Tren Social Commerce di Indonesia: Gabungan E-Commerce dan Media Sosial
#Iklans – #Tren #Social Commerce di Indonesia: Gabungan #E-Commerce dan #Media Sosial – Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap perdagangan #digital di Indonesia mengalami perubahan besar. Jika sebelumnya aktivitas belanja online identik dengan marketplace konvensional seperti #Tokopedia, #Shopee, dan #Lazada, kini muncul tren baru yang semakin populer: social commerce.
Baca Juga: Bagaimana Memanfaatkan Google Performance Max Campaign Secara Efektif
Tren ini menghadirkan pengalaman berbelanja yang lebih interaktif, spontan, dan terhubung secara sosial, di mana media sosial tidak lagi sekadar tempat bersosialisasi, tetapi juga menjadi kanal utama untuk jual beli produk. Fenomena ini mengubah perilaku konsumen sekaligus membuka peluang besar bagi para pelaku usaha, terutama UMKM dan brand lokal, untuk menjangkau pasar yang lebih luas dengan cara yang kreatif dan hemat biaya.

Apa Itu Social Commerce?
Secara sederhana, social commerce adalah perpaduan antara media sosial dan e-commerce. Dalam sistem ini, proses promosi, interaksi, hingga transaksi jual beli dapat dilakukan langsung di dalam platform media sosial — tanpa harus berpindah ke situs atau aplikasi lain.
Contoh nyata dari social commerce adalah fitur seperti TikTok Shop, Instagram Shopping, dan Facebook Marketplace, di mana pengguna dapat menonton video, menanyakan detail produk, lalu melakukan pembelian hanya dengan satu klik.
Dengan konsep ini, pengalaman berbelanja menjadi lebih alami dan sosial. Konsumen tidak hanya melihat produk, tetapi juga berinteraksi dengan penjual, membaca komentar pembeli lain, atau menonton ulasan dari influencer yang mereka percayai.
Pertumbuhan Social Commerce di Indonesia
Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan pengguna media sosial terbesar di dunia. Berdasarkan data dari berbagai lembaga riset digital, lebih dari 60% pengguna internet Indonesia aktif di platform seperti TikTok, Instagram, dan Facebook. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai pasar potensial bagi perkembangan social commerce.
Kesuksesan TikTok Shop menjadi bukti kuatnya tren ini. Meskipun sempat dihentikan sementara karena regulasi pemerintah, kolaborasinya dengan Tokopedia pada akhir 2024 menandai babak baru dalam ekosistem belanja sosial. Model ini terbukti mampu meningkatkan penjualan produk lokal sekaligus memberikan pengalaman belanja yang menghibur dan interaktif.
Selain TikTok, platform lain seperti Instagram juga terus memperkuat fitur belanjanya melalui Instagram Reels Shop dan Live Shopping. Bahkan Facebook Marketplace kini berkembang menjadi tempat transaksi yang ramai, khususnya untuk produk second-hand dan barang kebutuhan rumah tangga.
Baca Juga: Data Clean Room: Solusi Baru Kolaborasi Data Tanpa Melanggar Privasi
Faktor Pendorong Populernya Social Commerce
Beberapa faktor utama yang mendorong pertumbuhan pesat social commerce di Indonesia antara lain:
- Perubahan Pola Konsumen Digital
Generasi muda, terutama Gen Z dan milenial, lebih menyukai pengalaman belanja yang dinamis dan berbasis visual. Mereka tidak hanya mencari produk, tetapi juga ingin melihat bagaimana produk tersebut digunakan oleh orang lain secara langsung. - Peran Influencer dan Kreator Konten
Influencer menjadi penggerak utama social commerce. Melalui video pendek, ulasan jujur, atau sesi live streaming, mereka membangun kepercayaan dan menciptakan efek “ingin mencoba” yang sangat kuat di kalangan pengikutnya. - Kemudahan Transaksi dalam Satu Platform
Integrasi sistem pembayaran dan logistik di media sosial memungkinkan pembeli untuk melakukan transaksi langsung tanpa perlu berpindah aplikasi. Proses ini membuat pengalaman berbelanja lebih efisien dan praktis. - Live Shopping dan Interaksi Real-Time
Fitur siaran langsung menjadi salah satu kekuatan utama social commerce. Penjual dapat berinteraksi secara langsung dengan calon pembeli, menjawab pertanyaan, memberikan demonstrasi produk, hingga menawarkan promo khusus selama siaran berlangsung.
Peluang Besar untuk UMKM dan Brand Lokal
Social commerce membuka jalan baru bagi pelaku UMKM dan brand lokal untuk bersaing di dunia digital tanpa harus memiliki modal besar atau kemampuan teknis tinggi.
Jika sebelumnya mereka perlu beriklan dengan biaya tinggi, kini cukup dengan membuat konten menarik, melakukan live streaming, atau bekerja sama dengan micro-influencer untuk menjangkau target pasar yang lebih spesifik.
Banyak kisah sukses muncul dari pelaku usaha kecil yang memanfaatkan social commerce. Misalnya, penjual produk kecantikan rumahan, fashion lokal, hingga makanan ringan tradisional berhasil meningkatkan omzet berkat keaktifan mereka di TikTok Live dan Instagram Shop.
Selain itu, model social commerce juga membantu brand membangun hubungan emosional dengan konsumen. Tidak sekadar menjual produk, pelaku bisnis kini bisa menceritakan kisah di balik usaha mereka, memperlihatkan proses produksi, dan berinteraksi langsung dengan audiens.
Tantangan yang Dihadapi
Meski peluangnya besar, social commerce juga memiliki beberapa tantangan. Salah satunya adalah regulasi pemerintah dan perlindungan konsumen. Pemerintah Indonesia sempat menghentikan sementara aktivitas jual beli langsung di platform sosial untuk memastikan persaingan usaha tetap sehat dan melindungi UMKM dari dominasi platform besar.
Selain itu, keamanan data dan transparansi harga juga menjadi perhatian penting. Integrasi antara media sosial dan e-commerce menimbulkan risiko penyalahgunaan data pengguna jika tidak diawasi secara ketat.
Dari sisi pelaku bisnis, tantangan terbesar adalah konsistensi dalam pembuatan konten. Agar tetap relevan dan menarik perhatian, mereka harus memahami algoritma platform, tren konten terbaru, dan perilaku audiens yang cepat berubah.
Masa Depan Social Commerce di Indonesia
Melihat arah perkembangan industri digital, social commerce diyakini akan menjadi tulang punggung perdagangan online di masa depan. Integrasi teknologi seperti AI (Artificial Intelligence), augmented reality (AR), dan data analytics akan membuat pengalaman belanja semakin personal dan menarik.
Konsumen nantinya bisa mencoba produk secara virtual, mendapatkan rekomendasi otomatis berdasarkan preferensi pribadi, dan melakukan pembayaran dengan metode digital yang semakin aman.
Bagi pelaku usaha, kunci sukses di era ini adalah kemampuan beradaptasi, membangun keaslian merek, serta menjaga kepercayaan pelanggan. Mereka yang mampu menghadirkan pengalaman belanja yang menghibur dan interaktif akan menjadi pemenang di pasar digital yang kompetitif.
Baca Juga: Mengenal Generative Search (SGE) dan Dampaknya untuk Iklan Online
Kesimpulan
Tren social commerce di Indonesia bukan sekadar fenomena sesaat, tetapi merupakan evolusi alami dari perilaku konsumen modern yang semakin sosial, visual, dan mobile. Gabungan antara media sosial dan e-commerce telah menciptakan ekosistem baru yang lebih inklusif dan memberdayakan, terutama bagi UMKM dan kreator lokal.
Dengan dukungan teknologi, kreativitas, serta regulasi yang seimbang, social commerce berpotensi menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Kini, belanja bukan lagi sekadar transaksi — melainkan pengalaman sosial yang menyenangkan, inspiratif, dan menghubungkan banyak orang dalam satu ekosistem digital yang hidup.

