Iklans

24 Agu
Digital Marketing, Periklanan
4 views
0 Comments

Mengapa Sebagian Kampanye Viral Tidak Meningkatkan Penjualan?

#Iklans – Mengapa Sebagian #Kampanye Viral #Tidak Meningkatkan Penjualan? – Dalam dunia #periklanan, #kampanye yang viral sering dianggap sebagai sebuah keberhasilan. Jumlah tayangan yang mencapai jutaan, komentar yang ramai, serta konten yang dibagikan secara luas memang dapat meningkatkan popularitas sebuah #merek. Namun, tingginya perhatian publik tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan penjualan.

Tidak sedikit kampanye iklan yang berhasil menjadi perbincangan di media sosial, tetapi dampaknya terhadap transaksi justru sangat kecil. Fenomena ini menunjukkan bahwa viralitas dan efektivitas penjualan merupakan dua hal yang berbeda.

Baca Juga: Analisis Kesalahan Marketing yang Pernah Dilakukan Perusahaan Besar

Kampanye viral pada dasarnya berhasil mendapatkan perhatian. Sementara itu, untuk menghasilkan penjualan, sebuah kampanye harus mampu membawa konsumen melalui beberapa tahap, mulai dari mengenal produk, tertarik, mempertimbangkan, mempercayai, hingga akhirnya melakukan pembelian.

Mengapa Sebagian Kampanye Viral Tidak Meningkatkan Penjualan?

Viral Tidak Selalu Berarti Efektif

Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam periklanan adalah menganggap jumlah views, likes, komentar, dan shares sebagai ukuran utama keberhasilan kampanye.

Metrik tersebut memang penting, terutama untuk mengukur brand awareness dan engagement. Namun, apabila tujuan utama kampanye adalah meningkatkan penjualan, perusahaan perlu melihat indikator yang lebih dekat dengan hasil bisnis.

Contohnya adalah jumlah klik, conversion rate, cost per acquisition, jumlah transaksi, nilai penjualan, hingga return on ad spend (ROAS).

Sebuah video yang mendapatkan 10 juta views belum tentu lebih sukses secara bisnis dibandingkan iklan yang hanya mendapatkan 500 ribu views tetapi menghasilkan lebih banyak pembelian.

Dengan kata lain, jumlah perhatian yang diperoleh tidak selalu mencerminkan jumlah pelanggan yang dihasilkan.

1. Konten Viral, tetapi Produk Tidak Menjadi Fokus

Salah satu penyebab kampanye viral tidak menghasilkan penjualan adalah kontennya lebih menarik daripada produk yang diiklankan.

Konten lucu, menghibur, kontroversial, atau emosional memang memiliki peluang besar untuk dibagikan. Namun, ketika konsumen selesai melihat konten tersebut, mereka belum tentu memahami produk yang sedang ditawarkan.

Bahkan, konsumen bisa saja mengingat adegan atau slogan iklannya tetapi lupa dengan nama mereknya.

Karena itu, kreativitas dalam periklanan harus tetap memiliki hubungan dengan produk. Konten sebaiknya tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga membantu konsumen memahami manfaat dan keunggulan produk.

2. Kampanye Menjangkau Audiens yang Salah

Jangkauan yang besar tidak selalu berarti mendapatkan calon pelanggan yang tepat.

Setiap produk memiliki target pasar yang berbeda. Produk kecantikan, misalnya, memiliki karakteristik audiens yang berbeda dengan perangkat komputer, kendaraan, makanan, atau layanan keuangan.

Jika sebuah kampanye menjadi viral di kalangan orang yang tidak membutuhkan produk tersebut, jumlah engagement mungkin meningkat drastis, tetapi penjualan belum tentu mengikuti.

Dalam kondisi seperti ini, perusahaan sebenarnya mendapatkan traffic yang besar tetapi tidak relevan.

Oleh karena itu, strategi periklanan harus mempertimbangkan karakteristik target audiens, seperti usia, lokasi, minat, kebutuhan, perilaku, serta kemampuan membeli.

3. Pesan Iklan Tidak Menjelaskan Manfaat Produk

Konsumen tidak hanya membutuhkan hiburan. Mereka juga membutuhkan alasan untuk membeli.

Sebuah iklan mungkin memiliki visual yang menarik dan konsep yang kreatif, tetapi jika tidak menjelaskan manfaat produk secara jelas, konsumen akan kesulitan memahami nilai yang ditawarkan.

Pertanyaan yang harus dapat dijawab oleh sebuah iklan antara lain:

  • Apa produk yang ditawarkan?
  • Masalah apa yang dapat diselesaikan?
  • Apa manfaat utama produk?
  • Mengapa konsumen harus memilih produk tersebut?
  • Apa yang membedakannya dari kompetitor?

Jika pertanyaan tersebut tidak terjawab, kampanye berisiko hanya menghasilkan awareness tanpa menghasilkan keputusan pembelian.

4. Tidak Memiliki Call to Action yang Jelas

Kampanye iklan seharusnya tidak hanya memberi informasi, tetapi juga mengarahkan konsumen pada tindakan berikutnya.

Di sinilah peran call to action (CTA) menjadi penting.

CTA dapat berupa ajakan seperti “Beli Sekarang”, “Coba Gratis”, “Dapatkan Promo”, “Kunjungi Website”, atau “Daftar Sekarang”.

Tanpa arahan yang jelas, konsumen mungkin tertarik terhadap iklan tetapi tidak mengetahui apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Semakin rumit proses dari melihat iklan hingga melakukan pembelian, semakin besar pula kemungkinan konsumen kehilangan minat.

Baca Juga: Membedah Strategi Marketing Brand Lokal yang Berhasil

5. Landing Page dan Proses Pembelian Tidak Optimal

Tidak semua masalah penjualan disebabkan oleh iklan.

Sebuah kampanye dapat berhasil menghasilkan banyak klik, tetapi hasil akhirnya tetap rendah karena halaman tujuan atau proses pembelian tidak memberikan pengalaman yang baik.

Beberapa masalah yang sering terjadi antara lain:

  • Website lambat dibuka.
  • Halaman produk tidak informatif.
  • Harga sulit ditemukan.
  • Deskripsi produk kurang jelas.
  • Website tidak optimal di perangkat mobile.
  • Proses checkout terlalu panjang.
  • Pilihan pembayaran terbatas.
  • Tidak terdapat informasi yang membangun kepercayaan.

Dalam kondisi tersebut, iklan sudah berhasil mendatangkan calon pelanggan, tetapi bisnis gagal mengubahnya menjadi pembeli.

Karena itu, evaluasi kampanye tidak boleh berhenti pada performa iklan. Seluruh perjalanan konsumen hingga transaksi perlu diperiksa.

6. Konsumen Belum Siap Membeli

Tidak semua orang yang melihat iklan berada pada tahap siap melakukan pembelian.

Sebagian orang mungkin baru mengetahui merek tersebut. Sebagian lainnya sedang mencari informasi, membandingkan harga, atau menunggu waktu yang tepat untuk membeli.

Kondisi ini terutama sering terjadi pada produk dengan harga relatif tinggi atau produk yang membutuhkan pertimbangan lebih panjang.

Seseorang dapat melihat iklan hari ini, mencari informasi beberapa hari kemudian, membaca ulasan pelanggan, membandingkan produk dengan kompetitor, dan baru melakukan pembelian setelah merasa yakin.

Karena itu, kampanye viral tidak selalu menghasilkan peningkatan penjualan secara langsung.

7. Tidak Ada Strategi Retargeting

Ketika seseorang sudah menonton video, mengunjungi website, melihat halaman produk, atau berinteraksi dengan iklan, sebenarnya bisnis telah memperoleh sinyal bahwa orang tersebut memiliki ketertarikan tertentu.

Sayangnya, sebagian pengiklan berhenti setelah mendapatkan engagement.

Padahal, audiens tersebut dapat diberikan iklan lanjutan melalui strategi retargeting.

Misalnya, orang yang sudah melihat produk tetapi belum membeli dapat diberikan iklan yang berisi testimoni pelanggan, informasi manfaat produk, promo terbatas, atau penawaran khusus.

Dengan strategi tersebut, kampanye tidak hanya berfungsi untuk mendapatkan perhatian, tetapi juga membantu mengarahkan calon konsumen menuju keputusan pembelian.

8. Produk dan Penawaran Kurang Kompetitif

Iklan yang menarik tidak dapat sepenuhnya menutupi kelemahan sebuah produk.

Jika konsumen menemukan produk kompetitor dengan harga lebih murah, kualitas lebih baik, fitur lebih lengkap, layanan lebih cepat, atau reputasi yang lebih terpercaya, mereka tetap memiliki alasan untuk memilih kompetitor.

Oleh karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa produk yang dipromosikan memiliki nilai yang jelas.

Penawaran juga dapat diperkuat melalui berbagai strategi, seperti:

  • Diskon.
  • Paket bundling.
  • Bonus pembelian.
  • Gratis ongkir.
  • Garansi.
  • Program loyalitas.
  • Promo pembelian pertama.
  • Penawaran dengan batas waktu tertentu.

Tujuannya bukan sekadar memberikan harga murah, tetapi memberikan alasan yang cukup kuat bagi konsumen untuk melakukan pembelian.

9. Salah Menentukan Indikator Keberhasilan

Kampanye iklan akan sulit dievaluasi jika perusahaan sejak awal menggunakan indikator yang tidak sesuai dengan tujuannya.

Jika tujuan kampanye adalah meningkatkan awareness, maka reach, impressions, video views, dan engagement dapat menjadi indikator penting.

Namun, jika tujuannya adalah menghasilkan penjualan, maka perusahaan harus melihat metrik yang berhubungan langsung dengan konversi.

Beberapa indikator yang dapat digunakan antara lain:

MetrikFungsi
CTRMengukur seberapa banyak orang yang tertarik untuk mengeklik iklan
Conversion RateMengukur persentase pengunjung yang melakukan tindakan yang diinginkan
CPAMengukur biaya untuk mendapatkan satu pelanggan atau konversi
ROASMengukur pendapatan yang diperoleh dibandingkan dengan biaya iklan
RevenueMengukur pendapatan yang dihasilkan dari kampanye
Engagement RateMengukur tingkat interaksi audiens terhadap konten

Dengan melihat metrik tersebut secara menyeluruh, perusahaan dapat mengetahui apakah kampanye benar-benar memberikan kontribusi terhadap bisnis.

Bagaimana Membuat Kampanye Viral yang Tetap Menghasilkan Penjualan?

Viralitas sebenarnya bukan sesuatu yang harus dihindari. Justru, viralitas dapat menjadi aset pemasaran yang sangat kuat apabila dikombinasikan dengan strategi konversi yang tepat.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Tentukan Tujuan Kampanye

Sebelum membuat iklan, tentukan apakah tujuan utamanya adalah awareness, engagement, leads, atau penjualan.

Tujuan yang berbeda membutuhkan strategi dan indikator keberhasilan yang berbeda pula.

Kenali Target Audiens

Jangan hanya mengejar jumlah penonton. Pastikan kampanye menjangkau orang yang memang memiliki kemungkinan membutuhkan produk.

Audiens yang relevan memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan jutaan penonton yang tidak memiliki ketertarikan terhadap produk.

Hubungkan Kreativitas dengan Produk

Konten yang menarik harus tetap membuat konsumen mengingat merek dan produk.

Jangan sampai orang mengingat iklannya tetapi tidak mengetahui apa yang sebenarnya dijual.

Buat CTA yang Jelas

Berikan arahan yang sederhana kepada konsumen mengenai tindakan berikutnya.

Semakin mudah konsumen memahami langkah selanjutnya, semakin kecil kemungkinan mereka meninggalkan proses pembelian.

Optimalkan Landing Page

Pastikan halaman tujuan memiliki informasi yang lengkap, mudah digunakan, cepat dibuka, dan memberikan rasa percaya kepada konsumen.

Gunakan Retargeting

Jangan membiarkan calon konsumen yang sudah berinteraksi dengan iklan pergi begitu saja.

Gunakan retargeting untuk memberikan pesan lanjutan yang sesuai dengan tahap perjalanan mereka.

Evaluasi Berdasarkan Data

Jangan hanya melihat jumlah views atau likes. Bandingkan biaya iklan dengan jumlah konversi dan pendapatan yang dihasilkan.

Dengan demikian, keputusan untuk melanjutkan, mengubah, atau menghentikan sebuah kampanye dapat dibuat berdasarkan data.

Baca Juga: Cara Mengurangi Keraguan Sebelum Pembelian

Kesimpulan

Kampanye viral memang dapat meningkatkan perhatian publik terhadap sebuah merek, tetapi viralitas bukan jaminan bahwa penjualan akan meningkat.

Sebuah kampanye dapat memperoleh jutaan tayangan tetapi tetap menghasilkan sedikit transaksi apabila target audiens tidak tepat, pesan produk kurang jelas, CTA tidak efektif, landing page buruk, proses pembelian rumit, atau produk dan penawarannya tidak cukup kompetitif.

Pada akhirnya, tujuan utama periklanan bukan sekadar membuat orang melihat iklan, tetapi membuat perhatian tersebut menghasilkan tindakan yang bernilai bagi bisnis.

Karena itu, perusahaan sebaiknya tidak hanya mengejar pertanyaan “Bagaimana agar iklan ini viral?”, tetapi juga mempertimbangkan pertanyaan yang lebih penting: “Bagaimana perhatian yang dihasilkan kampanye ini dapat diubah menjadi penjualan?”

Kampanye yang benar-benar efektif adalah kampanye yang mampu menggabungkan kreativitas, relevansi audiens, kekuatan pesan, pengalaman konsumen, dan strategi konversi secara menyeluruh.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan