Iklans - Cara Menghitung #Break-Even ROAS Sebelum Menjalankan #Iklan - Menjalankan #iklan digital membutuhkan perhitungan yang matang. Mendapatkan banyak klik, tayangan, atau penjualan belum tentu berarti sebuah #kampanye iklan menguntungkan. Jika #biaya iklan terlalu besar dibandingkan margin keuntungan produk, #bisnis tetap bisa mengalami kerugian meskipun omzet terlihat tinggi.
Salah satu cara untuk mengetahui batas aman biaya iklan adalah dengan menghitung Break-Even ROAS. Perhitungan ini membantu pengiklan mengetahui berapa nilai ROAS minimum yang harus dicapai agar biaya iklan dapat tertutupi.
Baca Juga: Mengenal Share of Search sebagai Indikator Kekuatan Brand
Dengan mengetahui Break-Even ROAS sejak awal, pengiklan dapat menentukan target yang lebih realistis, mengevaluasi performa kampanye, dan menghindari pengeluaran iklan yang tidak sebanding dengan keuntungan.

ROAS atau Return on Ad Spend adalah metrik yang digunakan untuk mengukur pendapatan yang dihasilkan dari biaya iklan.
Rumus ROAS adalah:
ROAS = Pendapatan dari Iklan ÷ Biaya Iklan
Sebagai contoh, sebuah bisnis mengeluarkan biaya iklan sebesar Rp1.000.000 dan mendapatkan penjualan sebesar Rp4.000.000 dari iklan tersebut.
Maka:
ROAS = Rp4.000.000 ÷ Rp1.000.000 = 4
Artinya, setiap Rp1 yang dikeluarkan untuk iklan menghasilkan pendapatan sebesar Rp4.
Namun, ROAS tidak menunjukkan keuntungan bersih secara langsung. Masih terdapat biaya lain seperti harga pokok produk, komisi marketplace, biaya transaksi, kemasan, dan biaya variabel lainnya.
Karena itu, ROAS perlu dibandingkan dengan margin bisnis untuk mengetahui apakah kampanye benar-benar menguntungkan.
Break-Even ROAS adalah nilai ROAS minimum yang diperlukan agar pendapatan dari penjualan dapat menutupi biaya iklan berdasarkan margin kontribusi yang tersedia.
Pada titik ini, bisnis berada pada kondisi impas atau break-even. Artinya, setelah memperhitungkan biaya variabel dan iklan, belum terdapat keuntungan maupun kerugian dari transaksi tersebut.
Break-Even ROAS dapat digunakan sebagai batas minimum dalam mengevaluasi kampanye.
Misalnya, sebuah bisnis memiliki Break-Even ROAS sebesar 4.
Jika kampanye menghasilkan:
Semakin tinggi ROAS dibandingkan Break-Even ROAS, semakin besar ruang yang tersedia untuk menghasilkan keuntungan, dengan catatan biaya lain yang relevan juga sudah diperhitungkan.
Rumus sederhananya adalah:
Break-Even ROAS = 1 ÷ Margin Kontribusi
Margin kontribusi harus ditulis dalam bentuk desimal ketika digunakan dalam rumus.
Contohnya, jika margin kontribusi adalah 25%:
Break-Even ROAS = 1 ÷ 0,25 = 4
Jadi, bisnis membutuhkan ROAS minimal 4 untuk mencapai titik impas berdasarkan asumsi margin tersebut.
Sebelum menghitung Break-Even ROAS, tentukan terlebih dahulu margin kontribusi.
Rumusnya:
Margin Kontribusi = (Pendapatan - Biaya Variabel) ÷ Pendapatan
Biaya variabel adalah biaya yang berubah mengikuti jumlah penjualan atau transaksi.
Beberapa contoh biaya yang dapat diperhitungkan antara lain:
Perhitungan ini perlu disesuaikan dengan model bisnis masing-masing.
Misalnya sebuah toko menjual produk dengan harga Rp100.000.
Biaya yang berkaitan dengan setiap penjualan adalah:
Total biaya variabel:
Rp50.000 + Rp5.000 + Rp5.000 + Rp10.000 = Rp70.000
Maka sisa pendapatan sebelum biaya iklan:
Rp100.000 - Rp70.000 = Rp30.000
Margin kontribusinya:
Rp30.000 ÷ Rp100.000 = 30%
Selanjutnya:
Break-Even ROAS = 1 ÷ 0,30
Break-Even ROAS = 3,33
Jadi, bisnis tersebut membutuhkan ROAS sekitar 3,33 untuk mencapai titik impas berdasarkan biaya yang telah diperhitungkan.
Jika ROAS kampanye hanya 2,5, performanya masih berada di bawah titik impas. Jika ROAS mencapai 4, kampanye sudah berada di atas Break-Even ROAS.
Baca Juga: Apa Itu Share of Voice dalam Periklanan dan Mengapa Penting?
Sekarang anggap sebuah produk memiliki margin kontribusi hanya 20%.
Maka:
Break-Even ROAS = 1 ÷ 0,20 = 5
Artinya, bisnis membutuhkan ROAS minimal 5 untuk mencapai titik impas.
Hal ini menunjukkan hubungan penting antara margin dan Break-Even ROAS:
Semakin kecil margin, semakin tinggi ROAS yang dibutuhkan.
Sebaliknya:
Semakin besar margin, semakin rendah Break-Even ROAS.
Berikut gambaran sederhananya:
| Margin Kontribusi | Break-Even ROAS |
|---|---|
| 10% | 10 |
| 20% | 5 |
| 25% | 4 |
| 30% | 3,33 |
| 40% | 2,5 |
| 50% | 2 |
| 60% | 1,67 |
| 70% | 1,43 |
| 80% | 1,25 |
Break-Even ROAS dan Target ROAS merupakan dua hal yang berbeda.
Break-Even ROAS menunjukkan batas minimum untuk mencapai kondisi impas.
Sementara itu, Target ROAS merupakan angka yang ingin dicapai bisnis berdasarkan tujuan keuntungan atau pertumbuhan yang ditetapkan.
Misalnya:
Jika kampanye mendapatkan ROAS 3, kampanye mungkin sudah mencapai titik impas. Namun, performanya belum tentu memenuhi target keuntungan bisnis.
Karena itu, pengiklan sebaiknya tidak menjadikan Break-Even ROAS sebagai target akhir. Angka tersebut lebih tepat digunakan sebagai batas evaluasi minimum.
Menghitung Break-Even ROAS sebelum membuat kampanye memiliki beberapa manfaat.
Pengiklan dapat mengetahui kapan sebuah kampanye berada dalam kondisi yang layak atau tidak berdasarkan margin bisnis.
Tanpa angka tersebut, keputusan sering kali hanya berdasarkan asumsi seperti "ROAS 3 sudah bagus" atau "ROAS 5 pasti menguntungkan".
Padahal, setiap bisnis memiliki margin yang berbeda.
Setelah mengetahui Break-Even ROAS, pengiklan dapat menentukan target yang lebih masuk akal.
Misalnya Break-Even ROAS adalah 3. Target kemudian dapat ditetapkan pada angka 4 atau 5 sesuai dengan tujuan bisnis.
Perhitungan ini dapat membantu mencegah pengiklan terus meningkatkan anggaran pada kampanye yang sebenarnya tidak menghasilkan keuntungan.
Jika Break-Even ROAS terlalu tinggi, masalahnya belum tentu berasal dari iklan.
Bisa jadi margin produk memang terlalu kecil untuk mendukung strategi paid advertising.
Dalam kondisi seperti ini, bisnis mungkin perlu mengevaluasi harga, biaya produk, biaya operasional, atau struktur penawarannya.
Ketika ROAS berada di bawah Break-Even ROAS, jangan langsung menyimpulkan bahwa kampanye harus dihentikan.
Lakukan evaluasi terlebih dahulu.
Jika banyak orang mengklik iklan tetapi sedikit yang melakukan pembelian, masalah mungkin berada pada halaman produk atau proses pembelian.
Beberapa hal yang dapat diperiksa:
Biaya per klik atau biaya untuk mendapatkan pelanggan mungkin terlalu tinggi.
Pengiklan dapat menguji:
Materi iklan yang kurang menarik atau tidak relevan dapat menghasilkan banyak tayangan tetapi sedikit konversi.
Cobalah membandingkan beberapa variasi:
Jika margin terlalu kecil, meningkatkan performa iklan saja mungkin tidak cukup.
Contohnya, produk dengan margin kontribusi 10% membutuhkan Break-Even ROAS sebesar 10.
Target seperti ini bisa jauh lebih sulit dicapai dibandingkan produk dengan margin 40%, yang memiliki Break-Even ROAS hanya 2,5.
Ada beberapa kesalahan yang sering terjadi ketika menggunakan ROAS sebagai dasar pengambilan keputusan.
Penjualan Rp10 juta dari iklan Rp2 juta memang menghasilkan ROAS 5.
Namun, angka tersebut belum menunjukkan keuntungan sebenarnya.
Jika margin produk sangat rendah, ROAS 5 bahkan bisa belum cukup untuk mencapai titik impas.
Biaya produk, komisi marketplace, biaya transaksi, dan biaya lainnya dapat memengaruhi margin.
Jika biaya tersebut diabaikan, Break-Even ROAS yang dihitung bisa terlalu rendah dan menghasilkan keputusan yang keliru.
ROAS tinggi memang merupakan sinyal positif, tetapi tetap harus dibandingkan dengan Break-Even ROAS dan tujuan bisnis.
ROAS 3 mungkin sangat bagus untuk bisnis dengan Break-Even ROAS 2.
Namun, ROAS 3 belum cukup untuk bisnis yang memiliki Break-Even ROAS 5.
Setiap produk dapat memiliki harga, margin, dan biaya yang berbeda.
Karena itu, Break-Even ROAS sebaiknya dihitung berdasarkan struktur biaya masing-masing produk atau kategori jika perbedaannya cukup besar.
Setelah kampanye berjalan, bandingkan ROAS aktual dengan Break-Even ROAS.
Contohnya:
Break-Even ROAS = 3,33
| ROAS Aktual | Evaluasi |
|---|---|
| 2 | Di bawah titik impas |
| 2,5 | Masih di bawah titik impas |
| 3,33 | Titik impas |
| 4 | Di atas titik impas |
| 5 | Performa lebih baik |
| 6 | Jauh di atas titik impas |
Namun, jangan hanya menggunakan ROAS sebagai satu-satunya dasar keputusan.
Pertimbangkan juga:
Dengan demikian, evaluasi kampanye menjadi lebih menyeluruh.
Baca Juga: Mengubah Satu Artikel Menjadi Banyak Konten Digital
Break-Even ROAS merupakan salah satu perhitungan penting yang sebaiknya dilakukan sebelum menjalankan iklan digital. Angka ini membantu pengiklan mengetahui berapa ROAS minimum yang dibutuhkan agar biaya iklan dapat ditanggung berdasarkan margin kontribusi yang tersedia.
Rumus sederhananya adalah:
Break-Even ROAS = 1 ÷ Margin Kontribusi
Sebagai contoh, jika margin kontribusi sebuah produk adalah 25%, maka Break-Even ROAS-nya adalah 4.
Artinya, kampanye perlu menghasilkan ROAS minimal 4 untuk mencapai titik impas berdasarkan asumsi biaya yang digunakan dalam perhitungan.
Meski demikian, Break-Even ROAS bukan berarti target keuntungan. Pengiklan tetap perlu menetapkan Target ROAS yang lebih sesuai dengan tujuan bisnis.
Dengan menghitung Break-Even ROAS sejak awal, keputusan mengenai anggaran iklan, target performa, dan optimasi kampanye dapat dilakukan dengan lebih terukur. Hal ini juga membantu bisnis menghindari situasi ketika omzet terlihat besar, tetapi keuntungan sebenarnya sangat kecil atau bahkan negatif.