Mere Exposure Effect: Mengapa Konsumen Bisa Menyukai Brand yang Sering Dilihat?
#Iklans – #Mere Exposure Effect: Mengapa #Konsumen Bisa Menyukai #Brand yang Sering Dilihat? – Pernahkah Anda merasa familiar dengan sebuah brand hanya karena sering melihat nama atau logonya? Padahal, Anda mungkin belum pernah membeli produknya atau bahkan tidak terlalu memperhatikan iklannya.
Fenomena tersebut bukan sekadar kebetulan. Dalam psikologi konsumen terdapat sebuah konsep yang disebut Mere Exposure Effect, yaitu kecenderungan seseorang untuk menjadi lebih menyukai atau menerima sesuatu setelah berulang kali melihat atau terpapar terhadapnya.
Baca Juga: Kesalahan dalam Menggunakan Urgency pada Copywriting
Dalam dunia periklanan, konsep ini menjadi salah satu alasan mengapa sebuah brand perlu hadir secara konsisten di hadapan target konsumennya. Iklan yang muncul berulang kali dapat membantu membangun familiaritas sehingga sebuah brand menjadi lebih mudah dikenali dan diingat.
Namun, apakah semakin sering sebuah brand terlihat berarti konsumen pasti akan menyukainya? Tidak selalu. Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan agar strategi ini benar-benar memberikan dampak positif.

Apa Itu Mere Exposure Effect?
Mere Exposure Effect adalah fenomena psikologis ketika paparan berulang terhadap suatu objek dapat meningkatkan rasa familiar dan, dalam kondisi tertentu, meningkatkan kecenderungan seseorang untuk menyukainya.
Objek tersebut bisa berupa berbagai hal, mulai dari wajah, suara, musik, gambar, nama, hingga sebuah merek.
Dalam konteks pemasaran, penerapannya cukup sederhana. Konsumen mungkin pertama kali melihat sebuah brand tanpa memberikan perhatian khusus. Namun, ketika nama, logo, atau produk brand tersebut kembali muncul beberapa kali, konsumen mulai mengenalinya.
Lama-kelamaan, brand tersebut tidak lagi terasa asing.
Familiaritas inilah yang menjadi bagian penting dari Mere Exposure Effect. Ketika konsumen kemudian membutuhkan produk tertentu, brand yang sudah dikenalnya berpotensi lebih mudah muncul dalam ingatan dibandingkan brand yang sama sekali belum pernah dilihat.
Mengapa Paparan Berulang Bisa Memengaruhi Konsumen?
Salah satu alasannya adalah karena otak manusia cenderung lebih mudah memproses sesuatu yang sudah pernah ditemui.
Informasi yang familiar biasanya terasa lebih mudah dikenali dibandingkan informasi yang benar-benar baru. Dalam situasi tertentu, rasa familiar tersebut dapat diterjemahkan menjadi persepsi yang lebih positif.
Contohnya, seorang konsumen sedang mencari sepatu olahraga. Sebelumnya, ia beberapa kali melihat sebuah brand melalui media sosial, website, dan video.
Meskipun konsumen tersebut tidak pernah secara khusus mencari brand tersebut, namanya sudah tersimpan dalam ingatan.
Ketika tiba waktunya membeli sepatu, brand tersebut mungkin menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan karena konsumen sudah merasa mengenalnya.
Dengan demikian, iklan tidak selalu harus menghasilkan pembelian secara langsung. Salah satu fungsi iklan adalah membangun keberadaan brand dalam pikiran konsumen.
Mere Exposure Effect dalam Strategi Periklanan
Dalam praktik periklanan modern, konsumen dapat menemukan brand yang sama melalui berbagai saluran.
Misalnya:
- Media sosial
- Mesin pencari
- Website
- Video online
- Marketplace
- Billboard
- Influencer
- Email marketing
- Iklan display
- Konten digital
Paparan tersebut menciptakan kesempatan bagi konsumen untuk bertemu dengan brand secara berulang.
Sebagai contoh, seseorang sedang mencari smartphone baru. Setelah membaca beberapa artikel tentang smartphone, ia mulai melihat iklan dari salah satu merek di media sosial.
Beberapa hari kemudian, merek tersebut muncul kembali dalam video dan iklan website.
Konsumen mungkin tidak langsung membeli. Akan tetapi, setelah beberapa kali melihat brand yang sama, nama dan produknya menjadi lebih familiar.
Ketika konsumen akhirnya membandingkan beberapa smartphone, brand yang sudah sering dilihat tersebut dapat menjadi salah satu merek yang masuk dalam pertimbangannya.
Sering Dilihat Bukan Berarti Pasti Disukai
Meskipun Mere Exposure Effect dapat membantu meningkatkan rasa familiar, konsep ini bukan berarti konsumen pasti menyukai brand yang sering melihatnya.
Ini merupakan batas penting dalam penerapan strategi tersebut.
Jika sebuah brand memiliki produk yang buruk, pelayanan yang mengecewakan, atau reputasi negatif, paparan berulang justru dapat memperkuat ingatan konsumen terhadap pengalaman buruk tersebut.
Karena itu, pengiklan tidak cukup hanya meningkatkan jumlah penayangan iklan.
Brand juga perlu memastikan bahwa pengalaman yang diberikan kepada konsumen sesuai dengan pesan yang disampaikan melalui iklan.
Frekuensi membangun familiaritas, tetapi kualitas pengalaman membantu membangun preferensi.
Baca Juga: Cara Menggunakan Bahasa Konsumen dalam Materi Promosi
Bahaya Terlalu Sering Menampilkan Iklan
Strategi Mere Exposure Effect juga memiliki batas.
Jika konsumen terus-menerus melihat iklan yang sama dalam waktu singkat, mereka dapat mengalami kejenuhan. Dalam dunia digital advertising, kondisi ini sering disebut sebagai ad fatigue.
Ad fatigue dapat terjadi ketika audiens merasa bosan karena terus melihat materi iklan yang sama. Akibatnya, perhatian terhadap iklan dapat menurun dan persepsi terhadap brand berpotensi menjadi negatif.
Oleh karena itu, strategi periklanan perlu mempertimbangkan frequency atau seberapa sering iklan ditampilkan kepada audiens.
Tujuannya bukan membuat konsumen melihat iklan sebanyak mungkin, tetapi memberikan paparan yang cukup untuk membangun familiaritas tanpa mengganggu pengalaman pengguna.
Cara Memanfaatkan Mere Exposure Effect dalam Periklanan
Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan oleh pengiklan untuk memanfaatkan prinsip ini.
1. Konsisten dalam Identitas Brand
Gunakan elemen visual dan komunikasi yang konsisten, seperti logo, warna, tipografi, slogan, serta gaya desain.
Konsistensi membuat konsumen lebih mudah mengenali sebuah brand ketika menemukannya di berbagai media.
2. Mengatur Frekuensi Iklan
Paparan berulang memang penting, tetapi frekuensinya perlu dikontrol.
Menampilkan iklan terlalu sedikit dapat membuat brand sulit diingat. Sebaliknya, menampilkan iklan terlalu sering dapat menyebabkan kejenuhan.
Karena itu, pengiklan perlu mencari frekuensi yang sesuai dengan karakteristik audiens dan platform yang digunakan.
3. Menggunakan Materi Iklan yang Beragam
Paparan terhadap brand tidak harus selalu menggunakan iklan yang sama.
Brand dapat menggunakan berbagai format, seperti video pendek, gambar, artikel, testimonial, infografis, maupun konten edukasi.
Meskipun bentuk kontennya berbeda, identitas utama brand tetap perlu dipertahankan.
4. Memanfaatkan Retargeting
Retargeting dapat digunakan untuk kembali menjangkau pengguna yang sebelumnya sudah berinteraksi dengan sebuah website atau konten.
Strategi ini memungkinkan brand tetap hadir selama konsumen berada dalam proses mempertimbangkan pembelian.
Namun, retargeting juga harus digunakan secara proporsional agar tidak membuat konsumen merasa terus diikuti oleh iklan yang sama.
5. Membuat Iklan yang Relevan
Frekuensi bukan satu-satunya hal yang penting.
Iklan harus memiliki relevansi dengan kebutuhan dan minat audiens. Konsumen cenderung memberikan respons yang lebih baik ketika iklan yang mereka lihat memiliki hubungan dengan kebutuhan mereka.
Dengan demikian, strategi Mere Exposure Effect dapat dikombinasikan dengan segmentasi audiens dan personalisasi iklan.
Hubungan Mere Exposure Effect dengan Brand Awareness
Mere Exposure Effect memiliki hubungan yang erat dengan brand awareness.
Brand awareness berkaitan dengan kemampuan konsumen untuk mengenali atau mengingat sebuah brand. Sementara itu, Mere Exposure Effect menjelaskan bagaimana paparan berulang dapat membantu meningkatkan familiaritas terhadap sesuatu.
Semakin sering konsumen menemukan sebuah brand, semakin besar peluang mereka mengenali nama, logo, atau produknya.
Namun, brand awareness bukan berarti konsumen otomatis akan membeli.
Perjalanan konsumen biasanya melibatkan beberapa tahap, mulai dari mengenal brand, mempertimbangkan produk, membandingkan pilihan, hingga akhirnya melakukan pembelian.
Karena itu, Mere Exposure Effect lebih tepat dipandang sebagai salah satu alat untuk membantu memasukkan brand ke dalam ingatan konsumen.
Contoh Sederhana dalam Kehidupan Sehari-hari
Bayangkan ada dua brand minuman dengan harga dan jenis produk yang hampir sama.
Brand A jarang melakukan promosi sehingga namanya belum banyak dikenal.
Sementara itu, Brand B secara konsisten melakukan promosi melalui media sosial, billboard, video, dan berbagai platform digital.
Ketika seseorang ingin membeli minuman tersebut, nama Brand B mungkin lebih mudah muncul dalam pikirannya karena sudah beberapa kali melihatnya.
Kondisi ini tidak menjamin konsumen akan memilih Brand B. Namun, Brand B memiliki keunggulan berupa tingkat familiaritas yang lebih tinggi.
Jika faktor lain seperti harga, kualitas, reputasi, dan ketersediaan produk juga mendukung, familiaritas tersebut dapat membantu brand berada dalam daftar pertimbangan konsumen.
Apakah Mere Exposure Effect Masih Relevan di Era Digital?
Mere Exposure Effect justru semakin relevan di era digital karena konsumen sekarang berinteraksi dengan banyak sekali konten setiap hari.
Seseorang dapat melihat brand yang sama di TikTok, Instagram, YouTube, Google, marketplace, hingga website dalam waktu yang berbeda.
Kondisi tersebut memberikan peluang bagi brand untuk membangun familiaritas secara bertahap.
Namun, persaingan mendapatkan perhatian konsumen juga semakin tinggi. Konsumen dapat dengan mudah melewati iklan, menggunakan ad blocker, atau mengabaikan konten yang dianggap tidak relevan.
Karena itu, strategi modern tidak cukup hanya mengandalkan berapa kali konsumen melihat sebuah iklan.
Pengiklan juga perlu memikirkan apa yang dilihat konsumen, kapan mereka melihatnya, mengapa iklan tersebut relevan, dan pengalaman apa yang diberikan setelah mereka berinteraksi dengan brand.
Baca Juga: Teknik Menulis Copy untuk Produk dengan Proses Pembelian Panjang
Kesimpulan
Mere Exposure Effect menjelaskan mengapa sesuatu yang sering dilihat dapat menjadi semakin familiar dan berpotensi lebih disukai. Dalam periklanan, prinsip ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pengenalan dan daya ingat konsumen terhadap sebuah brand.
Strategi tersebut dapat dilakukan melalui paparan iklan yang konsisten, penggunaan identitas brand yang kuat, retargeting, variasi materi iklan, serta penargetan audiens yang relevan.
Namun, pengiklan harus menghindari paparan yang berlebihan. Iklan yang terlalu sering muncul dapat menyebabkan kejenuhan dan justru memberikan pengalaman negatif.
Pada akhirnya, iklan membantu membuat brand dikenal, tetapi kualitas produk dan pengalaman konsumen menentukan apakah brand tersebut benar-benar dipilih.
Mere Exposure Effect bukanlah strategi untuk sekadar membuat konsumen melihat iklan berulang kali. Prinsip ini lebih tepat digunakan untuk membangun familiaritas secara konsisten sehingga sebuah brand memiliki tempat yang lebih kuat dalam ingatan konsumen ketika kebutuhan pembelian muncul.
