Iklans

07 Nov
Periklanan
69 views
0 Comments

Mengapa Humor Kembali Jadi Strategi Iklan Efektif di 2025

#Iklans – Mengapa #Humor Kembali Jadi #Strategi Iklan Efektif di 2025 – Di era #digital yang serba cepat dan penuh informasi, perhatian konsumen menjadi komoditas paling berharga. Setiap hari, masyarakat dibombardir oleh ribuan konten dan #iklan di berbagai platform. Namun, di tengah kebisingan itu, muncul satu pendekatan klasik yang kembali mendapat tempat istimewa di dunia #pemasaran modern: humor.

Baca Juga: Kreativitas Lokal: Iklan Brand Indonesia yang Sukses Go Global

Tahun 2025 menandai kebangkitan strategi iklan berbasis humor yang tak hanya mengundang tawa, tetapi juga membangun koneksi emosional antara merek dan audiens. Humor kini bukan sekadar hiburan, melainkan alat komunikasi efektif yang mampu menembus batas kejenuhan digital.

Mengapa Humor Kembali Jadi Strategi Iklan Efektif di 2025

1. Kelelahan Digital Membuka Peluang Baru

Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena digital fatigue atau kelelahan digital menjadi tantangan besar bagi dunia periklanan. Konsumen merasa jenuh dengan pesan-pesan yang terlalu serius, penuh promosi, atau emosional berlebihan.

Humor hadir sebagai solusi alami yang mampu menyegarkan suasana. Sebuah iklan yang lucu, ringan, dan relatable memberikan jeda emosional bagi audiens. Riset dari HubSpot (2024) bahkan menunjukkan bahwa 73% konsumen lebih mudah mengingat merek yang menggunakan pendekatan humor dibanding iklan dengan nada serius.

Humor menciptakan rasa lega, keakraban, dan perasaan positif. Ketika seseorang tertawa, ia secara tidak sadar membuka diri terhadap pesan yang disampaikan. Di sinilah kekuatan humor bekerja: bukan sekadar membuat orang tertawa, tetapi membangun kedekatan emosional antara brand dan audiens.


2. Generasi Z dan Alpha Mengubah Cara Iklan Berbicara

Dua generasi yang kini mendominasi dunia digital — Generasi Z dan Alpha — tumbuh di lingkungan yang penuh kreativitas, kecepatan, dan spontanitas. Mereka lebih menyukai komunikasi yang ringan, otentik, dan tidak kaku.

Iklan yang terasa formal atau terlalu “jualan” justru mudah diabaikan. Sebaliknya, konten yang mengandung humor cerdas, parodi kehidupan sehari-hari, atau sindiran ringan terhadap tren sosial lebih mudah menarik perhatian.

Contohnya, kampanye “SnackTime Confessions” dari sebuah merek makanan ringan sukses viral karena memparodikan gaya reality show pengakuan dosa dengan humor jenaka. Begitu pula dengan kampanye “Bank Tapi Santai” milik perusahaan fintech yang memotret kehidupan anak kos dengan gaya komedi ringan — hasilnya, engagement naik hingga lima kali lipat dibanding kampanye konvensional.

Kedua contoh ini menunjukkan bahwa humor tidak hanya membuat pesan iklan menarik, tetapi juga membangun citra merek yang dekat dan relevan dengan gaya hidup generasi muda.

Baca Juga: Evolusi Visual Iklan: Dari Banner ke Immersive Ads

3. Algoritma Media Sosial Menyukai Humor

Tak dapat dipungkiri, algoritma kini menjadi “penentu nasib” konten di media sosial. Platform seperti TikTok, Instagram, dan X (Twitter) semakin memprioritaskan konten yang menimbulkan reaksi emosional positif.

Humor menjadi senjata ampuh karena mendorong pengguna untuk berinteraksi — dengan like, komentar, atau share. Semakin tinggi interaksi, semakin besar peluang konten muncul di feed pengguna lain.
Artinya, humor tidak hanya efektif dari sisi komunikasi, tetapi juga menguntungkan secara algoritmik.

Dengan kata lain, iklan yang lucu memiliki peluang lebih besar untuk viral secara organik tanpa biaya promosi besar. Di era ketika biaya iklan berbayar terus meningkat, humor menjadi strategi efisien dan berdampak luas.


4. Humor Meningkatkan Daya Ingat dan Rekomendasi

Dari sisi psikologi komunikasi, humor memicu aktivitas pada bagian otak yang berhubungan dengan emosi dan memori jangka panjang. Menurut Advertising Research Foundation (2023), iklan lucu memiliki brand recall 40% lebih tinggi dibandingkan iklan biasa.

Ketika seseorang tertawa karena iklan, ia cenderung mengingat merek di baliknya. Bahkan, humor juga memperkuat word-of-mouth marketing — orang lebih suka membagikan sesuatu yang lucu daripada sekadar promosi produk.

Sebagai contoh, sebuah brand skincare yang membuat meme lucu tentang “drama kulit berminyak saat wawancara kerja” bisa mendapatkan ribuan share tanpa mengeluarkan biaya tambahan. Inilah bentuk pemasaran organik yang sulit dicapai dengan pendekatan konvensional.


5. Evolusi Humor: Dari Lucu ke Cerdas dan Kontekstual

Humor dalam iklan masa kini tidak lagi sekadar lelucon dangkal atau komedi slapstick. Di tahun 2025, humor berkembang menjadi cerminan kecerdasan sosial dan konteks budaya.

Brand besar kini mengandalkan data dan social listening untuk memahami tren dan percakapan publik, lalu mengubahnya menjadi humor yang relevan.
Misalnya, sebuah kampanye energi terbarukan yang memparodikan film fiksi ilmiah bertema “planet yang kehabisan colokan listrik” sukses karena menyentuh isu nyata tentang ketergantungan energi dengan cara ringan dan menghibur.

Humor yang berhasil adalah humor yang mengajak tertawa bersama, bukan menertawakan pihak lain. Brand yang memahami batas etika dan sensitivitas sosial akan mendapatkan simpati publik dan citra positif yang tahan lama.


6. Kecerdasan Buatan (AI) Membantu Menciptakan Humor yang Tepat

Peran AI (Artificial Intelligence) semakin penting dalam dunia periklanan modern. Kini, banyak agensi memanfaatkan AI Humor Testing Tool untuk menganalisis reaksi audiens terhadap berbagai jenis lelucon sebelum kampanye diluncurkan.

Teknologi ini memungkinkan pengiklan menyesuaikan gaya humor berdasarkan segmentasi audiens — apakah lebih cocok dengan humor sarkastik, ironi ringan, atau situasi absurd.
Dengan pendekatan ini, humor menjadi strategi yang terukur, bukan lagi pertaruhan subjektif semata.

Selain itu, AI juga membantu menghasilkan ide kreatif dengan menggabungkan tren viral, gaya bahasa khas platform, dan perilaku pengguna secara real time.
Hasilnya, iklan yang lucu terasa lebih natural dan relevan dengan konteks sosial saat ini.

Baca Juga: Dark Social Marketing: Menjangkau Audiens di Chat Pribadi dan Komunitas Tertutup

7. Humor: Strategi Emosional di Tengah Kepenatan Dunia Digital

Pada akhirnya, kebangkitan humor dalam strategi iklan bukan sekadar tren sesaat. Ia adalah refleksi dari kebutuhan manusia akan kelegaan, keakraban, dan koneksi emosional di tengah dunia digital yang semakin intens.

Humor membuat merek terasa manusiawi. Ia menembus jarak antara penjual dan pembeli, antara pesan dan perasaan.
Dalam iklim pemasaran yang semakin kompetitif, merek yang mampu membuat audiens tertawa memiliki peluang lebih besar untuk diingat, disukai, dan direkomendasikan.

Tahun 2025 menjadi bukti bahwa tawa masih menjadi bahasa universal — dan dalam periklanan, bahasa ini kini menjadi strategi paling ampuh untuk menaklukkan hati konsumen.

Tags: , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan