri Bahasa Iklan yang Terlalu Kaku
Sebelum membahas tips menghindarinya, penting untuk memahami ciri-ciri bahasa iklan yang kaku. Umumnya, bahasa iklan seperti ini ditandai dengan kalimat panjang dan kompleks, penggunaan istilah teknis yang berlebihan, serta gaya komunikasi satu arah yang terasa menggurui. Selain itu, bahasa kaku sering dipenuhi klaim normatif tanpa penjelasan, seperti “produk terbaik”, “solusi paling tepat”, atau “berkualitas tinggi”.
Bahasa semacam ini memang terdengar resmi, tetapi sering kali gagal membangun koneksi emosional dengan audiens. Akibatnya, pesan iklan tidak melekat di ingatan dan sulit mendorong audiens untuk mengambil tindakan.
1. Kenali Target Audiens Secara Mendalam
Langkah paling dasar untuk menghindari bahasa iklan yang kaku adalah memahami siapa target audiens Anda. Setiap kelompok audiens memiliki karakter, latar belakang, dan gaya komunikasi yang berbeda. Bahasa yang cocok untuk segmen profesional belum tentu sesuai untuk anak muda atau pelaku usaha kecil.
Dengan mengenali target audiens, Anda dapat menyesuaikan pilihan kata, nada bicara, dan gaya penyampaian pesan. Iklan yang menggunakan bahasa yang familiar bagi audiens akan terasa lebih dekat dan tidak seperti pesan promosi yang dipaksakan.
2. Gunakan Bahasa yang Sederhana dan Langsung
Kesalahan umum dalam penulisan iklan adalah mencoba terlihat “pintar” dengan kalimat yang rumit. Padahal, audiens iklan biasanya tidak memiliki banyak waktu untuk mencerna pesan yang panjang dan berbelit-belit. Bahasa yang sederhana dan langsung ke inti pesan jauh lebih efektif.
Gunakan kalimat pendek, struktur yang jelas, dan hindari anak kalimat yang tidak perlu. Semakin mudah iklan dipahami, semakin besar kemungkinan pesan tersebut diterima dan diingat oleh audiens.
Baca Juga: Cara Menyusun Pesan Iklan agar Mudah Diingat Audiens
3. Kurangi Penggunaan Istilah Teknis
Istilah teknis memang terkadang dibutuhkan, terutama untuk produk yang bersifat spesifik. Namun, penggunaan istilah tersebut secara berlebihan justru membuat iklan terasa kaku dan eksklusif. Audiens bisa merasa tidak dilibatkan karena tidak memahami istilah yang digunakan.
Jika harus menggunakan istilah teknis, sertakan penjelasan singkat dengan bahasa yang mudah dipahami. Tujuannya bukan untuk menunjukkan kehebatan produk dari sisi teknis saja, tetapi memastikan audiens mengerti manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
4. Terapkan Gaya Bahasa Percakapan
Salah satu cara paling efektif untuk melunakkan bahasa iklan adalah dengan menggunakan gaya percakapan. Anggap iklan sebagai obrolan ringan antara merek dan audiens, bukan sebagai pidato resmi. Penggunaan kata ganti orang seperti “kamu”, “Anda”, atau “kita” dapat menciptakan kesan dialog yang lebih akrab.
Selain itu, kalimat tanya retoris juga dapat digunakan untuk menarik perhatian audiens. Gaya ini membuat iklan terasa lebih hidup dan mendorong audiens untuk terlibat secara emosional.
5. Fokus pada Manfaat, Bukan Sekadar Fitur
Bahasa iklan yang kaku sering kali muncul karena terlalu fokus pada fitur dan spesifikasi produk. Padahal, audiens lebih tertarik pada manfaat nyata yang bisa mereka rasakan. Menjelaskan manfaat dengan bahasa sederhana akan membuat iklan terasa lebih relevan dan tidak terlalu teknis.
Alih-alih memaparkan detail yang panjang, coba kaitkan produk dengan masalah atau kebutuhan sehari-hari audiens. Dengan begitu, pesan iklan terasa lebih personal dan tidak kaku.
6. Hindari Klaim Klise dan Berlebihan
Klaim seperti “paling unggul”, “nomor satu”, atau “terbaik di kelasnya” sudah terlalu sering digunakan dalam iklan. Jika tidak disertai bukti atau penjelasan, klaim ini justru membuat iklan terasa kaku dan kurang meyakinkan.
Gunakan bahasa yang lebih jujur dan spesifik. Ceritakan keunggulan produk secara realistis, misalnya melalui contoh penggunaan atau pengalaman pelanggan. Pendekatan ini membuat iklan terasa lebih natural dan dipercaya.
7. Gunakan Cerita untuk Membangun Kedekatan
Cerita adalah elemen penting untuk menghindari bahasa iklan yang kaku. Dengan menyisipkan cerita sederhana yang relevan dengan audiens, iklan akan terasa lebih manusiawi. Cerita tidak harus panjang atau rumit, cukup menggambarkan situasi yang sering dialami audiens dan bagaimana produk hadir sebagai solusi.
Pendekatan storytelling membantu audiens membayangkan diri mereka menggunakan produk, sehingga pesan iklan terasa lebih hidup dan tidak kering.
8. Lakukan Evaluasi dan Penyuntingan Ulang
Setelah menulis naskah iklan, jangan langsung digunakan. Bacalah ulang dengan sudut pandang audiens. Tanyakan pada diri sendiri apakah bahasa yang digunakan terasa seperti percakapan sehari-hari atau masih terdengar terlalu formal.
Jika memungkinkan, mintalah orang lain untuk membaca dan memberikan masukan. Proses evaluasi ini penting untuk memastikan bahasa iklan sudah cukup luwes dan tidak kaku.
Baca Juga: Cara Membuat SOP Sederhana untuk Tim Marketing Kecil
Penutup
Menghindari bahasa iklan yang terlalu kaku bukan berarti menghilangkan unsur profesionalitas. Sebaliknya, bahasa yang luwes, jelas, dan relevan justru menunjukkan bahwa sebuah merek memahami audiensnya dengan baik. Dengan menggunakan bahasa sederhana, gaya percakapan, serta fokus pada manfaat dan cerita, iklan dapat menjadi lebih menarik dan efektif.
Pada akhirnya, iklan yang sukses adalah iklan yang mampu berkomunikasi secara manusiawi. Ketika bahasa iklan terasa dekat dan mudah dipahami, audiens tidak hanya menerima pesan, tetapi juga membangun kepercayaan terhadap merek yang menyampaikannya.
Bagikan ini:
- Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Berbagi di Tumblr(Membuka di jendela yang baru) Tumblr
- Bagikan ke Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
- Lagi
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Bagikan ke Reddit(Membuka di jendela yang baru) Reddit
- Bagikan ke Pocket(Membuka di jendela yang baru) Pocket
- Bagikan ke Mastodon(Membuka di jendela yang baru) Mastodon
- Bagikan ke Nextdoor(Membuka di jendela yang baru) Nextdoor
- Bagikan ke Bluesky(Membuka di jendela yang baru) Bluesky
