Iklans

30 Agu
Tips dan Trik
12 views
0 Comments

Teknik Membuat Copy untuk Konsumen yang Belum Sadar Membutuhkan Produk

#Iklans – Teknik Membuat #Copy untuk #Konsumen yang Belum Sadar Membutuhkan Produk – Dalam dunia #periklanan, menjangkau konsumen yang sudah mengetahui kebutuhannya relatif lebih mudah. Mereka biasanya sedang mencari informasi, membandingkan produk, atau bahkan sudah memiliki niat untuk membeli.

Tantangannya menjadi berbeda ketika iklan ditujukan kepada konsumen yang belum menyadari bahwa mereka membutuhkan suatu produk. Konsumen dalam kondisi ini belum merasa memiliki masalah, belum mencari solusi, dan belum memiliki alasan untuk membeli.

Baca Juga: Cara Menemukan Kata-Kata yang Digunakan Konsumen untuk Dijadikan Materi Iklan

Oleh karena itu, copy iklan tidak bisa langsung berfokus pada penjualan. Pengiklan perlu terlebih dahulu membangun kesadaran konsumen terhadap masalah atau kebutuhan yang mungkin selama ini mereka abaikan.

Melalui copywriting yang tepat, iklan dapat mengubah kondisi tersebut secara bertahap, mulai dari membuat konsumen merasa relate, menyadari adanya masalah, memahami dampaknya, hingga melihat produk sebagai solusi.

Teknik Membuat Copy untuk Konsumen yang Belum Sadar Membutuhkan Produk

Memahami Konsumen yang Belum Sadar Membutuhkan Produk

Konsumen yang belum sadar membutuhkan produk merupakan calon pelanggan yang belum menyadari adanya masalah atau kebutuhan yang dapat diselesaikan oleh produk tertentu.

Sebagai contoh, seseorang mungkin tidak merasa membutuhkan aplikasi pencatat keuangan karena menganggap kondisi keuangannya masih baik. Namun, ketika melihat iklan yang menjelaskan bagaimana pengeluaran kecil yang tidak tercatat dapat membuat seseorang kesulitan mengetahui ke mana uangnya digunakan, konsumen mulai menyadari adanya masalah.

Dalam situasi tersebut, iklan tidak seharusnya langsung mengatakan:

“Gunakan aplikasi kami untuk mengatur keuangan Anda.”

Pesan tersebut terlalu cepat masuk ke tahap penawaran.

Pendekatan yang lebih tepat adalah memulai dengan sesuatu yang membuat konsumen berpikir:

“Apakah saya juga mengalami masalah tersebut?”

Dari sinilah proses membangun kesadaran dimulai.

Mengapa Copy untuk Konsumen Ini Membutuhkan Pendekatan Berbeda?

Konsumen yang sudah mengetahui masalahnya biasanya lebih mudah menerima iklan yang menawarkan solusi. Mereka sudah memahami kebutuhannya sehingga informasi mengenai produk menjadi lebih relevan.

Sementara itu, konsumen yang belum sadar membutuhkan produk belum memiliki alasan untuk memperhatikan penawaran.

Jika iklan langsung menawarkan produk, konsumen dapat menganggapnya tidak relevan.

Karena itu, copy perlu mengikuti perjalanan kesadaran konsumen:

Tidak sadar masalah → Menyadari masalah → Memahami dampak → Mengenal solusi → Mempertimbangkan produk → Mengambil tindakan

Semakin rendah tingkat kesadaran konsumen, semakin besar kebutuhan untuk menggunakan copy yang bersifat edukatif dan persuasif secara bertahap.

Teknik Membuat Copy untuk Konsumen yang Belum Sadar Membutuhkan Produk

1. Mulai dari Masalah yang Sering Diabaikan

Teknik pertama adalah mengangkat masalah kecil yang sebenarnya sering dialami konsumen, tetapi dianggap sebagai sesuatu yang normal.

Misalnya, sebuah produk aplikasi pengelolaan keuangan dapat menggunakan copy:

“Merasa uang cepat habis setiap bulan, padahal tidak merasa membeli sesuatu yang mahal?”

Kalimat tersebut tidak langsung menjual produk. Sebaliknya, copy mengajak konsumen melihat kembali kondisi mereka.

Jika konsumen merasa pernah mengalami hal tersebut, perhatian mereka terhadap iklan akan meningkat.

Setelah itu, pengiklan dapat menjelaskan penyebab masalah dan memperkenalkan produk sebagai salah satu solusi.

2. Gunakan Pertanyaan yang Mengajak Konsumen Berpikir

Pertanyaan dapat menjadi pembuka yang efektif karena membuat konsumen melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri.

Misalnya:

“Berapa banyak waktu yang Anda habiskan setiap minggu untuk mengerjakan pekerjaan yang sama berulang kali?”

Pertanyaan tersebut lebih menarik dibandingkan langsung mengatakan:

“Gunakan aplikasi kami untuk menghemat waktu.”

Tujuannya adalah membuat konsumen menemukan masalahnya sendiri melalui pertanyaan yang diberikan.

3. Gambarkan Situasi yang Familiar

Copy yang menggambarkan situasi sehari-hari dapat membuat konsumen merasa bahwa iklan tersebut memang ditujukan kepada mereka.

Contohnya, untuk produk penyimpanan makanan:

“Baru belanja sayuran beberapa hari lalu, tetapi sebagian sudah tidak layak digunakan?”

Situasi tersebut lebih mudah dipahami dibandingkan copy yang hanya mengatakan:

“Wadah makanan berkualitas dengan harga terjangkau.”

Kunci teknik ini adalah memahami kebiasaan dan permasalahan target audiens.

Semakin dekat situasi yang digambarkan dengan kehidupan konsumen, semakin besar kemungkinan mereka merasa terhubung dengan iklan.

4. Tunjukkan Dampak dari Masalah

Setelah konsumen mengenali masalah, jelaskan mengapa masalah tersebut perlu diperhatikan.

Misalnya:

“Pengeluaran kecil mungkin terlihat tidak berarti. Namun jika terjadi setiap hari dan tidak pernah dicatat, jumlahnya dapat membuat Anda kesulitan mengetahui kondisi keuangan sebenarnya.”

Copy tersebut membantu konsumen melihat bahwa sesuatu yang selama ini dianggap sepele ternyata dapat memberikan dampak.

Namun, hindari penggunaan klaim yang terlalu menakut-nakuti atau tidak masuk akal.

5. Jangan Terburu-Buru Menawarkan Produk

Salah satu kesalahan dalam membuat iklan untuk konsumen yang belum sadar membutuhkan produk adalah langsung memperkenalkan produk pada awal copy.

Misalnya:

“Gunakan aplikasi X untuk mengatur keuangan Anda.”

Bagi konsumen yang belum merasa memiliki masalah keuangan, pesan tersebut mungkin tidak menarik.

Copy dapat dimulai dengan:

“Sudah berusaha menghemat, tetapi saldo tetap cepat berkurang?”

Kemudian jelaskan kemungkinan penyebabnya sebelum memperkenalkan produk.

Dengan cara ini, produk hadir sebagai jawaban terhadap masalah yang baru saja disadari konsumen.

Baca Juga: Teknik Membuat Copy Iklan dengan Konsep Before–After–Bridge

6. Fokus pada Manfaat, Bukan Hanya Fitur

Fitur menjelaskan apa yang dimiliki sebuah produk, sedangkan manfaat menjelaskan apa yang dapat diperoleh konsumen.

Contohnya:

Fitur:

“Dilengkapi pencatatan transaksi, laporan bulanan, kategori pengeluaran, dan analisis keuangan.”

Manfaat:

“Ketahui ke mana uang Anda pergi setiap bulan tanpa harus mengingat setiap transaksi satu per satu.”

Untuk konsumen yang belum sadar membutuhkan produk, manfaat biasanya lebih mudah dipahami karena langsung berkaitan dengan permasalahan mereka.

7. Gunakan Pendekatan Edukatif

Tidak semua iklan harus langsung berusaha menjual.

Untuk konsumen yang belum menyadari kebutuhannya, pendekatan edukatif dapat menjadi pilihan yang efektif.

Misalnya, perusahaan yang menjual produk perawatan kendaraan dapat membuat copy:

“Mesin kendaraan tidak selalu menunjukkan masalah ketika performanya mulai menurun. Beberapa tanda justru muncul dari perubahan kecil yang sering diabaikan.”

Setelah memberikan informasi tersebut, iklan dapat mengarahkan konsumen kepada solusi yang relevan.

Pendekatan ini membuat iklan terasa lebih informatif dan membantu konsumen memahami masalah sebelum menerima penawaran.

8. Bangun Rasa Ingin Tahu

Rasa ingin tahu dapat digunakan untuk membuat konsumen berhenti sejenak dan memperhatikan iklan.

Contohnya:

“3 kebiasaan sederhana yang diam-diam membuat pengeluaran bulanan semakin besar.”

Atau:

“Mengapa pekerjaan yang seharusnya selesai dalam 30 menit justru menghabiskan waktu berjam-jam?”

Judul seperti ini dapat mendorong konsumen untuk mencari tahu jawabannya.

Namun, rasa penasaran harus tetap relevan dengan isi iklan. Hindari clickbait yang membuat konsumen merasa tertipu setelah membuka iklan.

9. Manfaatkan Storytelling

Storytelling dapat membuat permasalahan terasa lebih nyata karena konsumen dapat melihat sebuah situasi melalui pengalaman seseorang.

Contohnya:

“Setiap akhir bulan, Andi selalu bertanya-tanya ke mana sebagian uangnya pergi. Ia merasa tidak pernah melakukan pembelian besar. Setelah mulai mencatat pengeluaran kecil selama satu bulan, ternyata jumlahnya jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.”

Cerita tersebut dapat dilanjutkan dengan solusi yang berkaitan dengan produk.

Storytelling membantu konsumen membayangkan bahwa mereka mungkin mengalami situasi yang sama.

10. Gunakan Teknik Before dan After

Teknik before-after menunjukkan kondisi sebelum dan sesudah konsumen menggunakan solusi tertentu.

Contohnya:

“Sebelumnya, membuat laporan membutuhkan waktu hampir satu jam setiap pagi. Setelah menggunakan sistem otomatis, pekerjaan tersebut dapat dilakukan dalam beberapa menit.”

Perbandingan seperti ini membantu konsumen memahami manfaat produk secara lebih konkret.

Meski demikian, hasil yang ditampilkan harus berdasarkan kondisi nyata dan tidak boleh dibuat secara berlebihan.

11. Tambahkan Bukti Sosial

Ketika konsumen mulai menyadari masalahnya, mereka belum tentu langsung percaya bahwa produk yang ditawarkan merupakan solusi yang tepat.

Bukti sosial dapat membantu meningkatkan kepercayaan.

Beberapa bentuk bukti sosial yang dapat digunakan antara lain:

  • Testimoni pelanggan
  • Ulasan pengguna
  • Rating produk
  • Studi kasus
  • Jumlah pengguna
  • Data hasil penggunaan
  • Cerita pelanggan sebelum dan sesudah menggunakan produk

Sebagai contoh:

“Lebih dari 1.000 pemilik usaha menggunakan sistem ini untuk membantu mengelola transaksi harian.”

Pastikan seluruh angka dan klaim yang digunakan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

12. Sesuaikan Call to Action dengan Tingkat Kesadaran

Call to Action atau CTA perlu disesuaikan dengan kondisi konsumen.

Untuk konsumen yang masih berada pada tahap awal, CTA seperti “Beli Sekarang” mungkin terasa terlalu agresif.

CTA yang lebih ringan dapat digunakan, seperti:

  • “Pelajari caranya”
  • “Cari tahu lebih lanjut”
  • “Lihat panduannya”
  • “Cek solusinya”
  • “Pelajari masalahnya”

Setelah konsumen semakin memahami masalah dan produk, CTA dapat diarahkan pada tindakan yang lebih dekat dengan pembelian.

Struktur Copy yang Bisa Digunakan

Untuk mempermudah proses pembuatan iklan, pengiklan dapat menggunakan struktur sederhana berikut:

Masalah → Kesadaran → Dampak → Solusi → Manfaat → Bukti → CTA

Contohnya:

“Sering merasa waktu habis untuk mengurus pekerjaan administratif?”

“Banyak pekerjaan kecil yang terlihat sederhana ternyata dapat menghabiskan waktu jika dilakukan berulang setiap hari.”

“Mulai dari mencatat data, membuat laporan, hingga mencari informasi yang tersimpan di berbagai tempat.”

“Dengan sistem manajemen terintegrasi, berbagai pekerjaan tersebut dapat dilakukan dalam satu platform.”

“Lebih praktis, lebih terorganisir, dan membantu pekerjaan menjadi lebih efisien.”

“Cari tahu bagaimana sistem ini dapat membantu pekerjaan Anda.”

Struktur tersebut membawa konsumen melalui proses dari mengenali masalah hingga mengetahui solusi.

Kesalahan yang Perlu Dihindari

Dalam membuat copy untuk konsumen yang belum sadar membutuhkan produk, terdapat beberapa kesalahan yang perlu diperhatikan.

1. Terlalu Cepat Menjual

Jangan langsung menawarkan produk sebelum konsumen memahami masalah yang ingin diselesaikan.

2. Terlalu Fokus pada Fitur

Daftar fitur yang panjang tidak akan banyak membantu jika konsumen belum memahami manfaat produk.

3. Menggunakan Bahasa yang Terlalu Teknis

Gunakan bahasa yang mudah dipahami dan sesuai dengan target audiens.

4. Menggunakan Klaim Berlebihan

Hindari janji seperti “pasti berhasil”, “100% dijamin kaya”, atau klaim lain yang tidak dapat dibuktikan.

5. Menggunakan Clickbait yang Tidak Relevan

Judul yang menarik memang penting, tetapi isi iklan harus tetap sesuai dengan ekspektasi yang dibangun.

6. Tidak Memahami Target Konsumen

Copy yang bagus tetap tidak efektif jika ditujukan kepada audiens yang salah.

Sebelum membuat iklan, pahami terlebih dahulu siapa target konsumen, masalah mereka, kebiasaan mereka, serta alasan mengapa mereka mungkin membutuhkan produk tersebut.

Baca Juga: Cara Menggunakan Benefit Ladder untuk Menulis Copy yang Lebih Menjual

Kesimpulan

Membuat copy untuk konsumen yang belum sadar membutuhkan produk membutuhkan strategi yang berbeda dari iklan yang ditujukan kepada konsumen yang sudah siap membeli.

Fokus utama bukan langsung melakukan penjualan, melainkan membangun kesadaran terhadap masalah dan kebutuhan konsumen.

Pengiklan dapat memulainya dengan mengangkat masalah yang sering diabaikan, menggunakan pertanyaan yang relevan, menggambarkan situasi sehari-hari, menjelaskan dampak masalah, memberikan edukasi, kemudian memperkenalkan produk sebagai solusi.

Setelah konsumen memahami masalahnya, manfaat produk, bukti sosial, dan CTA dapat digunakan untuk mendorong mereka mengambil langkah berikutnya.

Pada akhirnya, copy iklan yang efektif bukan hanya menjelaskan apa yang dijual, tetapi membantu konsumen memahami mengapa mereka membutuhkan solusi tersebut.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan