Iklans

25 Agu
Digital Marketing, Periklanan
8 views
0 Comments

Bagaimana Perusahaan Besar Menentukan Budget Marketing?

#Iklans – Bagaimana #Perusahaan Besar Menentukan #Budget Marketing? – Dalam menjalankan #bisnis, #marketing menjadi salah satu faktor penting untuk memperkenalkan produk, menjangkau #konsumen, meningkatkan penjualan, dan membangun #brand. Namun, aktivitas #pemasaran tentu membutuhkan biaya. Karena itu, perusahaan perlu menentukan budget marketing dengan perhitungan yang tepat agar dana yang dikeluarkan dapat memberikan hasil maksimal.

Perusahaan besar umumnya tidak menentukan anggaran marketing hanya berdasarkan perkiraan. Mereka menggunakan berbagai data dan indikator untuk menentukan berapa banyak dana yang perlu dialokasikan untuk iklan, promosi, branding, riset pasar, hingga strategi digital marketing.

Baca Juga: Analisis Perubahan Strategi Marketing dari Tahun ke Tahun

Menariknya, perusahaan dengan budget besar pun tetap memperhatikan efisiensi. Mereka tidak selalu mengeluarkan uang sebanyak mungkin, tetapi berusaha memastikan setiap dana yang digunakan memiliki tujuan dan dapat diukur hasilnya.

Lalu, bagaimana sebenarnya perusahaan besar menentukan budget marketing?

Bagaimana Perusahaan Besar Menentukan Budget Marketing?

Apa Itu Budget Marketing?

Budget marketing adalah anggaran yang disiapkan perusahaan untuk membiayai berbagai aktivitas pemasaran dalam periode tertentu.

Anggaran tersebut dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti:

  • Iklan di mesin pencari.
  • Iklan media sosial.
  • Video advertising.
  • Content marketing.
  • Influencer marketing.
  • Email marketing.
  • Promosi dan diskon.
  • Event dan sponsorship.
  • Branding.
  • Riset pasar.
  • Pengembangan materi promosi.

Besarnya budget marketing setiap perusahaan berbeda-beda. Perusahaan baru mungkin memiliki anggaran terbatas, sedangkan perusahaan besar dapat mengalokasikan dana dalam jumlah jauh lebih besar.

Namun, ukuran perusahaan bukan satu-satunya faktor. Target bisnis, industri, tingkat persaingan, kondisi pasar, dan strategi pertumbuhan juga memengaruhi besarnya anggaran pemasaran.

1. Menentukan Tujuan Marketing

Langkah pertama yang dilakukan perusahaan adalah menentukan tujuan marketing.

Perusahaan harus mengetahui apa yang ingin dicapai dari anggaran yang dikeluarkan. Tujuannya bisa berbeda-beda, misalnya:

  • Meningkatkan brand awareness.
  • Mendapatkan pelanggan baru.
  • Meningkatkan penjualan.
  • Meluncurkan produk baru.
  • Memasuki pasar baru.
  • Meningkatkan jumlah pengguna.
  • Mempertahankan pelanggan lama.
  • Meningkatkan loyalitas konsumen.

Tujuan tersebut akan menentukan jenis kampanye yang dijalankan sekaligus besarnya anggaran yang diperlukan.

Sebagai contoh, perusahaan yang baru meluncurkan produk mungkin membutuhkan anggaran lebih besar untuk membangun awareness. Sementara perusahaan yang sudah memiliki brand kuat dapat lebih fokus pada kampanye yang bertujuan menghasilkan transaksi.

2. Menyesuaikan Budget dengan Target Penjualan

Target penjualan juga menjadi salah satu dasar dalam menentukan budget marketing.

Misalnya, sebuah perusahaan memiliki target tambahan penjualan sebesar Rp10 miliar dalam satu tahun. Perusahaan kemudian memperkirakan berapa banyak pelanggan baru yang diperlukan untuk mencapai target tersebut.

Dari sana, perusahaan dapat menghitung perkiraan biaya pemasaran yang dibutuhkan.

Dengan pendekatan tersebut, anggaran marketing tidak dibuat secara asal, tetapi dikaitkan langsung dengan target bisnis.

Semakin besar target pertumbuhan yang ingin dicapai, semakin besar pula kemungkinan perusahaan membutuhkan investasi marketing. Namun, bukan berarti anggaran harus selalu dinaikkan tanpa perhitungan.

3. Menggunakan Persentase dari Pendapatan

Salah satu metode sederhana yang dapat digunakan adalah menentukan budget marketing berdasarkan persentase pendapatan atau target pendapatan.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan menetapkan anggaran marketing sebesar 5% dari pendapatan tahunan.

Jika perusahaan memperoleh pendapatan Rp20 miliar, maka:

Rp20 miliar × 5% = Rp1 miliar

Artinya, perusahaan memiliki sekitar Rp1 miliar untuk dialokasikan ke berbagai aktivitas pemasaran.

Namun, angka persentase tersebut tidak berlaku untuk semua perusahaan. Bisnis yang sedang melakukan ekspansi mungkin membutuhkan anggaran lebih besar, sedangkan perusahaan yang sudah stabil dapat menggunakan persentase yang lebih rendah.

4. Menghitung Customer Acquisition Cost

Perusahaan besar juga memperhatikan Customer Acquisition Cost (CAC) atau biaya yang diperlukan untuk mendapatkan seorang pelanggan baru.

Sebagai contoh, perusahaan mengeluarkan Rp100 juta untuk sebuah kampanye marketing dan mendapatkan 2.000 pelanggan baru.

Maka:

CAC = Rp100 juta ÷ 2.000 = Rp50.000 per pelanggan

Angka tersebut kemudian dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh dari pelanggan.

Jika biaya mendapatkan pelanggan adalah Rp50.000, tetapi pelanggan tersebut dapat memberikan keuntungan jauh lebih besar selama menggunakan produk perusahaan, kampanye tersebut dapat dianggap menarik.

Sebaliknya, jika biaya mendapatkan pelanggan terlalu tinggi dibandingkan nilai yang diberikan pelanggan, perusahaan perlu mengevaluasi strategi marketing.

5. Memperhitungkan Customer Lifetime Value

CAC tidak dapat dianalisis sendirian. Perusahaan juga perlu melihat Customer Lifetime Value (CLV), yaitu perkiraan nilai yang diberikan pelanggan selama mereka berhubungan dengan perusahaan.

Contohnya, biaya mendapatkan pelanggan baru adalah Rp100.000.

Jika pelanggan tersebut hanya melakukan satu transaksi dengan keuntungan Rp50.000, strategi tersebut tentu kurang menguntungkan.

Namun, jika pelanggan tersebut terus membeli produk selama beberapa tahun dan memberikan total keuntungan Rp1 juta, biaya akuisisi Rp100.000 menjadi jauh lebih masuk akal.

Karena itu, perusahaan besar tidak selalu mencari biaya iklan paling murah. Mereka lebih tertarik pada pelanggan yang memiliki nilai tinggi dalam jangka panjang.

Baca Juga: Mengapa Sebagian Kampanye Viral Tidak Meningkatkan Penjualan?

6. Menganalisis Performa Kampanye Sebelumnya

Data kampanye sebelumnya menjadi bahan penting untuk menentukan anggaran berikutnya.

Perusahaan dapat melihat berbagai indikator, seperti:

  • Jumlah impresi.
  • Click-through rate atau CTR.
  • Conversion rate.
  • Cost per click atau CPC.
  • Cost per acquisition atau CPA.
  • Jumlah pelanggan baru.
  • Nilai transaksi.
  • Revenue.
  • Return on Ad Spend atau ROAS.
  • Return on Investment atau ROI.

Jika sebuah kampanye menghasilkan performa yang baik, perusahaan dapat mempertimbangkan untuk meningkatkan anggarannya.

Sebaliknya, kampanye yang menghabiskan banyak dana tetapi menghasilkan sedikit konversi dapat dikurangi, diperbaiki, atau bahkan dihentikan.

7. Membagi Anggaran ke Berbagai Saluran Marketing

Perusahaan besar biasanya tidak menempatkan seluruh budget pada satu saluran pemasaran.

Anggaran dapat dibagi ke berbagai channel, seperti:

Digital Advertising

Digunakan untuk menjangkau konsumen melalui mesin pencari, website, aplikasi, dan platform digital.

Social Media Advertising

Digunakan untuk menjangkau audiens melalui berbagai platform media sosial berdasarkan karakteristik dan perilaku pengguna.

Content Marketing

Berfokus pada pembuatan konten yang memberikan informasi sekaligus menarik calon pelanggan.

Influencer Marketing

Memanfaatkan kreator atau figur tertentu untuk memperkenalkan produk kepada audiens yang relevan.

Event dan Sponsorship

Digunakan untuk meningkatkan eksposur brand sekaligus membangun hubungan dengan konsumen.

Setiap saluran memiliki karakteristik dan biaya yang berbeda. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengukur performanya sebelum menentukan apakah anggarannya perlu ditambah atau dikurangi.

8. Mempertimbangkan Kondisi Persaingan

Persaingan di dalam industri juga dapat memengaruhi budget marketing.

Jika banyak perusahaan menawarkan produk yang sama, persaingan untuk mendapatkan perhatian konsumen akan semakin tinggi.

Perusahaan kemudian dapat menganalisis aktivitas kompetitor, seperti:

  • Jenis iklan yang digunakan.
  • Media pemasaran yang dipilih.
  • Penawaran promosi.
  • Target audiens.
  • Positioning brand.
  • Intensitas kampanye.

Namun, perusahaan tidak harus selalu mengikuti jumlah pengeluaran kompetitor.

Yang lebih penting adalah menemukan strategi yang mampu memberikan hasil terbaik berdasarkan kondisi perusahaan sendiri.

9. Menyesuaikan Budget dengan Tahap Pertumbuhan Bisnis

Kebutuhan marketing perusahaan dapat berubah seiring perkembangan bisnis.

Tahap Awal

Perusahaan biasanya membutuhkan marketing untuk memperkenalkan brand dan mendapatkan pelanggan pertama.

Tahap Pertumbuhan

Anggaran dapat ditingkatkan untuk memperluas pasar, meningkatkan penjualan, dan mendapatkan lebih banyak pelanggan.

Tahap Stabil

Perusahaan dapat lebih fokus pada efisiensi, mempertahankan pelanggan, membangun loyalitas, dan menjaga posisi brand.

Artinya, budget marketing tidak harus selalu meningkat setiap tahun. Anggaran harus disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan bisnis.

10. Melakukan Testing Sebelum Menambah Budget

Perusahaan besar biasanya tidak langsung menghabiskan seluruh anggaran untuk satu kampanye.

Mereka dapat melakukan pengujian terlebih dahulu.

Misalnya, perusahaan memiliki budget Rp500 juta. Sebagian dana digunakan untuk menguji beberapa variasi iklan berdasarkan:

  • Target audiens.
  • Headline.
  • Visual.
  • Copywriting.
  • Penawaran.
  • Platform.
  • Landing page.

Setelah mendapatkan data, perusahaan dapat melihat kombinasi mana yang menghasilkan performa terbaik.

Budget kemudian dapat dialihkan atau ditingkatkan pada kampanye yang memiliki potensi lebih besar.

Strategi ini membantu mengurangi risiko pemborosan anggaran.

11. Mengukur Return on Investment

Pada akhirnya, perusahaan perlu mengetahui apakah investasi marketing memberikan hasil yang sepadan.

Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah Return on Investment (ROI).

Secara sederhana:

ROI = (Keuntungan dari Investasi – Biaya Investasi) ÷ Biaya Investasi × 100%

Misalnya, perusahaan mengeluarkan Rp100 juta untuk sebuah kampanye dan memperoleh keuntungan Rp150 juta.

Maka:

ROI = (Rp150 juta – Rp100 juta) ÷ Rp100 juta × 100% = 50%

Semakin baik hasil yang diperoleh dibandingkan biaya yang dikeluarkan, semakin menarik investasi tersebut.

Namun, tidak semua aktivitas marketing dapat langsung diukur melalui penjualan. Kampanye branding, misalnya, dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap awareness dan persepsi konsumen.

Mengapa Perusahaan Besar Tidak Sekadar Menghabiskan Budget Besar?

Perusahaan besar memang memiliki kemampuan finansial yang lebih besar. Namun, bukan berarti mereka dapat menghabiskan anggaran marketing tanpa perhitungan.

Justru semakin besar budget yang digunakan, semakin penting proses pengukuran dan evaluasi.

Perusahaan perlu mengetahui:

Berapa uang yang dikeluarkan?

Berapa pelanggan yang diperoleh?

Berapa pendapatan yang dihasilkan?

Channel mana yang paling efektif?

Apakah kampanye tersebut masih layak untuk diperbesar?

Dengan pertanyaan tersebut, perusahaan dapat mengubah budget marketing dari sekadar biaya menjadi sebuah investasi yang dapat diukur.

Baca Juga: Analisis Kesalahan Marketing yang Pernah Dilakukan Perusahaan Besar

Kesimpulan

Menentukan budget marketing bukan hanya tentang menentukan berapa banyak uang yang akan digunakan untuk beriklan. Perusahaan besar biasanya mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari tujuan bisnis, target penjualan, Customer Acquisition Cost, Customer Lifetime Value, performa kampanye, kondisi persaingan, hingga Return on Investment.

Budget kemudian dibagi ke berbagai saluran pemasaran dan dievaluasi berdasarkan hasil yang diperoleh. Kampanye yang memberikan performa baik dapat mendapatkan tambahan anggaran, sedangkan kampanye yang tidak efektif dapat dikurangi atau dihentikan.

Pada akhirnya, keberhasilan marketing bukan ditentukan oleh seberapa besar budget yang dimiliki perusahaan, tetapi oleh seberapa efektif anggaran tersebut digunakan untuk mencapai tujuan bisnis.

Bahkan bisnis dengan budget terbatas dapat menerapkan prinsip yang sama. Tentukan tujuan, mulai dengan anggaran yang realistis, lakukan pengujian, ukur hasilnya, dan tingkatkan investasi pada strategi yang terbukti memberikan hasil.

Dengan pendekatan tersebut, setiap rupiah yang dikeluarkan untuk marketing memiliki tujuan yang lebih jelas dan dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan bisnis.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan